::: WISATA JIWA :::

…memaknai pengembaraan jiwa di dunia…

Latah, ikut-ikutan, atau memang tahu dan peduli?

Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah

Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto

 

Saya yakin bahwa tulisan di atas tentang gerakan 1 juta facebookers untuk mendukung Chandra dan Bibit sudah sangat Anda kenal melalui Facebook hingga running text di Metro TV yang selalu updated setiap jamnya.

Sama sekali bukan ingin mengatakan hal tersebut baik atau tidak, apalagi benar atau tidak. Lha siapa saya berhak menghakimi kebenaran sementara hakim-hakim agung saja belum tuntas dan lagi pusing menentukan siapa yang benar – siapa yang salah kecil – siapa yang salah besar – siapa yang biangnya salah.

Coba kalau dilakukan jajak pendapat dari 900 ribu lebih orang yang join gerakan itu (sampai tanggal 6 November 2009 pagi jumlahnya 921 ribuan), ditanyakan ke mereka:

  1. bagaimana sih duduk perkaranya masalah ini?
  2. kronologisnya seperti apa?
  3. siapa saja tokoh yang terlibat?
  4. pertanyaan utama: seberapa yakin bahwa yang Anda dukung itu benar adanya?

Syukurlah kalau ternyata sebagian besar menjawab dengan positif keempat pertanyaan di atas.

Mudah-mudahan rekan-rekan, saudara-saudara yang join gerakan tersebut bukan masuk kategori ikut-ikutan, latah, tahu setengah-setengah dan biar rame saja.  Semoga saja sih tidak, tapi saya agak khawatir adanya konsentrasi massa yang cukup besar bisa mereduksi obyektivitas para pengambil keputusan.

Untuk Pak Bibit dan Pak Chandra, semoga kebenaran terungkap demi Indonesia yang lebih  baik.

INDONESIA UNITE!!! FOR A BETTER INDONESIA!!!

Salam damai…

November 6, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta | , , , , , , | & Komentar

Rest in peace PROF GULARDI WIGNJOSASTRO

PROF GULARDI WIGNJOSASTRO

PROF GULARDI WIGNJOSASTRO

Baca koran Sabtu atau Minggu kemarin, ada Obituary. Baca punya baca, ternyata bukanlah seorang yang asing bagi saya nama yang tercantum dalam Obituary tersebut.

….

*****

REST IN PEACE

PROF. dr. GULARDI WIGNJOSASTRO, SpOG

*****

….

Bagi saya, beliau bukan hanya sekedar dokter SpOG yang membantu proses kelahiran anak-anak saya. Lebih dari itu, saya mengagumi beliau akan prinsip-prinsip yang dipegangnya dengan teguh di era modern dan komersial ini.

  1. Beliau merupakan satu dari sedikit dokter kandungan di masa kini yang masih semaksimal mungkin mengusahakan kelahiran normal dan menjadikan bedah caesar sebagai opsi terakhir, betul-betul terakhir. Saya masih ingat ketika proses kelahiran anak saya, ada dokter pengganti yang melirik untuk beralih ke bedah caesar tetapi setelah diberitahu oleh suster bahwa isteri saya adalah pasien Prof Gulardi maka dia kembali berfokus untuk tetap pada jalur kelahiran normal sambil menunggu kedatangan Prof Gulardi yang waktu itu masih dalam perjalanan.
  2. Bahwa pada dasarnya proses melahirkan adalah sesuatu yang alami, begitu pula symptom dan reaksi yang dialami sang ibu pra dan pasca melahirkan adalah sesuatu yang normal bagi manusia / seorang ibu. Alih-alih memberikan resep obat ini dan itu untuk mengobati atau mengurangi berbagai ketidaknyamanan selama proses pra dan pasca melahirkan, Prof Gulardi selalu menjawab dengan senyum dan sebaris kalimat, “Santai, gak papa… dilawan aja…” bagi hampir setiap keluhan yang diutarakan kepadanya. Pernah suatu kali ada suster jaga kepala yang baru ganti shift, dia keliling di paviliun tempat isteri saya beristirahat. Ketika dia mendapati isteri saya agak sedikit merasa tidak nyaman, dia bertanya setengah menegur kepada suster jaga kenapa isteri saya tidak diberi obat A, B dan C. Setelah suster kepala tersebut dibisiki bahwa isteri saya adalah pasien Prof Gulardi, diapun menyarankan kepada isteri saya untuk tetap melawan semua rasa tersebut dan tidak jadi memberikan obat-obatan tersebut.
  3. Hubungan pasien dan dokter adalah lebih dari sekedar proses pemberian jasa dan penerimaan biaya jasa. Sepertinya urusan materi bukanlah menjadi hal yang diperhatikan Prof Gulardi. Pada praktek di rumahnya, tarif yang dikenakan sangatlah “ramah”. Apalagi mengingat beliau adalah dokter spesialis yang cukup ternama. Ketika praktek di rumah sakitpun, seringkali untuk sekedar konsultasi hasil Laboratorium atau keluhan ringan kami hanyalah dikenakan tarif administrasi sebagai kewajiban kepada rumah sakit saja.

