Tag

, , , , , , ,

Ketika kita dahaga, segelas air putih menjadi lebih berharga dibandingkan sepiring lasagna hangat…

Pada saat kita memiliki 2 gelas air putih, sudah tentu dengan sukarela kita membagikan 1 gelas bagi rekan kita yang sama-sama haus. Akan tetapi tatkala hanya tinggal 1/2 gelas yang tersisa, dan datang rekan kita yang juga haus seperti kita… seberapa banyakkah kita rela berbagi…

Bisa saja kita berdalih kita sudah berusaha keras mendapatkan 1/2 gelas itu, sementara rekan itu malas-malasan sepanjang hari… Kita yang berangkat kerja jam 6 pagi pulang jam 7 malam demi 1/2 gelas itu, diminta berbagi air dengan rekan yang masih tidur ketika kita berangkat kerja, dan nongkrong ketika kita pulang kerja… Segenap jiwa dan raga kita berteriak, “Ini milikku!!! Ini hasil keringat dan jerih payahku… sangatlah adil apabila aku mendapatkan apa yang aku usahakan siang dan malam”.

Ada sedikit pengalaman yang diceritakan istriku tadi malam. Dia lagi cuti melahirkan, jadi sehari-hari di rumah nih ceritanya. Setiap pagi ke warung dekat rumah untuk beli sayuran dan bahan-bahan buat dimasak. Si pemilik warung ini berasal satu daerah sama aku, yaitu Purwokerto tercinta. Dia bukanlah orang yang banyak uang, rumahnya hanya ngontrak sepetak kecil. Suaminya buruh bangunan yang suka bantuin bener-benerin genteng di rumahku.

Istriku melihat betapa sering si Ibu warung itu memberi sedekah ataupun memberi belanjaan cuma-cuma bagi beberapa orang / anak yang secara logika terlihat tidak terlalu “layak” untuk mendapatkan uluran tangan tersebut.

Sebutlah sekelompok anak-anak kecil meminta sumbangan ini dan itu, yang diyakini tidak lama setelah mereka mendapat sumbangan mereka langsung lari beli permen atau es krim. Belum lagi para pengemis dewasa yang lewat. Tetapi dengan mudahnya si Ibu warung itu merogoh kantongnya dan memberikan uang sekedarnya bagi mereka.

Ah… betapa ringannya… tanpa banyak berpikir kelayakan, tanpa banyak berpikir siapa yang lebih layak menyumbang atau disumbang.

Aku sendiri pernah mengalami hal yang masih tidak bisa aku lupakan. Sekitar 15 tahun lalu, aku masih mahasiswa di Bandung, mau nonton di Alun-Alun. Ketika itu jam 10 malam, di tangga ke arah bioskop aku jumpai seorang pengemis di lantai menghitung uang hasilnya mengemis hari itu. Terhenyak juga melihat betapa banyak uang yang dia dapat. Langsung otakku bekerja cepat, kalau uang itu dihitung dan dikumpulkan dalam seminggu saja, sudah lebih besar dari uang kirimanku waktu itu sebulan.

Saat itu juga aku berikrar, gak akan ngasih duit ke pengemis. Mending disumbang melalui yayasan yang selayaknya, sehingga dengan demikian aku tetap beramal tetapi turut serta mendisiplinkan para pengemis untuk tidak mengemis di jalan tetapi datanglah ke yayasan-yayasan itu. Jalanan akan semakin rapi dan semua orang hidup bahagia. Ah… sungguh suatu pemikiran yang menurutku sungguh sangat bijaksana untuk orang selevelku…

Tetapi si Ibu warung itu tadi telah memberiku sisi pandang lain tentang kehidupan “beri – memberi” ini.

Aku jadi mempertanyakan kembali “kebenaran” dari ikrarku yang beberapa waktu lalu masih nampak sebagai suatu pemikiran yang sangat brilian dan rasional di benakku…

Belum lagi melihat posisiku sekarang yang bisa dikatakan jauh lebih mampu dibanding si Ibu warung tadi, entahlah apakah aku harus memberinya pengertian tentang dampak jangka panjang memberi uang pada pengemis dan anak-anak jalanan, ataukah justru harus malu melihat spontanitasnya yang datang bukan dari logika dan nalar tetapi dari perasaan sebagai sesama manusia…

Ah, si Ibu warung ini menjadi wahana untuk kembali memberiku salam hangat dari surga…

Salam damai…