Tag

, , , , ,

Sekarlangit, mulai Senin minggu ini Ulangan Umum Semesteran pertamanya di SD. Jadi inget jaman dulu SD di kampung… yang namanya Ulangan Umum, walah… gak ada bedanya dengan hari lainnya. Sama sekali nggak belajar, sampai baru kena batunya pas (jaman dulu namanya) PRA EBTA keluar hasilnya dan nilaiku ada di peringkat 2. Terpaksa deh, belajar… he he he…

Sekarang bandingkan dengan ulangan umum Sekarlangit.

  1. dulu IPS mulai kelas 3, sekarang mulai kelas 1
  2. dulu bahasa inggris mulai SMP, sekarang mulai SD
  3. dulu kelas 1 masih levelnya belajar baca, sekarang dah hapalan ini dan itu
  4. dulu bahannya cuma 1 buku cetak, sekarang ada rangkuman per minggu segala

Memang hebat anak-anak jaman sekarang. Seperti orang-orang bijak selalu bilang: hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dulu aku SD mana tahu ada telepon otomat, tadi malam Sekarlangit mulai paham koneksi dari komputer di rig – ke antena VSAT – ke kantor pusat di Jakarta, setelah lihat iklan Lintasarta di Tempo.

Itu nggak seberapa, coba saja jalan ke Mal. Bakal banyak ketemu deh anak-anak kecil pada ngomong bahasa Indris (Indonesia campur Inggris) dengan mamanya… yang namanya laptop, PS, Wii, dsb sudah jadi makanan sehari-hari. Te-o-pe be-ge-te deh pokoknya.

Itu juga belum seberapa, sepanjang jalan dari rumah ke Mal bakal banyak ketemu banyak banget tempat les. Mulai dari aritmetika, kumon, jaritmatika, sempoa, dll. Yang namanya hitung-hitungan buat anak-anak itu sudah ibarat bernapas aja… nggak mikir lagi. Hebat tenan…

Belum lagi masalah pendidikan kepemimpinan. Lihatlah anak sekarang lebih bisa berekspresi (baik itu marah atau senang), lebih bisa mengorganisir (bahasa positifnya memerintah), dan berbicara di depan publik. Jamanku dulu, kalau disuruh maju… walah…. pada “mendhelep” semua. He he he…

Pemikiranku tentang kemajuan-kemajuan itu sebenarnya simpel saja…

  1. dulu aku belajar reaksi kimia sampai njelimet, kok sekarang nggak kepakai sama sekali ya… efektifkah belajar sains sampai sedalam itu untuk semua anak?
  2. sekarang sudah mulai susah nemuin anak-anak ngomong bahasa daerah, jangan sampai 10 tahun lagi susah nemuin anak-anak ngomong bahasa Indonesia.
  3. kalau semua pandai memimpin, siapa yang kelak mau jadi bawahan ya… he he he…
  4. mengungkapkan ekspresi itu baik, tapi kok aku masih kurang sreg ya kalau suatu saat budaya Indonesia kehilangan tata krama dalam mengungkapkan perasaannya.

Moga-moga aja kekhawatiranku ini cuma semu semata…

Memang susah jadi manusia… he he he…

Salam damai.