Masih melanjutkan dari postingku “salam dari panther biru” sebelumnya…

Time & place: Mal Kelapa Gading – dating time alias malam minggu.

Setengah jam di dalam mal, Lintang masih juga susah diam. Waduh, kacau juga nih acara kalau begini jadinya.  Akhirnya disepakati deh, istri balik ke mobil sama Lintang. Aku sama Sekar beli ini itu seperlunya, dan secepatnya.

Sekar memutuskan mau beli Nasi Campur, sementara aku mau beli Swikee. Cek dompet, eh duit cekak🙂 Cari ATM dulu deh… Wah, ternyata ATM-nya ada di ujung MKG3. Ini sih namanya coast to coast. Jadilah kami berdua – bapak dan anak – cross country menyeberangi MKG1 – MKG2 – MKG3.

Sepanjang kami jalan di koridor itu, ya ampun yang namanya manusia… banyak banget berseliweran. Matanya gak ada yang liat jalan, tapi pada liat barang apa yang mau diborong. Walah, itu yang namanya aliran duit baik yang fisik maupun elektronis entah berapa yang mengalir malam itu.

Perasaan dunia lagi krisis, tapi kok yang namanya ngeborong belanjaan jalan terus ya? Hebat betul ini Indonesia…

Jadi ingat ada teman yang berujar, kalau negeri kita mau makmur semua kita harus banyak belanja. Kalau kita banyak belanja baju, pedagang baju banyak beli baju, industri garmen maju, karyawan garmen makmur dan beli banyak daging dan ayam, pedagang dan produsen daging/ayam naik pendapatannya, mereka akan beli baju yang bagus-bagus, begitulah seterusnya. Ibarat lingkaran yang semakin deras arusnya. Wow, pemikiran yang hebat juga…

Coba kita terus telusuri, andaikan karyawan garmen tadi terus jadi belanja barang elektronis, daging impor, motor, artinya duit mengalir ke luar negeri dong… Artinya, semakin banyak kita belanja – semakin kaya negara-negara lain. Semakin miskinlah kita di antara negara-negara. Itulah kalau teori konsumsi diberlakukan di negara dengan sistem ekonomi terbuka, jadinya malah tekor. Di negara yang ekonominya tertutup konsumsi akan berdampak baik –> jaman Pak Harto namanya swasembada.

Kalau kejadian ini berlangsung terus yang kejadian akhirnya: kita kerja keras –> dapet gaji –> buat beli motor, mobil, laptop, handphone, jeans, sepatu bikinan luar negeri –> negara lain makin kaya –> negara lain beli perusahaan Indonesia –> kita kerja di perusahaan itu.  Ironis nggak sih… Yang lebih ironis lagi, statusku sampai saat ini masih ada di lingkaran yang “aman tapi menyesatkan” itu…

Memang sih, kita nggak akan dibiarkan bangkrut dan ter-PHK. Toh kalau kita bangkrut dan gak bisa beli apa-apa, modal luar negeri yang ditanam di negeri ini akan susut nilainya. Tetapi apakah cuma sampai segitu aja level Indonesia? Sebagai bangsa pekerja…

Kalau kita dulu dijajah secara fisik, sekarang kita dijajah secara ekonomi.

Walah, emang sulit ya… YA IYALAH!!!

Siapa bilang me-manage negara itu gampang, lha “musuh”nya orang-orang pintar semua je… Paling enak itu emang jadi komentator atau oposan. Komentarnya pasti dijamin benar semua, nggak ada yang salah….

He he he…

Tau ah, gelap…

Salam damai.