Setujukah hukuman mati???

Wanted
…
Minggu ini, film di HBO ada WANTED (dibintangi Angelina Jolie dan Morgan Freeman).
Bagi penggemar action, film ini cukup memuaskan selera dar-der-dor sertaberbagai aksi individu. Tidak tanggung-tanggung, sampai bagaimana caranya membelokkan laju pelurupun digambarkan di film tersebut. Belum lagi menembak dari jarak sekian kilometer, berawal dari sebuah kamar apartemen, melewati jendela kereta yang melaju, berbelok-belok, hingga mengenai sasaran di atap gedung.
Bagi penggemar Angelina Jolie, no comment deh….
Bagi saya sendiri, film tersebut cukup meninggalkan kesan tentang penghakiman di dunia.
THE FRATERNITY – a society of assassins, begitulah sebuah kelompok dari para pembunuh profesional menamakan dirinya. Dipimpin oleh SLOAN, kelompok tersebut mengandalkan kode dari mesin tenun untuk menentukan target / obyek yang harus dibunuh. Kelompok tersebut percaya bahwa target yang muncul namanya adalah memang orang jahat yang layak dihilangkan keberadaannya dari muka bumi, demi masyarakat banyak.

ini lho yang namanya SLOAN
OK kita lupakan saja masalah mesin tenun, peluru yang berbelok, dan kita kesampingkan dulu lekukan tubuh Angelina Jolie. Paling tidak, adanya prinsip membunuh orang jahat adalah satu hal yang cukup layak untuk direnungi lebih dalam.
Coba saya tulis dulu hal-hal apa saja yang membuat “pembunuhan” orang jahat itu layak dilaksanakan. Paling tidak ada 5 hal yang saya indikasikan sebagai faktor pro – “hukum mati”.
- Untuk menghentikan potensi kejahatan selanjutnya (contoh: untuk teroris atau tukang bom yang dikutuk berbagai pihak di dalam maupun luar negeri, hukuman mati pantas untuk mencegah dia melakukan kejahatan-kejahatan selanjutnya).
- Untuk memberi shock theraphy bagi masyarakat (contoh: untuk pengedar narkoba yang sangat besar potensinya untuk merusak masa depan generasi penerus bangsa).
- Untuk penegakan hukum dan kebenaran (ketegasan, itu merupakan hal yang diimpikan banyak orang untuk melawan kejahatan).
- Untuk mengeliminasi orang jahat, sehingga tinggal orang baik yang ada di muka bumi (perumpamaannya adalah pada saat terjadi kebakaran hutan, maka pohon yang sudah terbakar sebagian harus ditebang… bahkan pohon di sekelilingnya juga ditebang demi menjaga supaya kebakaran tidak meluas).
- Untuk memberikan rasa keadilan bagi sang korban / keluarga korban (contoh: kasus pembunuhan atau pemerkosaan, bayangkan apabila seorang ayah dibunuh secara sadis hingga keluarganya merana tanpa pendapatan… atau anak gadis Anda diperkosa secara kejam… hukuman apakah yang Anda nilai pantas sebagai ganjaran bagi sang durjana tersebut?).
Nah, mempertimbangkan (paling tidak) kelima hal tersebut di atas, sepertinya hukuman mati merupakan satu hal yang layak dilakukan demi menuju peradaban manusia yang lebih baik.

