Tag

, , , , , ,

Malam minggu, 6 Desember 2008.

Time & place: Mal Kelapa Gading – dating time, alias selepas maghrib.

Kami berempat sekeluarga meluncur memasuki pelataran MKG, setelah sepanjang jalan Lintang (my new born baby – 2 months) nangis entah kenapa. Kemungkinan karena masih kurang tidur siangnya.

Setelah melewati drop point alias lobi samping, mulailah mengantri cari parkir. Lagi antri-antri, dengan tetap dihiasi soundtrack tangisan Lintang… berjalan seorang bapak-bapak umur 45-50an di samping mobil. Sekali lirik ke kiri, ngapain nih bapak jalan pelan di samping mobil. Masih agak-agak paranoid sama kejadian 2 minggu lalu “salam dari maling“…

Selagi masih dalam antrian itu, si bapak tadi ngasih kode pakai tangan ke arahku buat ikutin dia pelan-pelan. Wah, mau dikasih parkir nih nampaknya… he he he… Dia jalan pelan… pelan… sembari menunggu mobil-mobil depan kami lewat, barulah dia masuk mobilnya – Panther biru yang terparkir di jajaran pinggir mal, nggak jauh dari lobi. Wah lumayan banget nih. Emang bener kata orang, jodoh – rejeki – dan parkir ada di tangan Tuhan. He he he.

Weits, tapi tunggu dulu… dari sekian banyak mobil yang antri, kenapa dia pilih mobil kami???

Mobil yang kami pakai waktu itu Avanza, depan dan belakang kami sedan. Jangan-jangan mobil kami paling gampang buat dijahilin dibanding sedan. Wah paranoid menjalar lagi nih… Tapi syukurlah, ditinggal sekitar 30 menitan gak ada apa-apa.

Jadi kepikiran sampai sekarang… dari sekian banyak mobil yang antri, kenapa si bapak baik hati itu memilih KAMI. Apa yang membedakan mobil kami dibandingkan mobil lain yang bisa membuat bapak itu melambaikan tangannya ke mobil kami. Padahal bisa saja dia cuek aja ke mobil, terus cabut. Terserah siapa yang mau gantiin posisi parkirnya. Tetapi dia memilih untuk memberi kami kode, jalan pelan-pelan menunggu mobil depan kami lewat, baru dia masuk ke mobilnya dan cabut dari parkiran itu.

Mungkin bapak itu jadi messenger untuk menyampaikan salam dari surga buat kami, yang sedang kerepotan dengan tangisan Lintang sepanjang jalan.

Apapun alasannya, terima kasih buat bapak Panther biru. Salam dari kami, semoga kebahagiaan selalu melingkupi kehidupan Bapak…

Salam damai.