::: WISATA JIWA :::

…memaknai pengembaraan jiwa di dunia…

Bertemu sang juru selamat di surga…

Cerita ini terjadi 2 minggu lalu, ketika perjalanan dinas saya ke Bali bersama rekan kantor. Setelah menghabiskan 2 hari bekerja, dengan baju rapi di antara orang-orang yang bercelana pendek dan bertelanjang dada (betul-betul SALah kosTUM)… akhirnya, datanglah hari ke-3 untuk menikmati pulau dewata. Surga dunia…

Pagi hari, kami berempat sudah siap di pantai Kuta… kali ini tidak lagi SALTUM, tapi sudah membaur dengan celana pendek dan kaos singlet. Nongkrong-nongkrong di pinggir pantai, kemudian ada yang mengeluarkan ide brilian untuk sewa papan seluncur ukuran ½. Kalau pakai yang ukuran full selain terlalu besar, juga memang belum mahir.

Jadilah akhirnya sewa 1 papan, untuk tahap awal gantian dulu. Nanti kalau dirasa cocok baru sewa masing-masing. 1 orang kawan (mari kita sebut saja si Polan), melaju dengan gagah berani menerjang ombak pantai Kuta. Dirasa kurang greget ombaknya, diapun berenang di atas papan itu menuju ke bagian pantai yang lebih dahsyat ombaknya. Kami bertiga memandanginya dari pinggir pantai sambil sesekali menikmati “pemandangan indah” yang lewat di depan kami. He he he…

5 menit berlalu, tak nampak si Polan berhasil menunggangi sang ombak seperti harapan sebelumnya. Kami lihat dia asik berputar2 di atas papan seluncurnya. Saya coba lambaikan tangan, tak ada respon… barangkali terlalu asik dia.

5 menit lagi berlalu dari 5 menit yang lalu (ribet ya kalimatnya, he he he…), belum ada tanda-tanda juga dari si Polan. Dengan setengah bingung dan setengah cemas, akhirnya saya ambil keputusan untuk minta sama si tukang penyewa papan untuk mengejar si Polan. Nggak lucu juga nih kalau kenapa-kenapa… pikir saya.

Tak lama, si penyewa papan (kita sebut saja si Ucok, kebetulan memang dia baru 1 bulan di Bali dari asalnya di Siantar) berenang ke arah si Polan. Tak lama berselang, kami lihat si Polan melambaikan tangan ke arah seorang peselancar bule di dekatnya.

Lalu terjadilah peristiwa penyelamatan di laut, yang cukup mendebarkan. Peristiwa yang cukup dahsyat untuk dilupakan begitu saja. Sebagai seorang fotografer, dan sebagai seorang dengan kemampuan renang rata-rata… maka dengan segala pertimbangan saya pada saat itu memutuskan untuk meminta si Ucok yang menyelamatkan si Polan, sementara saya mengabadikan kejadian itu melalui lensa kamera.

Ketika si Polan sudah diselamatkan oleh si surfer bule, terlihat si Ucok menuju ke arahnya

Saving Private Polan

Ini dia sang penyelamat 01…

Kami berpose dengan Ucok, si penyelamat 02

Entah mimpi apa si Polan malam sebelumnya, bisa bertemu dengan sang juru selamat di Bali. Nggak tanggung-tanggung, langsung bertemu 2 juru selamat…. Bertemu juru selamat di surga, tapi ini di surganya dunia, yaitu BALI. Saya jadi bertanya, ketika dalam keadaan antara hidup dan mati selama 5 menit tersebut kira-kira apa yang ada di benaknya ya? Barangkali terjadi negosiasi yang a lot dengan Sang Pencipta, dengan segala kalimat bernada putus asa dan berharap.

Tapi syukurlah, segala sesuatunya berjalan dengan sempurna pada akhirnya. Hari itu dilanjutkan dengan happy-happy sampai sore hingga pesawat kami mendarat kembali di Jakarta.

Benar-benar perjalanan yang saya yakin tidak akan dilupakan oleh si Polan selama sisa hidupnya. Barangkali dia menjadi orang yang semakin bijak setelah kejadian itu. Biasanya sih, orang yang pernah mengalami “near death experience” bisa mengarah ke 2 hal:

  1. Menjadi super berani, toh sudah pernah hampir mati
  2. Menjadi super bijak, menjalani sisa hidupnya sebagai waktu untuk membayar segala kekurangannya selama ini

Salam damai…

Mei 29, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, Religi, jalan-jalan | , , , , , , , | & Komentar

Bali, never ending beauty…

Bali… never ending beauty…


Barong Bali

Dalam rangka (waduh, kayak tulisan pemerintahan aja pakai awalan “dalam rangka”) Seminar Diknas antar perguruan tinggi di Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, kemarin saya berkesempatan menjadi pembicara di acara tersebut di Jimbaran – Bali, tepatnya di Politeknik Negeri Bali.

Acaranya sendiri diadakan hari Jumat minggu lalu, nah Sabtunya saya sengaja ambil penerbangan yang sore supaya sempat menikmati Bali sepanjang pagi hingga sore hari. Masa iya sudah jauh-jauh sampai sana terus hanya dapat seminarnya saja…

Hal pertama yang dilakukan pagi itu: jalan-jalan di sepanjang pantai Kuta.

