Ratusan tahun usianya namun tak berkurang kekokohannya.
Menjadi saksi sejarah tingkah laku manusia.
Menyaksikan pahitnya kehidupan manusia ditindas sesama manusia.
.
.
.
Tertutup rapat dan penuh rahasia, itulah pesan yang ingin disampaikan pada orang luar.
Keamanan penuh, itulah makna yang didapatkan bagi orang yang berada didalamnya.
Kokohnya jendela sangat kental menceritakan kondisi masa kolonialisme.
.
.
.
Dan bahkan untuk sebuah bangunan yang menjadi sarang kekejamanpun, manusia bisa menampilkan keindahan pada sudut-sudutnya.
Talenta yang diberikan untuk mencipta… digunakan untuk menghancurkan.
Hati yang diberikan untuk mengasihi… digunakan untuk membenci.
.
.
.
INTIP
Dunia ini diciptakan untuk kita nikmati bersama…
Tetapi kenapa harus ada dinding tebal di antara kita.
Seakan membuat perbedaan di antara kita, hingga kita tidak bisa saling terbuka.
.
.
.
Begitu rapat dinding mengunci manusia dalam keangkuhannya.
Menjauhkan mereka dari sesamanya manusia.
Seakan tiada lagi ruang dan waktu untuk peduli, sementara kita semua adalah bersaudara.
.
.
.
Ketika kita menjadi begitu terkungkung dengan eksklusivitas dan superioritas…
Adakah pintu terbuka di lubuk hati kita,
Bagi kita untuk membuka diri bagi sesama…
.
.
.
Mari membuka hati dan diri kita
Bagi sesama manusia
Karena kita semua adalah saudara…
.
SALAM DAMAI
.
(seluruh foto diambil di kawasan Museum Fatahillah – Jakarta)













