Tag

, , , , , , , ,

Polygon Xtrada 4.0

Roda-roda sepeda...

Foto di atas bukan iklan sepeda lho ya… numpang nongol tampang aja, mumpung lagi bersih sehabis dimandikan selepas melahap trek Cibubur – Cibinong hari Sabtu pagi yang cerah.

Kegiatan bersepeda membuat saya makin merasakan kondisi jalan yang selama ini tidak terlalu saya perhatikan dari belakang kemudi mobil. Tanjakan kecil, turunan kecil, tanjakan panjang, jalanan becek, dan hal-hal kecil lainnya menjadi faktor pertimbangan dalam pengambilan keputusan mencari rute bersepeda… hal-hal mana tidak saya pusingkan ketika berkendara dengan mobil.

Karena setiap putaran roda merupakan hasil langsung dari gerak otot dan jerih payah saya, maka terasa sekali bahwa setiap putaran roda tersebut haruslah seringan dan senyaman mungkin. Seperti halnya di setiap persimpangan, masing-masing arah yang kita tempuh memberikan konsekuensi yang berbeda. Tanjakan yang berbeda, kondisi jalanan yang berbeda pula.

Which way to go???

Sambil ngos-ngosan setelah 2 kali melahap tanjakan gila di perumahan Cimanggis Golf Residence (2 kali karena harus balik lagi jemput rekan yang kram), saya jadi berpikir kok hidup ini ada kemiripannya dengan kita bersepeda… atau lebih tepatnya dengan roda sepeda.

Banyak orang dari jaman dulu bilang, HIDUP ITU IBARAT RODA – KADANG DI ATAS KADANG DI BAWAH.

Memang benar, namanya siklus kehidupan memang kadang kita berada di atas (kaya, menang, bahagia, sukses, untung…) tetapi seringkali juga kita berada di bawah (miskin, sakit, kalah, sedih, gagal, musibah…). Seperti siklus sinusoidal kali ya… :)

Akan tetapi, pemahaman HIDUP ITU IBARAT RODA saya pikir kok terlalu pasif ya… alias menerima saja keberadaan di atas dan di bawah sebagai sebuah siklus. Lebih jauh lagi saya melihat, kalau memang benar hidup itu ibarat roda kenapa ada orang yang dari lahir sampai mati miskin terus… ada pula yang kaya raya sejak nenek buyutnya hingga anak cucunya.

Saya jadi terpikir kembali ke roda sepeda… coba lihat di foto ini (narsis sedikit nggak papa ya, but that’s not the point):

Berlatarbelakang Cibinong

numpang majang foto ya kawan-kawan…

Saya lihat itu roda sepeda saya berada di ketinggian, sementara di latar belakang terlihat dataran yang jauh lebih rendah. Saya yakin di sana banyak juga roda-roda lain berputar juga.

Pertanyaan yang muncul di benak saya:

  • Serendah-rendahnya putaran roda saya, pasti masih lebih tinggi dibandingkan dengan setinggi-tingginya putaran roda di bawah sana…
  • Sepeda yang ada di pantai/dataran rendah, mau jungkir balik kayak gimanapun masih akan lebih rendah dibandingkan sepeda yang ada di gunung…

Menyadari hal itu, semakin terasa ketidakberdayaan saya di dunia ini. Semakin kecil ruang gerak yang diijinkan alam semesta ini bagi saya untuk bermanuver.

Tapi kalau dikembalikan lagi kepada keberadaan bahwa yang namanya keindahan di dunia ini bukanlah materi semata, saya jadi sadar kembali bahwa keberadaan “gunung dan pantai” itu tadi bukan hanya dari sisi miskin dan kaya…

Saya jadi terbayang seorang bijak yang tertimpa bencana tetapi tetap menghadapinya dengan penuh rasa syukur, barangkali itulah yang dinamakan roda sepeda sedang berputar di bawah tetapi seorang bijak adalah seorang yang bersepeda di pegunungan tinggi. Sebaliknya, di antara gelimang harta – wanita – dan ketenaran tetapi hidup terasa hampa karena terus menerus dihantui ketakutan akan kehilangan segalanya maka itulah yang dinamakan roda sepeda sedang berputar di atas tetapi orang itu sedang bersepeda barangkali di pantai berbatu…

Kata orang: hidup itu bagaikan roda berputar, kadang di atas kadang di bawah.

Kata saya: kalau mau di atas terus, kita harus bersepeda di pegunungan… he he he…

Barangkali… hanya barangkali lho ya…

Salam damai…

About these ads