Saya yakin, masih banyak dokter-dokter yang memiliki idealisme tinggi seperti Prof Gulardi di Indonesia. Semoga semua karya beliau selama hidup menginspirasi dokter-dokter lain untuk tetap menjunjung tinggi kode etik kedokteran.

Selamat jalan PROF GULARDI, beristirahatlah dengan tenang…

Salam damai…

Oktober 5, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Indonesia tercinta | , , , | & Komentar

Kangen Yogyakarta…

Menjelang Lebaran, orang-orang pada ramai mempersiapkan MUDIK.

Berhubung saya sendiri tidak merayakan Lebaran, apalagi anak saya yang bungsu masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh maka saya hanya bisa menunggui Jakarta yang monoton ini dengan hati ceria. Tanpa tambah cuti, jadilah hari-hari sekitar Lebaran nanti saya menghiasi kantor yang sepi.

Ngomong tentang mudik, orang sudah pada sibuk ngomong tentang kota-kota di daerah yang menjadi tujuan masing-masing. Pada saat ini, saya sendiri lagi kangen dengan hangatnya suasana kota Yogyakarta.

“Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna…”

Untuk kali ini, biarlah saya menikmati Yogyakarta melalui bingkai foto saja…

Ah betapa saya kangen dengan indahnya pagelaran Ramayana di Candi Prambanan

Sendratari Ramayana - Candi Prambanan

Sendratari Ramayana - Candi Prambanan

Ah betapa saya kangen minum wedang ronde di ujung jalan Malioboro

Wedang Ronde Malioboro

Wedang Ronde Malioboro

Ah betapa saya kangen cerita “ngalor ngidul” dengan simbok penjual gudeg di Beringharjo

Gudeg Pasar Beringharjo

Gudeg Pasar Beringharjo

Ah betapa saya kangen melihat riangnya anak-anak main bola di pelataran Candi Boko

Candi Boko Yogyakarta

Candi Boko Yogyakarta

Ah betapa saya kangen naik becak menyusuri jalanan Yogyakarta

Becak di perempatan BI Yogyakarta

Becak di perempatan BI Yogyakarta

Ah betapa saya kangen menyaksikan pengabdian mereka-mereka ini…

Para abdi dalem keraton

Para abdi dalem keraton

Ah betapa saya kangen keramahan dan kelemahlembutan Yogyakarta

Dewi Shinta

Dewi Shinta

Yogyakarta, tidak pernah bosan-bosannya saya kunjungi dan saya eksplorasi.

Saya yakin, kita BISA… sekali lagi KITA BISA menjadikan YOGYAKARTA tujuan wisata utama di Asia Tenggara ini.

Salam damai.

September 1, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Indonesia tercinta, jalan-jalan | , , , , , , , | & Komentar

LASKAR PELANGI versi Digital

LASKAR PELANGI

LASKAR PELANGI

Masih cukup hangat rasanya, ingatan kita akan film fenomenal LASKAR PELANGI yang mengguncang dunia perfilman Indonesia dengan mengangkat tema pendidikan di tengah derasnya arus pornografi dan pocong-gafi di film Indonesia. Sekali lagi, salut untuk seluruh tim Laskar Pelangi.