Peta negara-negara yang mempraktekkan hukuman mati
Sudah puas mencari justifikasi untuk mendukung hukuman mati? Sekarang saya coba berbalik menempatkan diri di sisi lain dari hal ini, yaitu hal-hal apa saja yang membuat hukuman mati itu tidak layak dipraktekkan. Coba saya pikir-pikir dulu, apa ya…
- Sisi kemanusiaan, tega nggak sih Anda mengakhiri riwayat hidup seseorang seburuk dan sebejat apapun orang tersebut? Contoh ekstrimnya, kalau anak Anda kebetulan (atau kesalahan ya?
) menjadi seorang pembunuh atau pemerkosa… apakah menurut Anda dia layak dijatuhi hukuman mati? Ataukah Anda akan berusaha membawa dia kembali ke jalan yang benar? - Pertobatan, tidak bisakah seseorang diberi kesempatan untuk bertobat? Ataukah kesempatan itu hanya bisa dia dapatkan di kehidupan selanjutnya barangkali (kalau semisal Anda percaya dengan konsep reinkarnasi)… seperti lagunya Virgin, “Tuhan berilah aku hidup satu kali lagi…”.
- Hak membunuh. Sebagai sesama mahluk Tuhan yang setara (di hadapan Tuhan, polisi – pembunuh – hakim – pendeta – ulama – politikus itu semua setara kan ya?), apakah kita punya hak untuk menghabisi sesama kita? Mahatma Gandhi pernah bicara, “HATE THE SIN, LOVE THE SINNER”.
- Apakah diperbolehkan sama Tuhan? Nah ini pertanyaan yang suangat sangat buerat untuk dijawab… kalau sudah bawa-bawa nama Tuhan, baiknya kita langsung tanyakan sama Tuhan. Masalahnya, bagaimana caranya kita bertanya langsung pada Tuhan? Kebetulan di dunia ini sudah hadir yang namanya agama, di mana sebagian besar kita mempercayainya sebagai media antara kita dengan Tuhan. Tapi, saya sendiri jadi agak sedikit bingung nih ketika agama-agama yang ada sepertinya tidak ada kata sepakat tentang hukuman mati ini. Nah lho, bingung sendiri deh…
Sampai di sini saya sendiri tidak paham kok tulisan saya ini jadi serius banget begini ya, padahal awalnya diawali dengan pesona lekukan tubuh si Angelina Jolie yang aduhai… mari kita nikmati sekali lagi karunia Tuhan ini (saya kecilkan saja ya supaya lebih sopan, he he he…)

Angelina Jolie coy...
Sudah segar kembali? Nah kembali ke topik (sok) serius tadi, saya yakin kita semua sudah sama-sama paham bahwa masalah hukuman mati ini bukanlah perkara yang mudah untuk diputuskan. Ini merupakan keputusan yang (harusnya) sangat… sangat sulit untuk dipertimbangkan sebelum akhirnya memutuskan untuk menghukum mati seseorang.
Saya tidak mencoba sok tahu dan sok pintar untuk menetapkan bahwa hukuman mati itu layak atau tidak, tapi paling tidak sampai saat ini saya belum berani mengambil keputusan untuk menyetujui hukuman mati seseorang. Saya agak takjub (sedikit heran), kalau ada orang yang dengan segera berteriak “Hukum mati saja” ketika mendapati kasus kejahatan di media. Waduh, jangan semudah itu deh menyetujui pengambilan nyawa sesama kita… kita berbicara masalah NYAWA coy!!!
Sebagai informasi tambahan, ending dari film WANTED tersebut adalah hancurnya The Fraternity beserta matinya para assassin tersebut. Ternyata target yang harus dihabisi adalah si SLOAN itu sendiri…
Supaya tidak terlalu serius, enaknya mencatut pabrik kata-kata favorit saya JOGER,
“Anda tidak suka sama seseorang? Tidak perlu Anda bunuh, karena kalau memang sudah ajalnya maka dia akan mati sendiri tanpa perlu kita bunuh…”
Salam damai…
Korban Marketing…
Ada 2 mobil bagus nih… silakan dilihat-lihat, dinikmati, dimimpi-mimpikan…
Mobil 1
…
Mobil 2

