Menghukum dengan Kasih…

Hari ini ada seorang anak yang dengan lapang dada menerima kenyataan harus menjalani pelajaran di sekolah dan ekskul hingga sore hari tanpa uang saku. Kenyataan pahit itu didapatkannya sebagai konsekuensi penuh dari pilihan yang diambilnya pada sore hari kemarinnya. Dengan kesadaran seorang anak, dia memilih untuk tidak tidur siang yang mana selalu diminta untuk dilakukan oleh orangtuanya.

Dengan metode pendekatan yang menempatkan anak sebagai rekan bicara yang sejajar, sang orangtua selalu menekankan pentingnya tidur siang untuk perkembangan sel-sel dalam otaknya. Sang anakpun dengan pemikirannya yang terbuka memahami hal tersebut. Atas dasar kesamaan pemahaman tersebut dibuatlah kesepakatann apabila tidak tidur siang, maka keesokan harinya tidak akan dapat uang saku.

Pagi tadi ketika sang anak akan berangkat ke sekolah, sang Ayah dengan iba mengingatkan kembali kepada sang Anak akan tiadanya uang saku untuk hari itu. Dengan penuh kedewasaan sang Anakpun mengangguk dengan taat. Karena hari itu ada ekskul tae kwon do hingga sore hari, maka sang anakpun menyiapkan nasi, roti, dan 2 botol air minum sebagai bekalnya. Melihat hal tersebut sang Ayahpun tersentuh, tidak hanya iba yang dirasakannya tetapi berkembang menuju rasa kagum.

Ah anakku, engkau sudah semakin dewasa…

Maafkan, kali ini aku harus menghukummu…

Menghukum dengan kasih…

Salam damai…

Tentang wisatajiwa

ordinary man living an ordinary life in an ordinary world
This entry was posted in Hidup sehari-hari, Keluarga and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s