Tag

, , , ,

Punya uang untuk beli rumah di Jakarta, kita dihadapkan pada 4 pilihan besar:

  1. beli rumah di kompleks perumahan di kota Jakarta –> $$$
  2. beli rumah di perkampungan kota Jakarta –> $$
  3. beli rumah di kompleks perumahan kota satelit –> $$
  4. beli rumah di perkampungan kota satelit –> $ / atau $$ tapi dapat tanah luas

Opsi 1 skip, berhubung duit di rekening belum sampai level $$$.

Pilihan lebih ke opsi 2 atau 3.

Orang bilang rumah itu ibarat jodoh, betul juga untuk kasus saya. Sekitar 4 tahun lalu pemilik rumah di depan rumah mertua menawarkan rumahnya ke kami. Dengan sangat menyesal kami belum bisa bilang iya, karena memang waktu itu dana masih belum ada.

Satu tahun kemudian, orang itu menawarkan lagi ke kami. Akhirnya dengan modal “nothing to lose” kami cuma bisa bilang, “Boleh Opung, tapi bayarnya nyicil 3 kali sampai tahun depan ya…”. Dasar emang jodoh, jadilah transaksi itu. Dan kamipun punya sebuah rumah, di perkampungan di Jakarta Timur – tepat di depan mertua. Banyak yang bilang, lokasi depan orang tua itu merupakan intangible asset yang sulit dinilai harganya.

Lingkungan kami seperti perkampungan pada umumnya, memiliki ciri heterogenitas multi dimensi yang cukup tinggi. Coba saja lihat, dari 1 RT yang berjumlah kurang lebih 50 kepala keluarga lengkap ada orang dari asli betawi, jawa, sunda, batak, padang, manado, entah mana lagi. Dari sisi sosial ekonomi juga begitu, terciri dari jenis rumahnya. Mulai dari yang masih tinggal di kontrakan petak, hingga yang luas rumahnya di atas 300 m2 dan mobilnya lebih dari 2.

Satu peristiwa rutin yang saya mau sharing di sini adalah peristiwa rutin harian yang bisa menjadi alarm syukur saya. Peristiwa rutin itu tak lain adalah (maaf) jadual BAB (buang air besar) di toilet.

Toilet rumah kami letaknya di bagian belakang rumah, di mana di belakang rumah kami ada rumah petak kontrakan. Karena letaknya yang bersebelahan persis itulah maka apa yang terjadi di rumah kontrakan itu bisa terdengar dari toilet.

Selama 10 menit upacara rutin di ruangan 2 x 2 itu, banyak sekali wisata jiwa yang bisa ditemui. Ada lagu Isabella dan Suci Dalam Debu yang membawa saya kembali ke masa-masa era akhir 80-an hingga awal 90-an. Ada pula perbincangan-perbincangan ringan dalam bahasa Jawa kental yang membuat saya merasa tidak sedang berada di Jakarta. Ada pula obrolan keluh kesah para lelaki yang tahun lalu terpaksa tidak bisa menikmati siaran langsung liga Inggris. Ada juga yang kurang enak, yaitu asap rokok yang kadang sedikit tercium masuk dari lubang udara di atas.

Menikmati segala peristiwa dari ruang kecil itu, sedikit banyak memberikan memo rutin ke benak saya akan betapa nikmatnya apa yang sudah saya dapatkan dalam hidup ini.

Memang kalau dipikir kurang etis ya, bersyukur di atas kekurangan orang lain. Tapi bagaimana lagi, lha memang paling enak itu bersyukur kalau melihat yang di bawah. Kalau melihat yang di atas kita, kan jadi bingung apa yang harus kita syukuri ya… Nanti malah terus jadi nyari aneh-anehnya tentang yang di atas kita itu. Yang pakai dukunlah, yang KKNlah, yang menjilat bosnyalah, yang kerja kantoran tapi banyakan ngobyeknya daripada kerjanyalah, dan masih banyak lagi kecurigaan-kecurigaan yang tidak perlu hanya demi rasa nyaman dan syukur atas kekurangan kita.

Yah paling tidak, itulah nikmatnya tinggal di kampung (Jakarta tapi kampung, lucu ya…🙂 ).

Kalaupun dibilang kurang etis, ya biarin sajalah… lha memang levelnya baru bisa begitu mau bagaimana lagi…

Salam damai.