In Harmonia Progressio…

- Pelestarian bangunan tua vs pembangunan gedung megah baru.
- Konservasi hutan atau persawahan vs pembangunan jalan tol.
- Kelanggengan terumbu karang vs pengembangan pariwisata laut.
- dll dll…
Bersenandung di bawah derasnya hujan…
Musim hujan telah tiba… Siap-siap payung, jas hujan, bermacet-macet, banjir, jemuran lama banget keringnya, genteng bocor, jalanan licin, dan lain-lain…
Tapi musim hujan ini juga jadi berkah buat petani dan ojek payung.
Kemarin sore, waktu pulang kerja lagi macet-macet di bawah derasnya hujan tiba-tiba pikiran kembali melayang ke suatu periode waktu sekitar 6 tahun yang lalu. Dalam satu periode di saat itu, keluarga kami masih kontrak rumah di sekitar Duren Sawit baru. Kendaraan yang kami punyai adalah sebuah motor Suzuki Tornado. Dengan motor kesayangan itulah saya pulang pergi kantor dan jemput istri dari kantornya. Walau saat ini sudah berusia 5 tahun lebih, masih bisa menghantarkan raga saya dalam kecepatan > 110 km per jam. Dengan motor itu jugalah saya berkesempatan merasakan rasa syukur mendalam terhadap helm full face saya yang telah menyelamatkan sebentuk dagu dan mulut saya dari terjangan aspal akibat senggolan sama mobil. He he he…
Sekitar 1 tahun setelah saya bergumul di kota Jakarta dengan Tornado kesayangan, puji Tuhan… terbelilah sebentuk mobil sedan yang kemudian nangkring di garasi rumah kontrakan kami. Rasa lega terbersit di hati kami, akhirnya punya mobil juga. Barangkali rasa syukur kami membeli mobil bekas itu lebih besar daripada rasa syukur para konglomerat yang membeli jaguar baru
Ada satu hal yang agak “merugikan” dengan hadirnya mobil di garasi kami. Entah kenapa, tetangga depan rumah yang tadinya sering memberi makanan entah itu kue atau martabak tidak pernah lagi mengantar “upeti” semacam itu lagi sejak ada mobil di garasi kami. Jangan-jangan terus gara-gara kami punya mobil terus dipikir kaya dan tidak layak diantari makanan. Weee… dibilang miskin nggak mau, tapi dianggap kaya kok nggak enak juga ya. Tapi walaupun sudah punya mobil, saya masih lebih sering pakai Tornado kesayangan. Praktis.
Yang saya mau sharing di sini adalah perbedaan perasaan yang saya alami antara 2 periode tersebut:
- Perasaan naik motor pada saat memang hanya motor itulah yang dimiliki.
- Perasaan naik motor pada saat itu merupakan pilihan bebas yang saya ambil dibanding naik mobil.
Cukup terasa perbedaan moralitas yang saya alami di 2 periode tersebut. Anda boleh percaya boleh tidak, rasanya jauh lebih nyaman dan bahagia pada saat saya naik motor atas pilihan saya sendiri. Pada saat naik motor sebagai satu-satunya opsi, kadang saya sempat mengeluh pada saat harus menghirup asap knalpot di kanan kiri motor saya. Sementara itu, pada saat saya dengan sadar meninggalkan mobil di rumah dan memakai motor maka segala konsekuensi yang didapat di jalanan lebih bisa saya terima dan hadapi dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.
Ada kalanya, pada saat musim hujan seperti ini… kalau waktu pulang kerja hujan turun deras, saya cuek saja melaju dengan motor. Basah ya biar saja, toh sampai rumah tinggal mandi. Bahkan seringkali pada saat hujan deras tersebut justru saya bernyanyi-nyanyi sambil berkendara di tengah lebatnya hujan. Memang air hujan yang menimpa wajah dan tangan terasa sangat dingin, justru hal itulah yang membuat air mandi di rumah terasa hangat. Ah… nikmat….
Cuma bikers dan mantan bikers yang paham hal ini lho.
Kenangan akan hal ini membuat saya berpikir, memang kita bisa bicara ini dan itu dengan lebih leluasa manakala ini dan itu yang kita bicarakan merupakan hal yang bisa dengan bebas kita pilih. Tatkala hidup tidak memberikan banyak pilihan bagi kita, disitulah kita diuji sampai seberapa jauh rasa syukur dan keimanan kita.
Kita bisa menghujat pelacur, pengemis, maling atau perampok sementara kita sendiri sulit menentukan akan makan siang di mana saking banyaknya pilihan warung makan di dekat kantor.
Kita bisa berbangga bisa menjalankan puasa (puasa Ramadhan, puasa Pra Paskah, dan puasa lainnya) dengan khidmat, tanpa makan-minum, bersabar dan menahan amarah… karena dengan tingkat keyakinan 100% kita akan segera bisa makan sepuasnya dalam waktu yang sudah terjadualkan.
Marilah coba untuk tidak menghakimi, coba berempati, dan coba menikmati apapun kondisi yang kita alami saat ini. Seperti quote yang saya dengar di Hard Rock FM kemarin sore…
“SOMETIMES THE BEST THING IN LIFE IS IN FRONT OF YOU…”
Salam damai.
6 tahun – Agatha Wulansari Sekarlangit…

