Tag

, , , ,

Membicarakan, mengunjungi, dan menelusuri sudut-sudut kota Yogyakarta memang tidak akan ada habisnya. Setiap perjumpaan kembali dengan kota tersebut pasti akan meninggalkan kesan yang cukup mendalam. Paling tidak itulah yang saya rasakan setiap kali ke sana…

Perjalanan ke yogyakarta kali ini saya lakukan pertengahan tahun ini bersama istri saja. Anak tinggal di rumah karena memang hanya 2 hari di yogyakarta dan hari kerja karena memang pada awalnya ini merupakan perjalanan dinas. Jadilah kami macam pengantin baru, jalan berdua kesana kemari.

Setelah urusan dinas selesai saya pulang ke hotel untuk mandi, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Malam itu kami berencana untuk menyusuri Malioboro. Mungkin Malioboro sudah sangat banyak dikenal semua orang, tapi menyusuri Malioboro lepas jam 9 malam merupakan pengalaman yang cukup berbeda dibandingkan tempat yang sama pada siang dan sore hari.

Karena sudah makan malam bersama klien, kami sengaja tidak mencari makanan berat lagi di sepanjang Malioboro. Perjalanan kami awali dari sisi utara Malioboro, minum wedang ronde (semacam sekoteng) di pinggir jalan. Kami nikmati sendok demi sendok sekoteng itu, sambil sesekali memperhatikan si penjual yang nongkrong bareng tukang-tukang becak. Penuh dengan canda, tidak tampak ketergesaan maupun ambisi untuk menjadi lebih di dunia ini. Mungkin memang diperlukan spiritualitas untuk hidup secukupnya dalam dunia yang makin materialistis ini. Saya jadi ingat frasa dalam bahasa jawa ”urip sak madya”, yang artinya hidup secukupnya. Bukan berarti rumah cukup 3, mobil cukup 5, istri cukup 4 lho ya…

Ngobrol sana sini (bahasa jawanya ”ngobrol ngalor ngidul”), bayar secukupnya, kamipun melanjutkan jalan-jalan santai malam itu ke arah selatan.

Kok tiba-tiba jadi merasa tua, masa jalan kami Malioboro dari ujung ke ujung aja capek… wah istirahat dulu deh di depan Pasar Beringharjo. Di depan pasar ini kami minum teh di warung gudeg yang ada di situ. Kalau mau coba makan malam di situ cukup menarik lho menunya… gudeg lengkap yang hangat di malam hari. Disitulah kami bercengkerama panjang lebar dengan pemilik warung itu, dia bilang ”panggil saja saya simbah”. (simbah = kakek/nenek)

Panjang lebar diceritakannya, bagaimana dia mulai ikut orangtuanya berjualan sejak tahun 60-an ketika dia masih seorang gadis kecil. Ah, begitu cepat 40 tahun itu berlalu… kenangnya dengan mata menerawang. Dimatanya terbayang bagaimana rupa Malioboro dahulu yang masih tenang, dengan pandangan ke Gunung Merapi yang jelas terpampang di sebelah utara. ”Dibandingkan dengan sekarang, sudah jauh berbeda Mas…”, demikian ujarnya sembari mengembalikan pikirannya ke masa kini. Modernisme telah menggilas segala ketenangan masa lalu. Hal ini kembali membuat saya tercenung, apakah ada solusi yang ideal dan indah untuk mengawinkan dinamisnya dunia modern dengan kedamaian dunia tradisional.

Ada sekitar 45 menit kami berkutat di depan Beringharjo sampai akhirnya jam 11 malam kamipun memutuskan untuk kembali ke hotel. Masih ada acara esok pagi untuk menikmati aktivitas pagi hari di sekitaran Malioboro dan Beringharjo.

Jam 5:30 pagi kami sudah siap dengan fisik dan kamera untuk menikmati pagi hari Yogyakarta. Ah ternyata aktivitas sudah cukup ramai, mulai dari penjual nasi pecel Madiun yang siap sedia di depan Malioboro Mal hingga hiruk pikuk perniagaan pagi hari di pasar Beringharjo.

Begitu banyak yang ditawarkan bagi kami pada saat menyusuri Beringharjo dan Malioboro di pagi hari itu. Mulai dari nasi pecel, gudeg, jajanan pasar, dan terutama makanan bagi jiwa kami. Begitu tergerak hati kami melihat bagaimana para pedagang, yang sebagian besar ibu-ibu, bekerja keras mulai dari pagi hari dari desa-desa di sekitar Yogyakarta. Bahkan ada yang sampai tertidur di pinggir jalan, kemungkinan besar dia sampai di Yogyakarta malam hari. Ah, betapa bersyukurnya kami yang bisa punya pekerjaan rutin tanpa harus bekerja sekeras mereka…

Ternyata menelusuri sudut-sudut Malioboro di waktu-waktu yang tidak biasa dijadikan waktu berwisata memberikan sebuah wisata jiwa bagi kami. Banyak pelajaran yang diambil dari perjalanan itu, yang lebih dalam maknanya dibanding belanja batik, beli gudeg, beli oleh-oleh, dan barang lainnya yang biasa ditawarkan bagi turis. Kali ini kami pulang dari Yogyakarta membawa oleh-oleh bagi jiwa kami sendiri, yaitu rasa bersyukur dan kembali diingatkan untuk menyeimbangkan ambisi muda kami, segala rasio dan ilmu yang kami kuasai, dengan rasa damai. Apalah gunanya hidup bergelimang materi tanpa adanya rasa damai di hati.

Jadi kalau lain kali ke Yogyakarta, saya sarankan Anda untuk mencoba mengeksplorasi kota tersebut dari sudut pandang lain. Semoga bisa mendapatkan pencerahan bagi jiwa Anda.

Salam damai….