…
Cleguk… 2-2nya sangat futuristik, berotot, dan menjanjikan performa yang dahsyat. Kalau ada duit yang tidak berseri, barangkali sudah diangkut keduanya ke garasi. Tapi kalau duitnya cuma cukup untuk beli 1, yang manakah yang menurut Anda lebih cool? Manakah yang akan Anda beli? Manakah yang Anda rela untuk membelinya dengan harga yang lebih mahal?
Memang agak sulit untuk menentukan mana yang lebih prestisius di antara Mobil1 dan Mobil 2.
Sekarang fotonya saya tampilkan lagi, mudah-mudahan bisa membantu Anda mempersepsikan lebih baik antara kedua mobil tersebut.
Mobil 1 (revealed)
…
Mobil 2 (revealed)
…
“Sebelumnya, saya bukan bermaksud mendiskreditkan salah satu merk mobil tertentu. Saya hanya ingin meninjau dari sisi marketing dan brand image.”
Sekarang, ketika muncul 2 buah emblem di grill kedua mobil tersebut bagaimanakah persepsi Anda terhadap kedua mobil tersebut? Dalam benak saya, langsung terbentuk persepsi berupa kecenderungan untuk memposisikan Mobil 2 di atas Mobil 1 dalam hal performansi, dan tentunya harga. Artinya, andaikan keduanya memiliki spesifikasi di atas kertas sama 100% – saya tetap RELA mengeluarkan uang lebih banyak untuk membawa pulang Mobil2 dibandingkan Mobil 1.
THE POWER OF MARKETING… itulah salah satu buktinya…
Sekarang saya mau share lagi sekelumit fakta yang saya dapat dari sumber lain: Blog Suami Gila di mana didalamnya ada komentar dari Pandji Pragiwaksono sebagai berikut (saya copy di bawah).
…
bangsa Indonesia itu ga usah di debat kekayaannya.
Kita punya bahan mentahnya.
Tapi utk menang dalam berbisnis, bukan hanya butuh bahan dasar/mentahnya.
Ada ilmu marketing.
Ada desain.
Orang suka bilang: Beli dong produk Indonesia, orang Nike aja made in Indonesia!
Padahal, bukan itu masalahnya!
Cth: Taukah elo pabrik dan pekerja yang bikin Nike “made in Indonesia” sama dengan yang bikin LEAGUE.
Sebuah merk sepatu olahraga Indonesia.
TEMEN GUE DESAINER PRODUK yang kerja disitu.
Apakah elo beli?
Kenapa?
Wong yang bikin sama kok.
ELo ga beli, karena kekuatan marketing LEAGUE tidak sebesar NIKE.
…
Kembali nyata sekali, bagaimana MARKETING membius kita para konsumen. Dalam marketing, dicari upaya untuk menembus batas kesadaran konsumen supaya membeli barang/produk yang dipasarkan. Apalagi di era digital ini, para ahli marketing sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Digital Marketing dan Community Marketing. Sekarang bukan lagi eranya produsen mengiklankan barang, tapi lebih mengandalkan testimoni, sharing, dan komunitas.
Community Marketing ini ternyata sudah cukup lama diprediksi oleh JOGER (Pabrik Kata-Kata dari Kuta Bali). Saya masih punya kaos Joger yang saya beli tahun 2001 lalu yang tulisannya berintikan Community Marketing –> “Marketing gaya Joger adalah bagaimana caranya menipu konsumen secara baik-baik, legal, dan menyenangkan. Di mana konsumen pada akhirnya secara sukarela dan bertanggungjawab ikut mempromosikan penipuan-penipuan itu…”.
Dikemas dengan gaya yang kocak, tapi pada dasarnya itulah intisari dari Community Marketing.
Kembali ke masalah bius-membius… saya sendiri sebagai orang Marketing berusaha sekuat mungkin menghadapi pembiusan-pembiusan yang dilakukan oleh rekan-rekan Marketing dari pelbagai penjuru dunia. Tapi saya juga manusia, punya spot-spot tertentu yang mudah “dimakan” oleh para ahli marketing. Saya masih ingin punya mobil V12 – 6000 CC yang minumnya harus Pertamax Plus dengan konsumsi 1 liter untuk 4 km. Saya masih ingin membuka lahan seluas 10 hektar di kawasan Puncak untuk membangun vila dan tempat berlari untuk anak-anak saya. Saya masih selalu ingin mengkonsumsi buah-buahan impor, yang membutuhkan bahan bakar tidak sedikit untuk mengangkut dari negara asalnya.
Di tulisan sebelumnya, saya pernah sharing tentang Over Consumption. Ketika para pakar marketing dengan suksesnya meleverage tingkat konsumsi publik, walaupun dengan background indah tentang berputar kencangnya roda ekonomi… pada akhirnya seluruh putaran itu mengorbankan satu pihak yaitu BUMI. Ketika kita sadar bahwa bumi ini bukanlah milik kita saja, tetapi juga milik anak cucu kita… maka itulah saatnya untuk sadar bahwa sudah saatnya untuk mengurangi konsumsi kita.
Wejangan Mahatma Gandhi berbunyi, “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed”.
Mudah-mudahan kita selalu diingatkan akan apa yang kita butuhkan, dan tidak menyuburkan keinginan-keinginan yang pada skala global menyeret kita semua ke dalam kehancuran bersama.
Marilah belajar untuk tidak jadi KORBAN MARKETING…
Salam damai…