Terus terang, dalam film Laskar Pelangi saya paling tersentuh oleh tokoh LINTANG (walaupun saya sebenarnya agak sebal kenapa namanya sama dengan anak saya, jadi dipikir saya ikut-ikutan).

LINTANG berangkat ke sekolah

LINTANG berangkat ke sekolah

Entah berapa puluh kilometer jarak yang harus ditempuh Lintang setiap harinya demi mengecap bangku sekolah yang sangat jauh dari kampungnya di pinggir pantai pulau belitung sana. Sudah jauh jaraknya, “dibumbui” dengan ketemu buaya pula. Mantap benar perjuangannya… Hebat benar para pembuat film Laskar Pelangi ini, bisa menyajikan Lintang dengan segala romantika kehidupannya hingga membuat mata saya cukup berkaca-kaca dan merasa betapa kita harus selalu bersyukur atas segala kelimpahan yang sudah tidak habis-habisnya diberikan kepada kita.

Lepas dari tim pembuat Laskar Pelangi, inilah tim Cerdas Cermat Laskar Pelangi yang mencengangkan itu dan menjawab berbagai pertanyaan dengan sangat cerdas dan cermat.

Laskar Pelangi - Cerdas Cermat

Laskar Pelangi - Cerdas Cermat

OK, cukup saya rasa nostalgianya…

Sekarang kembali ke dunia masa kini, dunia yang nyata bagi kita saat ini.

BAGAIMANAKAH DUNIA PENDIDIKAN INDONESIA akan kita arahkan di masa mendatang?

Salah satu yang ada dalam benak saya adalah DIGITALISASI.

Dalam visi saya, yang namanya PENDIDIKAN saat ini adalah:

  1. Tidak ada lagi kendala JARAK –> kita mau buat semua orang pintar, bukan orang kota saja.
  2. Tidak ada lagi kendala GURU –> 1 guru/dosen bisa diakses semua orang pada saat bersamaan.
  3. Tidak ada lagi kendala BIAYA –> 1 orang pintar akan mengembalikan semua biaya pendidikannya.
  4. Tidak ada lagi batasan NEGARA –> tidak masuk akal kita harus bayar seluruh biaya hidup 2-4 tahun di luar negeri padahal kita hanya perlu membayar ilmunya saja.

Dalam masa yang tidak lama lagi, saya rasa LASKAR PELANGI akan memasuki era LASKAR PELANGI DIGITAL.

Berikut ini adalah dosen-dosen, atau lebih tepatnya mitra Laskar Pelangi.

LINTANG bisa secara periodik mendapat transfer pengetahuan langsung dari –> BILL GATES.

Bill Gates

BILL GATES

IKAL bisa langsung mendiskusikan karya-karya sastranya dengan pembimbing –> JK ROWLING

JK ROWLING

JK ROWLING

Dan MAHAR, bisa saling bertukar ide kreatif bersama mentor seninya –> DAVID FOSTER

DAVID FOSTER

DAVID FOSTER

Di era yang serba modern ini, saya yakin semua itu bukanlah mimpi di siang bolong. Tinggal kemauan kita untuk mewujudkan itu semua, demi Indonesia yang lebih baik.

Mari kita tingkatkan ide dan kreativitas demi kemajuan pendidikan bangsa.

www.creativesolutionsaward.com

Salam damai.

Agustus 27, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta | , , , , , , , , , , | & Komentar

Enigmatic INDONESIA… Flavors of INDONESIA…

Bagi Anda yang berlangganan televisi berbayar di rumah, maka berbahagialah Anda karena selama bulan Agustus – September ini Anda akan dimanjakan dengan berbagai tayangan tentang indahnya ASIA. Ya, benar-benar Asia… Tayangan tersebut antara lain sesuai judul tulisan ini (hanya saja kebetulan negaranya bukan Indonesia): Enigmatic Malaysia… dan Flavors of Malaysia. Channel-channelnya tidak jauh dari channelnya BBC atau Travel & Living.

