Mengapa menunda kebahagiaan?
Saat menulis posting ini, saya sedang berada di lobby hotel Sheraton Jogjakarta dalam rangka persiapan presentasi besok di forum ISODEL 2009.
Setelah mengalami delay sekitar 30 menit (wah, Garuda mulai hobby delay nih), pesawatpun mengudara menuju kota yang tidak pernah bosan-bosannya saya kunjungi – JOGJAKARTA…
Touchdown cukup mulus, sayapun diajak makan siang di sebuah rumah makan tradisional di sekitaran daerah Kampus – namanya rumah makan Mbak Diah. Menu yang saya pilih adalah:
- sayur lodeh terong “wayu” – alias sayur kemarin yang dihangatkan lagi sampai lebih kental dan “kemlaket”
- tempe goreng
- ayam bacem
- sambal bawang yang masih segar
Wah, walaupun sayurnya masih kurang kental tapi cukup mak nyus rasanya makan siang saya tadi.
Singkat cerita, kamipun menuju hotel Sheraton setelah nasi di piring tandas. Di mobil menuju hotel inilah saya mendapatkan “quote of the day”. Ketika melihat betapa kota Jogja masih cukup lengang dan nyaman dibanding hiruk pikuknya Jakarta, rekan saya nyeletuk, “Wah enak ya kalau pensiun di Jogja…”. Saya mengangguk-angguk tanda setuju, tetapi kemudian rekan saya yang berdomisili Jogja menimpali dengan “quote of the day”nya : “NGGAK USAH NUNGGU PENSIUN JUGA ENAK KOK…”.
Jogjakarta, kota yang selalu mengundang saya untuk kembali ke sana lagi… dan lagi… dan lagi…
Salam damai.
Memotong rejeki orang…

Air terjun Kampung Daun - Bandung
.
Malam minggu kemarin, ceritanya saya jalan-jalan ke Bandung. Berhubung sudah lama banget tidak merasakan berendam di air panas Sari Ater, maka jadilah saya kemarin bersama rekan-rekan meluncur ke arah Lembang terus menuju Sari Ater.
Wah, benar-benar menyegarkan berendam di air berkandungan belerang dengan suhu sekitar 39 – 42 derajat Celcius dalam naungan udara sejuk daerah Lembang. Keluhan saya tentang tempat ini hanya satu: MAHAL. Masuk parkir bayar, masuk gerbang bayar, masuk kolam renang bayar lagi. Ampun…
.

Di Pemandian Air Panas Sari Ater Lembang
.
Selepas berendam sekitar 1 jam, sempat nampang dulu seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya yaitu sangat senang menganggu pemandangan indah dalam foto tempat yang dikunjunginya dengan menempatkan dirinya di tengah frame foto. Padahal belum tentu orang senang lihat tampang kita kan? Yang pasti orang lebih ingin tahu foto tempat-tempat yang kita datangi. Betul nggak? Tapi ya nggak papa deh, itu salah satu bukti kalau saya masih orang Indonesia… Bukti lainnya adalah fakta bahwa saya termasuk sibuk mencari oleh-oleh, he he he…
Jam menunjukkan pukul 19:00, badan sudah segar setelah berendam dan mandi. Apa lagi yang dirasakan saat itu selain rasa LAPAR!!! Terbayanglah sepiring hot plate dengan sate kambing + sate buntel yang mengepul panas plus teh poci. Pikiran langsung menerawang ke Sate Karjan di kawasan Pasir Kaliki Bandung.
Akan tetapi mungkin Pak Karjan malam itu belum rejekinya dapat saya nikmati satenya, maka jadilah kami meluncur ke Kampung Daun (itu fotonya ada di awal artikel ini).
Berhubung saya memang sudah ngiler sate, maka jadilah saya pesan sate juga di Kampung Daun.
Nah, sampai di sini saya cukupkan dulu cerita tentang Kampung Daun ini.
Selanjutnya saya ingin bertanya, kalau kita menceritakan sesuatu yang kurang baik atau tidak merekomendasikan sebuah tempat usaha… bisakah kita disebut MEMOTONG REJEKI ORANG?
Saya pernah baca tulisan yang sangat menarik dari Pak Bondan menanggapi komentar pembaca / pemirsa yang mengkritik beliau karena tidak pernah bilang sebuah makanan tidak enak. Nah jawaban beliau kira-kira mengarah ke sana, bahwa dia takut kalau dia bilang tidak enak terus tempat makan itu jadi tidak laku.
Mulai saat ini, saya jadi agak berpikir-pikir lagi untuk memberi cap kurang baik pada apapun yang jadi sumber penghidupan orang lain.
.

