Tag

, , , , , , , , ,

Pagi ini terima rapor…

Ijin datang siang ke kantor, mau ambil rapor Sekarlangit ke sekolahnya. Sekalian mau ngobrol langsung dengan gurunya tentang perkembangan dia di sekolah, baik itu akademis maupun sosialnya.

Dapat nomor urut 10, terus masuk ke kelas bareng Sekar. Tanpa basa-basi terlalu banyak, bu gurunya langsung menyodorkan rapor Sekar. Rapor kelas 1 SD, sudah tidak seperti jaman dulu saya sekolah (ya iyalah…). Bukan lagi sebentuk buku, tapi map besar dengan isinya beberapa lembar laporan kemajuan siswa.

Aku lihat sekilas, matematika… ipa… ips… ppkn… agama… dll, secara umum di atas ada di rentang 80 – 95. Khusus kesenian dan olahraga, 70-an🙂 What do you expect, sebagai yang termuda di kelasnya (masuk SD 5 tahun). Tapi masih lumayan, walaupun 70-an tapi masih di atas rata-rata kelas.

Iseng-iseng nanya, Sekar ranking berapa di kelas. Ternyata mulai kurikulum tahun ini sistem ranking ditiadakan. Informal ibu guru menyebutkan bahwa Sekar masuk grup 5 besar (tanpa urutan). Informasi 5 besar itu ternyata nyambung dengan pin di saku baju Sekar bertuliskan “Excellent Student”. Oalah, baru ngeh ada pin itu di bajunya… Jadi itu to maksudnya excellent student.

Cek sana cek sini, ternyata sistem ranking penomoran di kelas itu lebih banyak menimbulkan efek sosial antar murid yang kurang sehat. Banyak murid yang ranking bawah, bukannya termotivasi untuk menaikkan ranking tapi malah menjadi minder dan rendah diri.

Memang pada saat anak masih sangat muda, lebih baik dipupuk kepercayaan dirinya…

Jadi sepertinya sekolah tempat Sekar itu cukup cerdas dalam menyikapi kondisi yang demikian adanya. Murid-murid yang laporan akademisnya top 5 diberi pin Excellent Student, sementara sisanya tidak diberikan apa-apa dan tidak diberikan nomor ranking.

Semoga strategi tersebut bisa menjadikan kebanggaan bagi 5 anak tadi, dan tidak membuat minder murid sisanya karena tidak disebutkan secara gamblang posisi mereka. Justru diharapkan sistem pin tadi dapat memacu murid-murid lain untuk bisa dapat pin di semester depan.

Saya sendiri setuju bahwa prinsip kompetisi layak diperkenalkan dari awal anak sekolah, tetapi memang tidak perlu pada level yang sangat intens mengingat sangat banyak dimensi pengetahuan yang bisa menjadi ajang anak untuk mengembangkan kemampuannya.

Satu hal yang pasti, saya musti siap-siap dana buat beli PC nih. Sudah terlanjur janji beliin Sekar PC kalau dia ranking 1 (tadinya saya pikir masih ada sistem ranking)… Habisnya dia minta gameboy, saya bilang daripada gameboy mendingan PC.

Ayo ayo… rupiah menguat terhadap dollar dong, biar harga PC turun… He he he…

Salam damai.