7 Januari, 6 tahun yang lalu. Saya masih ingat pagi hari sekitar jam 7 terlahirlah putri pertama kami yang bernama Agatha Wulansari Sekarlangit (Sekar).
Tak terasa terlalu lama sejak saat itu, tahu-tahu berdirilah sebentuk gadis kecil di depan saya. Dengan gaya yang begitu rupa di depan kamera, menunjukkan pertumbuhannya dari balita menjadi gadis kecil yang mulai mencari hitam putihnya dunia.
Banyak yang bilang, punya anak perempuan itu pertanda bapaknya bandel. Entahlah, hanya Tuhan yang tahu bandel apa tidak saya ini. Yang pasti, memang punya anak perempuan agak membuat hati ini lebih banyak pikiran. Tapi saya buang jauh-jauh segala pemikiran itu…
Umur 6 tahun, semakin besar dan semakin kritis. Mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang kadang membuat dahi saya berkerut, hati saya deg-degan, dan kadang seringkali mengejutkan pertanyaan-pertanyaan yang bisa muncul dari bibir kecil itu. Dari mulai pertanyaan mengenai problematika hubungan keluarga, hingga pertanyaan tentang kebenaran agama ini dan itu. Ampuuunnn…
Tapi tidak apalah, sesulit apapun pertanyaannya akan coba sebisa mungkin saya cari tahu jawabannya. Lebih baik tanya ke bapaknya daripada tanya ke orang lain. Ya tho?
Teruslah engkau eksplorasi dunia ini anakku…
Pelajarilah berbagai hal yang membuatmu bisa membedakan hitam putihnya dunia.
Tatkala dunia begitu abu-abu, gunakanlah mata hatimu untuk membedakannya.
Entah bagaimana rupa dunia ini di masamu nanti anakku, untuk itulah mari kita sama-sama mempersiapkan dirimu menghadapi itu semua.
Selamat Ulang Tahun Anakku, Tuhan memberkati…
Salam damai.
Betapa sulitnya percaya propaganda politik…

Kita semua kenal Mahatma Gandhi, tokoh yang dikenal bijak tetapi keras dan teguh pada pendirian. Banyak contoh-contoh kecil tindakan kesehariannya yang patut diteladani, misalnya bagaimana dia rutin menenun kain sebagai simbol swasembada dan kecintaan produk dalam negeri.
Sekarang, banyak sekali kita lihat di setiap sudut jalanan terpampang foto-foto para caleg. Dengan tag line ini dan itu… Demikian pula di televisi, berbagai partai mengemukakan visi masing-masing.
Ada yang mengedepankan ketegasan pemimpin – semoga bukan eufimisme dari diktatorisme.
Ada yang mengedepankan anti KKN.
Ada yang mengedepankan perlindungan kepada rakyat kecil.
Nggak ada yang nggak bagus deh program-programnya.
Pertanyaannya sekarang:
Masihkah anda percaya pada segala yang disebutkan oleh para politisi itu tadi…
Apabila memang hati ini masih sulit untuk percaya pada mereka, haruskah saya memilih…
Banyak yang bilang, lebih baik memilih. Mungkin itu benar, tapi siapa ya yang bisa saya pilih…
Salam damai.


Hidup di atas titian rambut dibelah tujuh…
Saya teringat kejadian kira-kira 2 minggu lalu, pagi-pagi ketika saya melakukan ritual pagi hari –> BAB alias ke toilet
. Wah, sepertinya ritual kali ini sedikit seret nih nampaknya. Memang beberapa hari terakhir banyak makan daging berlemak, dan kurang makan buah / sayuran.
5 menit pertama rasanya tidak tergambarkan, mulas luar biasa. Barangkali inilah yang dirasakan para ibu yang mau melahirkan, tinggal ditambah kadar sakitnya. Walah, ampun… kadang pada saat-saat mulas memuncak saya sampai minta ampun sama Yang Membuat Mulas.
Setelah puncak mulas terlewati dengan meluncurnya beban yang ada di perut, wah terasa benar indahnya dunia ini. Itulah salah satu saat paling melegakan dalam hidup, pada saat beban hidup keluar dari kita.
Saya jadi kembali teringat ujar-ujar jawa yang bertutur bahwa hidup ini ibarat kita menumpang minum – “urip iku paribasane mung mampir ngombe” (http://wisatajiwa.wordpress.com/about/). Kita hanya menjadi saluran dari segala macam yang melewati kita, dari mulai udara, makanan, minuman, ilmu pengetahuan, juga harta. Sebagaimana layaknya sebuah aliran, akan menjadi indah tatkala input dan output berada dalam tataran yang sesuai dan serasi. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang inputnya berlebih dibandingkan outputnya bisa membanjiri lingkungan sekitarnya, sementara yang kekurangan input akan menjadi kekeringan.
Demikian juga dalam hidup kita, kita makan seenak apapun pasti akan dibuang juga dari badan kita. Kadang kita terlalu memfokuskan segala usaha kita untuk menjamin input yang masuk ke kita, dari mulai mencari nafkah, makan, minum, dan belajar ini itu. Kadang saya sendiri lupa ada satu sisi lagi yang musti saya atur dengan baik, yaitu penyaluran keluar dari semua yang masuk ke raga saya ini.
Kembali ke saat-saat 5 menit pertama di toilet tadi, terasa betul ringkihnya kehidupan kita ini. Ibarat meniti di atas rambut dibelah tujuh. Baru dimampetin BAB-nya saja sudah ampun-ampunan rasanya. Wah… jadi ingat salah satu iklan asuransi di TV di mana digambarkan seluruh manusia hidup di atas bola. Tergambar di iklan itu betapa “vulnerable” hidup kita sebagai manusia.
Kalau sudah begini, kembali saya diingatkan untuk menjaga pula output kita di dunia ini pada level debit yang sesuai dengan input yang kita dapatkan. Berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain… berbagi amal harta kepada yang lebih membutuhkan…
Gampang ngomongnya, SUSSAAAAHHHH banget menjalaninya. He he he, kata siapa hidup jadi manusia itu gampang ya…
Salam damai.






