::: WISATA JIWA :::

…memaknai pengembaraan jiwa di dunia…

Memotong rejeki orang…

Kampung Daun

Air terjun Kampung Daun - Bandung

.

Malam minggu kemarin, ceritanya saya jalan-jalan ke Bandung. Berhubung sudah lama banget tidak merasakan berendam di air panas Sari Ater, maka jadilah saya kemarin bersama rekan-rekan meluncur ke arah Lembang terus menuju Sari Ater.

Wah, benar-benar menyegarkan berendam di air berkandungan belerang dengan suhu sekitar 39 – 42 derajat Celcius dalam naungan udara sejuk daerah Lembang. Keluhan saya tentang tempat ini hanya satu: MAHAL. Masuk parkir bayar, masuk gerbang bayar, masuk kolam renang bayar lagi. Ampun…

.

Di Pemandian air panas Sari Ater Lembang

Di Pemandian Air Panas Sari Ater Lembang

.

Selepas berendam sekitar 1 jam, sempat nampang dulu seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya yaitu sangat senang menganggu pemandangan indah dalam foto tempat yang dikunjunginya dengan menempatkan dirinya di tengah frame foto. Padahal belum tentu orang senang lihat tampang kita kan? Yang pasti orang lebih ingin tahu foto tempat-tempat yang kita datangi. Betul nggak? Tapi ya nggak papa deh, itu salah satu bukti kalau saya masih orang Indonesia… Bukti lainnya adalah fakta bahwa saya termasuk sibuk mencari oleh-oleh, he he he…

Jam menunjukkan pukul 19:00, badan sudah segar setelah berendam dan mandi. Apa lagi yang dirasakan saat itu selain rasa LAPAR!!! Terbayanglah sepiring hot plate dengan sate kambing + sate buntel yang mengepul panas plus teh poci. Pikiran langsung menerawang ke Sate Karjan di kawasan Pasir Kaliki Bandung.

Akan tetapi mungkin Pak Karjan malam itu belum rejekinya dapat saya nikmati satenya, maka jadilah kami meluncur ke Kampung Daun (itu fotonya ada di awal artikel ini).

Berhubung saya memang sudah ngiler sate, maka jadilah saya pesan sate juga di Kampung Daun.

Nah, sampai di sini saya cukupkan dulu cerita tentang Kampung Daun ini.

Selanjutnya saya ingin bertanya, kalau kita menceritakan sesuatu yang kurang baik atau tidak merekomendasikan sebuah tempat usaha… bisakah kita disebut MEMOTONG REJEKI ORANG?

Saya pernah baca tulisan yang sangat menarik dari Pak Bondan menanggapi komentar pembaca / pemirsa yang mengkritik beliau karena tidak pernah bilang sebuah makanan tidak enak. Nah jawaban beliau kira-kira mengarah ke sana, bahwa dia takut kalau dia bilang tidak enak terus tempat makan itu jadi tidak laku.

Mulai saat ini, saya jadi agak berpikir-pikir lagi untuk memberi cap kurang baik pada apapun yang jadi sumber penghidupan orang lain.

.

Saung di Kampung Daun Bandung

Saung di Kampung Daun Bandung

.

Kembali ke Kampung Daun, bisa saya katakan tempat ini sangat indah untuk kita kunjungi. Nuansa dan atmosfirnya sangat menghanyutkan jiwa.

Salam damai…

November 4, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Hidup sehari-hari, jalan-jalan | , , , , , , , , , | & Komentar

In Harmonia Progressio…

Indah dan menakjubkan ya…
Pemandangan sunrise yang spektakuler ini bisa kita nikmati setiap harinya (kalau cuaca bagus) di kawasan Ciwidey – Bandung. Untuk menikmati pemandangan ini, siap-siaplah nongkrong di lokasi mulai sekitar jam 5:30 pagi. Udara yang dingin menjadi terasa hangat setelah matahari muncul dari balik gunung di depan mata kita.
Dalam frame foto yang saya jepret tersebut, terlihat sepucuk menara BTS menyembul di antara pepohonan yang menghijau di kawasan tersebut. Agak mengganggu dari sisi fotografi sih sebenarnya, tapi mau bagaimana lagi… masa mau dirobohkan :)
Bahkan seorang fotografer dari luar negeri yang pernah motret dari lokasi yang sama pun menyayangkan masuknya menara BTS tersebut dalam frame fotonya: http://forums.dpreview.com/forums/read.asp?forum=1005&message=30615996
Sebagai bangsa yang sedang membangun (Developing Country), kita bangsa Indonesia hampir selalu dihadapkan pada dilema antara kemajuan ekonomi & teknologi versus kelestarian alam & budaya. Beberapa contohnya:
  1. Pelestarian bangunan tua vs pembangunan gedung megah baru.
  2. Konservasi hutan atau persawahan vs pembangunan jalan tol.
  3. Kelanggengan terumbu karang vs pengembangan pariwisata laut.
  4. dll dll…
Apa iya ya, yang namanya usaha untuk lebih maju harus mengorbankan sejarah, budaya, dan alam…
Saya jadi ingat motto kampus saya dulu: IN HARMONIA PROGRESSIO… artinya kira-kira “Kemajuan dalam keselarasan”. Sebenarnya sampai sejauh manakah kata-kata indah tersebut dapat diwujudkan dalam realita ataukah hanya sekedar sebuah utopia…
Salam damai.

Januari 14, 2009 Ditulis oleh wisatajiwa | Indonesia tercinta, Uncategorized | , , , , , , , , , , | 1 Komentar