Tag

, , , , , , ,

Belakangan ini sering sekali kita dengar, baca, dan lihat berita tentang perkelahian – tawuran – demo anarkis mahasiswa di berbagai daerah di Indonesia. Hmmm…..

Sementara itu di sisi lain kita juga sering dengar, baca, dan lihat di berita maupun artikel-artikel tentang bagaimana mahasiswa diharapkan perannya sebagai kaum elite di bangsa ini untuk menjadi agen perubahan.

Saya jadi berpikir dan melakukan beberapa perbandingan kasar, barangkali Anda bisa tambah data biar lebih komprehensif.

  1. Di tahun-tahun revolusi 1965, apalagi di tahun perjuangan kemerdekaan Indonesia… berapa jumlah mahasiswa di Indonesia… betapa sedikitnya ya. Para karyawan pada masa itupun kebanyakan bukan lulusan universitas. Coba kita bandingkan dengan kondisi sekarang. 1 universitas saja bisa merekrut ribuan mahasiswa setiap tahunnya. Bisa dibayangkan berapa ratus ribu jumlah mahasiswa saat ini. Belum lagi kita jumlahkan penduduk usia di atas 25 tahun yang sudah berstatus sarjana, entah sudah berapa banyak. Jangankan S1, yang S2pun sudah banyak sekali jumlahnya.
  2. Kita lihat prestasi-prestasi mahasiswa kita sekarang, dari yang paling bagus sampai paling “notorious”.  Banyak prestasi mahasiswa Indonesia di bidang akademis, juara kompetisi bisnis ini dan itu… walaupun di sana-sini dihiasi prestasi norak dan kampungan dalam bentuk perkelahian, tawuran, maupun demo tanpa rasional dan modus operasional yang jelas.
  3. Kita lihat apa yang dilakukan mahasiswa-mahasiswa di Amerika sana. Di sana tidak lagi berfokus pada mencari IP tinggi untuk cari kerja, tapi bagaimana bikin start up companies yang bisa hit dalam 1-2 tahun. Memang kadang hanya 1-2 dari ribuan start up companies itu yang bisa hit, tetapi cukup 1-2 companies itu bisa mempekerjakan ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar keras untuk dapat IP tinggi itu tadi.

Dari perbandingan-perbandingan kasar tadi, jadi bisa ambil beberapa kesimpulan yang sangat prematur tapi paling tidak bisa kita perdebatkan kembali…

  • Saya lihat kok kita sudah tidak lagi sepatutnya memandang mahasiswa sebagai “kaum elite” yang bisa diharapkan menjadi motor penggerak bangsa ini. Jadi mahasiswa itu sudah standard banget jaman sekarang, basic-lah… nggak ada elit-elitnya babar blas🙂
  • Bicara dengan bahasa tegasnya, untuk level kompetisi politik dan ekonomi baik di dalam negeri maupun internasional yang sudah sekompleks ini sepertinya sudah sepatutnya kita lebih mempercayakannya pada para mahasiswa yang memang sudah lebih “elite” secara relatif di kancah dunia. Janganlah suara demo mahasiswa tingkat 1-2 dari universitas entah apa, dijadikan salah satu materi politik yang nantinya bisa menyetir masa depan bangsa. Mbok sekali-kali kita dengarkan para mahasiswa S3 kita yang belajar di best universities di luar sana, selama ini masih belum banyak diberdayakan.
  • Mbok adik-adik mahasiswa itu seriuslah belajar dan berbisnis. Kalau pas mahasiswa isinya cuma berantem, demo yang nggak jelas basis rasionalismenya, jadi aktivis, nantinya paling nggak jauh dari main politik uang buat jadi pejabat.
  • Bagaimana ya caranya di tahun 2025 nanti perusahaan-perusahaan Indonesia bisa mempekerjakan lulusan-lulusan terbaik universitas negara lain…

Mohon maaf kalau pendapat saya ini barangkali menyinggung perasaan beberapa dari Anda, tapi ya begitulah adanya menurut pendapat saya. Mari menempatkan posisi mahasiswa pada kondisi yang sewajarnya pada masa ini.

Janganlah karena dulu orang bisa baca tulis dianggap hebat, lantas sekarang kita masih saja mengagung-agungkan posisi orang yang bisa baca tulis… itu sih anak TK/SD juga bisa.🙂

Salam damai.