Tag

, , , , , ,

Sabtu pagi, bangun siang… istri sibuk sama Lintang jadi belum masak.

Ting ting ting…. tukang bubur lewat. 1 menit kemudian kami baru ngeh, lho… BUBUUURRR!!! langsung keluar pintu sambil teriak.

Tukang bubur balik lagi deh, sudah 50 meter lewat. “Maaf bang, jadi balik lagi” kata istriku. Sekar, yang berdiri di belakang istriku menimpali, “Lho Bu, nggak usah minta maaf. Kan dia justru untung kita beli”… Aku yang lagi sibuk nulis membatin, wah cerdas juga anak ini secara ekonomi.

Memang tidak bisa kita pungkiri, generasi anak-anak saat ini jauh lebih cerdas dibandingkan generasiku dulu. Susah dibayangkan aku bisa ngapain waktu aku kelas 1 dulu.

Malamnya, aku dan istriku sambil ngobrol sana-sini mulai mikir tentang economy awareness dari Sekar. Secara teori apa yang diucapkan Sekar pagi itu 100% benar belaka. Tukang bubur itu pasti lebih untung kalau kami panggil dibandingkan kalau tidak kami panggil.

Satu hal yang kami pertanyakan, apakah empati Sekar terhadap usaha tukang bubur itu jalan kesana kemari kurang ya… Minta maaf ke tukang bubur itu sendiri memang sebagai media untuk menyamakan level antara pembeli dan penjual supaya tidak terjadi kesenjangan. Itulah yang ingin kami tanamkan ke anak-anak kami. Hanya karena kita membayar barang/jasa seseorang, tidak berarti menempatkan posisi kita sebagai manusia di atas posisi penjual.

Di sisi ekstrim yang lain, ada keluarga yang berprinsip tidak mau memakai jasa house assistant alias pembantu rumah tangga dengan alasan takut berdosa. Deg… aku jadi langsung termenung… berdosakah aku… Tapi bukankah hubungan tersebut merupakan simbiosis mutualisme? Tidak ada sama sekali unsur paksaan? Memang sih tidak ada unsur paksaan, tetapi sistem yang sudah turun temurun kadang menjadikannya diterima apa adanya tanpa dipertanyakan lagi benar atau salahnya.

Aku lantas berandai-andai… apakah iya, 20 atau 50 tahun lagi PRT akan dikategorikan sebagai perbudakan modern oleh generasi saat itu seperti halnya generasi kita sudah tidak lagi mengenal perbudakan dan perbedaan warna kulit. Ah… terlalu jauh untuk pikiranku yang sangat terbatas ini.

In the meantime (apa ya bahasa Indonesianya yang enak), aku selalu ingat-ingat, empati… empati… empati… Coba menempatkan diri kita di posisi mereka, aku mau apa enggak jadi PRT kalau aku jadi mereka. Mudah-mudahan aku selalu bisa ingat tentang itu, karena kadang banyak hal yang membuatku begitu mudah melupakan itu.

Empati… empati… empati…

Kayak lagu Too Much Love Will Kill You:

How would it be if you were standing in my shoes….

Salam damai…