Sudah cukup lama tidak nonton wayang, kali ini saya nonton pagelaran Wayang Orang di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Adapun “lelakon” alias judul dari cerita yang dimainkan malam itu adalah PETROEK NGIMPI - diadaptasi dari kisah Mahabarata versi Jawa yang episode aslinya berjudul “SEMAR MBANGUN KAYANGAN”.
.
.
Gamelan mulai ditabuh pelan, gendhing-gendhing mulai mengalun menandakan pentas wayang orang akan segera dimainkan. Tirai merah mulai disingkap, panggung berlatarbelakang kain hitam masih agak gelap. Perlahan lampu sorot dinaikkan intensitasnya, irama gamelan makin keras dimainkan… penontonpun mulai bertepuktangan menyambut naiknya para punakawan yang jenaka. Gareng, Petruk, Bagong, dan anak-anaknya mulai menguasai panggung malam itu.
.
.
Sajian lelakon Petroek Ngimpi atau Semar Mbangun Kayangan ini menceritakan “pemberontakan” dari para punakawan – yaitu para pengasuh ksatria Pandawa terhadap para petingginya (dalam hal ini para ksatria dan dewa-dewa). Dengan sedikit-sedikit menyinggung masalah di negeri ini, akhirnya “pemberontakan” para punakawan inipun didukung oleh para ksatria Pandawa untuk mengingatkan para dewa di kayangan akan fungsi dan tanggungjawabnya.
Salah satu tokoh yang menjadi sentral dalam cerita ini sebenarnya adalah SEMAR alias BADRANAYA, sang dewa yang mengambil wujud seorang hamba dengan rupa fisik yang sangatlah apa adanya. Akan tetapi dalam kesederhanaannya tersebut tersimpan kekuatan yang maha dahsyat, hingga para dewapun takluk kepadanya.
.
.
Terkisah sebelum didapatnya dukungan dari para “pepunden”nya atau ksatria Pandawa yang diasuhnya, para punakawan terlebih dahulu harus berjuang jiwa dan raga untuk memperoleh dukungan itu. Tak tanggung-tanggung, untuk mewujudkan kayangan baru, para punakawan meminjam beberapa pusaka wasiat para Pandawa.
Tak ayal lagi, temperamen sang Bima langsung naik dan menghajar para punakawan yang sudah membesarkan dan mengasuh mereka dari kecil hingga dewasa dan berkuasa.
.
.
Tak kuasa menahan amukan para Pandawa dan putra Pandawa, akhirnya Punakawan dibantu secara magis oleh Wisanggeni – putra Arjuna. Siapa adanya Wisanggeni ini tidak ada dalam kisah Mahabarata aslinya, karena merupakan tokoh tambahan dalam versi Jawa. Dikisahkan bahwa kesaktian Wisanggeni ini mengalahkan ayahnya – Arjuna, bahkan para Pandawa sekalian. Pada perang Bharatayuda, Wisanggeni tidak ikut dalam peperangan walaupun kesaktiannya sangatlah tinggi. Karena para Dewa tidak mengijinkannya ikut peperangan, bahkan kalau Wisanggeni turut berperang maka Pandawa akan kalah maka Wisanggeni mengorbankan dirinya untuk moksa – diangkat ke surga. Dengan ciri khas nuansa merah pada bajunya melambangkan api (Wisanggeni = racun api), Wisanggeni merupakan sebuah karakter tokoh yang cukup enigmatik di pentas Mahabarata versi Jawa…
.
.
.
Tidak terima dengan adanya Semar membangun Kayangan, dianggap mau menyaingi para dewata di kayangan… maka para Dewa bermufakat untuk menggagalkan rancangan tersebut dengan menurunkan bala tentara raksasanya pimpinan Batari Durga.
.
.
Namun lagi-lagi kisah wayang kembali memberikan pesan bahwa yang benar akan menang. Walaupun raksasa-raksasa itu kiriman dewa, mereka bisa dikalahkan oleh para barisan Pandawa. Bahkan Arjuna dan Kresna yang diberikan kesaktian oleh para dewa untuk mengalahkan para punakawanpun bukanlah tandingan bagi sang Semar Badranaya.
.
.
.
Dan akhirnya kekuasaanpun kembali ke tangan yang empunya, yaitu RAKYAT…
.
Wayang orang BHARATA, sedikit dari perkumpulan wayang orang yang masih eksis mempertahankan kebudayaan bangsa kita di era modern ini.
Rasanya perlu bagi kita sekali-sekali menyempatkan diri menikmati pentas wayang orang, sebagai hiburan yang penuh pesan moral yang adiluhung.
— website Wayang Orang Bharata —
Salam damai…
















Menarik sekali ceritanya, foto-fotonya bagus, jadi pengen ngeliat pentas wayang yang dulu sering ditayangkan di TVRI
terima kasih, semoga bisa tetap langgeng nih budaya yang satu ini…
salam damai.
suka gambarnya om…
izin menyimpan ya..
sedj
terima kasih… monggo kalau mau disimpan gambarnya.
kalau mau dipublish juga boleh, di-note aja sumbernya
salam damai…
Luar biasa… saya salut dan angkat topi kepada grop WO Bharata, saya salah satu penggemar seni jawa khususnya wayang orang dan wayang kulit. saya pernah tinggal di Jl. Kartini setiap malam minggu nonton bharata. Setelah saya punya anak, anak2 saya saya perkenalkan da seni jawa di Bharata….kini anak saya yg perempuan ingin belajar seni tari di Bharata u melestarikan budaya jawa…bagaimana caranya…belum kesampaian…anak saya naih terus. terima kasih Bharata…Selamat bertahan…dan berkembang…amin. Ponirin tangerang.
setuju mas… semoga kebudayaan kita terus bisa eksis dan berkembang serasi dengan jaman.
salam damai.