Saung di Kampung Daun Bandung
.
Kembali ke Kampung Daun, bisa saya katakan tempat ini sangat indah untuk kita kunjungi. Nuansa dan atmosfirnya sangat menghanyutkan jiwa.
Salam damai…
Nonton Sirkus…

- Sirkus Oriental – BSD
Mendengar ada Circus Coming To Town dari teman kantor, saya langsung cari info lengkapnya di internet. Didapatlah info ternyata ada pertunjukan Sirkus Oriental di Bumi Serpong Damai (BSD). Wah, pasti anak saya senang nih kalau bisa nonton Sirkus. Selain buat kesenangan, juga untuk menambah wawasan serta membuka jendela imajinasinya…
Sirkus yang kami tonton malam tersebut menampilkan mulai dari atraksi binatang (gajah, harimau, anjing, simpanse), dan akrobat oleh para pemain sirkus yang cukup terlatih. Ternyata mereka adalah dari Taman Safari Group.
Silakan dinikmati beberapa hasil jepretan yang berhasil saya ambil, di antara keterbatasan tempat – ruang – dan cahaya. Tempat duduk saya setengah tertutup tiang dan spacenya cukup sempit, sementara tidak memungkinkan untuk berpindah-pindah lokasi mencari berbagai spot motret. Cahaya agak kurang memadai untuk sebuah show, makanya saya berkali-kali tukar lensa untuk setiap atraksi mensiasati panjang fokus / focal length dan apperture lensa untuk mengakomodasi minimnya cahaya di beberapa show yang low light.
Monggo dipun pirsani…
Silakan dilihat-lihat dan dinikmati…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 01
Melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi…
tenggelam dalam lautan emosi…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 02
Kolaborasi pasangan Flying Ballet, kombinasi kekuatan – kelenturan – keharmonisan.
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Flying Ballet 03
Komentar anak saya yang cukup mengejutkan, “Yang flying ballet ROMANTIS banget”.
Gubrak!!! 7 years old girl talking about ROMANTIS… Oh my…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Badut
Badut & Gorilla…
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Akrobat
Akrobat tangga manusia, satu orang bisa naik tinggi berkat orang dibawahnya.
Mengingatkan saya untuk kembali ingat orang-orang yang mendukung saya hingga saya bisa seperti sekarang ini.
.

- Sirkus Oriental Taman Safari – Manusia Lilin
Kekuatan dan kelenturan, menjadikan sebuah keindahan…
.
Memang, dibandingkan dengan pertunjukan yang pernah saya lihat di China… sirkus kali ini bisa dibilang masih “mentah”. Masih hangat di benak saya keindahan yang disuguhkan di depan mata saya waktu melihat show di China. Dari mulai persiapan, kematangan teknik, kesalahan-kesalahan kecil, penanganan kostum, pencahayaan, penataan panggung, masih terasa adanya jurang perbedaan antara keduanya.
Sebagai perbandingan, berikut ini hasil jepretan yang saya dapatkan di China. Untuk mendapatkan hasil foto berikut ini bisa dikatakan effort saya lebih mudah karena lokasinya lebih nyaman dan pencahayaan lebih baik.
Sekali lagi, silakan dinikmati…

China Shenzhen Show - 01
Kostum gemerlap, laser teknologi tinggi, lighting yang ciamik…
.

China Shenzhen Show - 02
Salah satu wanita terpilih dari miliaran rakyat China untuk ditonton wisatawan mancanegara…
.
Untuk urusan memanjakan mata dan jiwa, barangkali kita memang masih harus menuntut ilmu sampai ke negeri China.
Salam damai…
Kangen Yogyakarta…
Menjelang Lebaran, orang-orang pada ramai mempersiapkan MUDIK.
Berhubung saya sendiri tidak merayakan Lebaran, apalagi anak saya yang bungsu masih terlalu kecil untuk perjalanan jauh maka saya hanya bisa menunggui Jakarta yang monoton ini dengan hati ceria. Tanpa tambah cuti, jadilah hari-hari sekitar Lebaran nanti saya menghiasi kantor yang sepi.
Ngomong tentang mudik, orang sudah pada sibuk ngomong tentang kota-kota di daerah yang menjadi tujuan masing-masing. Pada saat ini, saya sendiri lagi kangen dengan hangatnya suasana kota Yogyakarta.
“Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna…”
Untuk kali ini, biarlah saya menikmati Yogyakarta melalui bingkai foto saja…
…
Ah betapa saya kangen dengan indahnya pagelaran Ramayana di Candi Prambanan…

Sendratari Ramayana - Candi Prambanan
…
Ah betapa saya kangen minum wedang ronde di ujung jalan Malioboro…

Wedang Ronde Malioboro
…
Ah betapa saya kangen cerita “ngalor ngidul” dengan simbok penjual gudeg di Beringharjo…

Gudeg Pasar Beringharjo
…
Ah betapa saya kangen melihat riangnya anak-anak main bola di pelataran Candi Boko…

Candi Boko Yogyakarta
…
Ah betapa saya kangen naik becak menyusuri jalanan Yogyakarta…

Becak di perempatan BI Yogyakarta
…
Ah betapa saya kangen menyaksikan pengabdian mereka-mereka ini…

Para abdi dalem keraton
…
Ah betapa saya kangen keramahan dan kelemahlembutan Yogyakarta…