Wah, sudah cukup ramai padahal baru jam 7 pagi. Dengan kostum celana pendek dan kaos singlet, duduk santai di pinggir pantai sambil sekali-sekali jepret ini dan itu yang terlihat menarik. Tak lupa, pagi itu diakhiri dengan adegan bertato ria sebagai kenangan buat dipamerin ke anak saya.

Wuri Tato bali

Keren atau enggak itu urusan nanti, yang penting gaya dulu. He he he… jaman narsis begini saya kok jadi sedikit ketularan virus narsis ya? Tapi nggak papalah, hitung-hitung supaya terus update, dinamis, nggak ketinggalan jaman dan nggak cepet tua.

Pagi menjelang siang, tatopun selesai. Dengan ditemani motornya Agnes Monica (Vario), sayapun berencana ke Garuda Wisnu Kencana dan Dreamland / Pecatu.

Garuda Wisnu Kencana (GWK) selama ini saya berkali-kali ke Bali hanya saya lewati saja, karena biasanya langsung ke Uluwatu, Dreamland, atau Padang-Padang. Kali ini saya sempatkan ke sana. Wah, dalamnya luas juga. Sepertinya banyak jadual pementasan tari yang cukup bagus, sayangnya informasinya kurang lengkap dan waktu saya berkunjung terlalu singkat.

Garuda Wisnu Kencana GWKPatung Wisnu setengah badan.

Rencananya yang namanya patung Garuda Wisnu Kencana itu adalah Wisnu yang naik burung Garuda. Wisnunya saja sudah sebesar ini, lha terus kalau benar jadi patung GWK itu bakal sebesar apa ya? Bakal spektakuler pastinya… andai krisis moneter tidak mengganjal ya…

Saya duga kompleks ini bisa menghadirkan nuansa yang sangat megah kalau bisa dihiasi dengan pencahayaan yang bagus. Bisa buat event-event besar. Saya berharap banyak event-event besar yang berskala internasional bisa dihadirkan di tempat ini. Di saat di mana krisis mulai agak menunjukkan sisi terang, sementara Indonesia dinilai mulai stabil keamanannya dibandingkan negara tujuan wisata lain seperti Thailand misalnya.

Wah, jadi makin asik aja perjalanan ini. Walaupun bermodalkan motor Agnes Monica yang apa adanya, kepanasan, tapi asik…

Harley Davidson

Pria bertato dan motor Agnes Monica…

Wah, jadi makin asik aja perjalanan ini. Walaupun bermodalkan motor Agnes Monica yang apa adanya, kepanasan, tapi asik… biarin deh nggak nyambung antara tato dan vario, daripada nyewa Harley tapi kantong terkuras. He he he…

Kalau hanya untuk keliling radius < 20 km atau sejam perjalanan saja sih mendingan naik motor di Bali, sekarang sudah mulai macet di sekitaran Kuta. Jauh lebih cepat naik motor. Yah ada risiko sih, jadi tebal muka alias debu pada nempel di muka. Ditambah kulit rada-rada gosong, tapi gak papalah biar malah tambah macho.

Selepas dari GWK, langsung meluncur ke Dreamland yang memang sudah tidak jauh lagi dari situ. Masuk kompleks perumahan, terus meluncur ke bawah sampai ke portal masuk bayar buat parkir motor.

Wah, dibandingkan terakhir kali ke sini 2 tahun lalu sudah cukup banyak berubah rupanya Dreamland ini. Sudah terbangun semacam kios-kios permanen, lengkap dengan WC Umum dengan tarif toilet 3000 perak, dan mandi 10.000 perak. Wow…

Turis yang datang masih sebagian besar dari mancanegara, tapi sudah banyak pedagang ini dan itu yang sedikit mengusik ketenangan. Intinya, Dreamland atau Pecatu sudah tidak lagi senyaman dahulu. Tapi nggak papa, se-nggak nyaman-nggak nyamannya, masih tetap mantap. Pasirnya… Ombaknya… Tebingnya… Tuhan memang Maha Kuasa…

Berikut ini Dreamland yang sempat terekam lewat lensa saya. Agak sulit juga mencari sudut Dreamland yang tidak ada orangnya. Musti mojok-mojok. He he he…

Enjoy…

Dreamland 02

Deburan ombak di Dreamland…

Dreamland 01

Sudut Dreamland yang cukup sepi…

Saya sendiri masih berharap, semoga bangsa kita bisa mulai merintis usaha menuju keseimbangan antara menikmati dan melestarikan alam. Entah kenapa yang saya lihat sampai saat ini, menikmati selalu berekses (baik karena ketidaktahuan ataukah ketidakpedulian) kepada menurunnya kelestarian alam. Setiap kali ditemukan spot yang indah, tak lama kemudian manusia berduyun-duyun datang… dan habis itu menjadi tidak indah lagi.

Kalau dahulu peradaban manusia sempat pada masa “food gathering” di mana mereka hanya mengambil dari alam dan nomaden, sekarang kita sudah mampu pada tahap membudidaya. Semoga kitapun sekarang tidak terus menerus pada tahap yang hanya menikmati alam tanpa melestarikannya.

Bagaimana caranya? Mari kita cari bersama-sama… saya bukan ahli, siapalah saya.

Salam damai…

Mei 29, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta, jalan-jalan | , , , , , , , , , , , | & Komentar