Kemarin ini, ya… betul-betul kemarin ini hari Minggu 23 April 2009 saya menyaksikan salah satu acara: Enigmatic Malaysia – Keris. Di acara tersebut dijelaskan sejarah keris di kerajaan Melayu tersebut, bagaimana para empu (di sana bukan empu namanya mungkin ya?) dan kolektor saling memberikan penerangan tentang pentingnya Keris dalam sejarah negara Malaysia.

Menonton acara tersebut, saya jadi langsung ingat kasus yang sedang ramai-ramainya dibicarakan… yaitu hebohnya klaim atas Tari Pendet oleh turisme Malaysia. Heboh!!!

Saya sih termasuk orang yang tidak terlalu panik dengan adanya klaim ini dan itu oleh negara tetangga kita, selama itu bukan klaim Hak Intelektual yang berujung pada transfer uang. Dalam bayangan saya, barangkali kasus ini bisa diceritakan kepada anak saya seperti ini…

Syahdan (kayak cerita jaman dulu banget sih, syahdan)….

Tersebutlah dua orang kakak beradik. Sang kakak bernawa INDY, sang adik bernama MAYA.

Indy dan Maya ini adalah sama-sama murid dari sekolah yang sama, di mana guru mereka beragam ada yang berkebangsaan China, India, Inggris, maupun Belanda.

Indy, berwatak cenderung introvert. Dia lebih pendiam, walaupun bukan tanpa isi. Begitu banyak ilmu yang diserap dari guru-gurunya, dan dia modifikasi disana-sini sehingga memunculkan variasi-variasi yang begitu indah. Indy menyimpan itu semua didalam kamarnya, dan dinikmati di kala waktu senggangnya sendiri di kamar. Hal itu bukan berarti dia menutup diri dari orang lain, kalau ada orang yang datang kekamarnya maka Indypun membagi karya-karyanya kepada orang itu… termasuk untuk adiknya sendiri yaitu Maya.

Kira-kira, beginilah ke”introvert”an seorang Indy… menyimpan hal yang penting dibelakang punggungnya.

Keris

Keris Indy

Lain halnya dengan Maya, dia begitu ekstrovert dan senang bercerita. Maya punya kenalan baik orang Inggris yang punya banyak relasi di luar sana, dan dengan relasi tersebut Maya banyak bercerita tentang ini dan itu… Dia bercerita tentang ilmu dari gurunya dari China dan India. Bahkan dia sampaikan, bahwa kalau ada yang mau tanya-tanya tentang China atau India maka tanya saja padanya. Tidak cukup sampai di situ kreativitas si Maya ini, bahkan Maya memasukkan karya-karya Indy yang sudah dipahaminya ke dalam “katalog jualan”nya itu.

Kira-kira beginilah ke”ekstrovert”an seorang Maya…

Keris Maya

Keris Maya

Suatu saat, Maya kebanjiran pengunjung untuk bertanya tentang berbagai hal. Bahkan, ada orang dari ujung dunia sana bertanya tentang karya Indy kepada Maya. Tersinggunglah Indy, sang kakak yang merasa memiliki hak atas karyanya tersebut. Dengan hati membara, Indy mulai menjelek-jelekkan nama Maya melalui berbagai media. Indy sampai tidak mau bicara lagi dengan Maya. Upaya Indy untuk menjelek-jelekkan nama Maya sangatlah keras hingga internet dipenuhi oleh sumpah serapah Indy kepada Maya.

Apa yang terjadi kemudian? Dunia akhirnya membuat 2 polarisasi image tentang Indy dan Maya.

INDY: seorang yang (mungkin) pintar, tapi (pastinya) introvert, pemarah, sensitif.

MAYA: seorang yang (mungkin) bukan penemu utama, tapi (pastinya) resourceful, ramah, nyaman diajak bicara.

Kemanakah dunia akan berduyun-duyun mengunjungi? Kamar Indy atau Kamar Maya?

Pada akhirnya, kemarahan Indy hanya menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri.

Nah kira-kira begitulah ceritanya, cerita tentang INDY dan MAYA.

Semoga cerita singkat ini bisa menginspirasi kita semua, supaya terrefleksikan dalam tindakan kita selanjutnya.

Salam damai…

Agustus 24, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta, Internasional | , , , , , | & Komentar