Dewi Shinta
…
Yogyakarta, tidak pernah bosan-bosannya saya kunjungi dan saya eksplorasi.
Saya yakin, kita BISA… sekali lagi KITA BISA menjadikan YOGYAKARTA tujuan wisata utama di Asia Tenggara ini.
…
Salam damai.
Karang laut Pulau Seribu yang mulai mati…
.
.
Setelah lama direncanakan, akhirnya jadi juga outbound ke Pulau Seribu. Supaya maksimal, maka kami satu Divisi perginya ke pulau yang cukup jauh yaitu PULAU SEPA. Kalau masih terlalu dekat katanya banyak ketemu sampah.
Naik boat berkapasitas sekitar 40 orang, laut pagi itu sangat tenang nyaris tanpa ombak. Kami bisa leluasa jalan kesana kemari dalam kapal. Ada sih yang mabok laut, tapi hanya satu orang. Secara umum perjalanan ke sana sangatlah tenang dan damai. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari Marina Ancol berlalu tanpa kendala yang berarti, kamipun sampai di Pulau Sepa dalam kondisi siap tempur.
Di pulau Sepa ini acara kami sebenarnya adalah outbound dan team building di Divisi kami. Tapi tahu sendiri, kalau sudah ketemu pantai maka pastinya lebih banyak acara hepi-hepi dibandingkan seriusnya. Dari mulai main bola, snorkeling, main air, main pasir, snorkeling lagi, banana boat, karaoke, snorkeling lagi, dan lagi… dan lagi…
Buat Anda yang sudah pernah menyelam, barangkali snorkeling bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi buat saya, pengalaman baru itu benar-benar mencengangkan. Berenang-renang bersama ikan di antara beberapa karang, di antara pasir putih dan laut yang biru… ah nikmatnya.
Supaya lebih mudah Anda bayangkan, begini saja saya jelaskan. Saya ini hobi banget motret, buktinya saya berangkat ke Pulau Sepa lengkap dengan peralatan kamera, wide zoom lens, fix lens wide apperture, telezoom lense, flash, dan tripod. Peralatan kamera memenuhi 2/3 tas sementara baju hanya 1/3 tas. Tapi apa yang terjadi? Selama hari pertama saya di sana, sama sekali tidak ada mood ataupun keinginan untuk motret. Yang ingin saya lakukan hanyalah bergaul dengan pasir, air, ikan, dan karang. Itu saja cukup!!!
.
Beningnya pantai di Pulau Sepa
.
Ya begitulah kira-kira beningnya air di pantai Pulau Sepa, wajar dong kalau saya jadi lupa sama kamera dan tiba-tiba lebih memilih untuk menyelam lagi… dan lagi… he he he.
Beberapa jam menyelam, setelah itu duduk santai di pantai sambil menikmati semilir angin segar (nggak segar-segar amat sih, angin lembab pantai lebih tepatnya). Sambil diiringi deburan ombak-ombak kecil, ditemani kelapa hijau yang segar. Mantaaaappp!!!
Istirahat sebentar saja sudah bisa mengembalikan tenaga untuk lanjut ke permainan berikutnya, BANANA BOAT!!!
.
Masa kecil kurang bahagia sepertinya, he he he…
.
Esok harinya, barulah mood memotret sedikit mengintip di pojok jiwa saya. Coba jalan-jalan ke dermaga, bertemu beberapa orang yang memancing dan saling memotret sebagai kenang-kenangan dari Pulau Sepa. Secara umum saya lihat tidak banyak aktivitas mengambil ikan di sini, mungkin karena pulaunya kecil dan lebih merupakan pulau resort bukannya pulau nelayan. Sepertinya dermaga ini memang buat orang memancing saja akhir-akhir ini.
.
Burung yang menemani hunting saya di pagi itu…
(kelihatan nggak burungnya?)
.
Mengucap janji di ujung dermaga…
.
Setelah semua euforia itu mulai mereda, barulah muncul pertanyaan di benak saya “KOK KARANGNYA BANYAK YANG MATI YA???”.
Di salah satu atol sekitar 10 menit dari pantai pulau Sepa, masih saya jumpai karang-karang hidup dan ikan-ikan yang lebih besar jumlah dan ukurannya. Kondisinya agak berbeda dengan di pantai, di mana hanya sekitar 25% karang yang masih hidup. Kebanyakan sudah berupa karang yang mengering.
Apakah yang menyebabkan kematian karang-karang itu?
Apakah kedatangan saya ke pulau Sepa turut ambil bagian sebagai penyebab kematian karang-karang tersebut?
Bagaimana caranya ya supaya karang-karang yang indah itu tetap hidup? Kata orang-orang pintar kan sebagian besar oksigen yang kita hisap berasal dari tumbuhan laut. Hal ini mengingatkan saya ke tulisan saya sebelumnya tentang mulai berkurangnya keindahan pantai Dreamland Bali (Bali never ending beauty… ).
Keseimbangan atau ekuilibrium manusia dan lingkungan, betapa sebuah kondisi yang sepertinya sulit sekali terwujud. Ada terlalu banyak kepentingan di sana, di mana alam selalu menjadi yang pasif. Begitu datang saatnya sang alam aktif bereaksi, barulah kita manusia kalang kabut.
Mudah-mudahan kita semua makin arif dalam mengeksplorasi alam yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.
.
Diiringi renungan dari pinggir pantai…
.
.
Salam damai…







