img_7096a1

Apa yang terlintas di benak anda setelah membaca papan di atas?

Segera berbagai imajinasi dan bayangan mulai menari-nari di benak kita akan apa yang dimaksudkan dengan secuplik kalimat “teaser” tersebut tentunya.

Saya tidak tahu persis seberapa banyak dari anda yang tahu ada di mana papan ini. Bahkan mungkin ada yang pernah melewatinya tanpa sempat membacanya. Buat yang masih ingat, ya betul… ini ada di atas lorong masuk Disneyland HK.

Disneyland HK dibangun beberapa tahun lalu, di atas pulau Lantau di seberang Kowloon dan HK Island berdekatan dengan bandara yang baru. Dilihat dari lokasinya, Disneyland itu sendiri berada “in the middle of nowhere” di tengah pulau yang masih sangat sepi.

Akan tetapi, dari lokasi pulau yang tidak apa-apanya dulu… sekarang berduyun-duyun orang dari berbagai penjuru dunia, membawa segepok uang untuk datang ke sana. Dari pengamatan sekilas saya, paling banyak dari sekitar Asia (China, India, Indonesia) yang datang ke sana.

Dengan cukup mahalnya tiket, makan, minum, snack, dan souvenir di kompleks Disney tersebut, barangkali minimal 1 orang rata-rata mengeluarkan sekitar 700 ribu – 1 juta rupiah tergantung berapa banyak souvenir yang dia beli. Untuk seorang yang “financially relatively minimalist” di sana, saya mengeluarkan sekitar 750 ribu (500 ribu tiket, 150 makan, sisanya oleh-oleh).

Dikalikan jumlah pengunjung yang entah berapa ribu / puluh ribu dalam sehari, Disneyland bisa dipastikan mengeruk pendapatan berskala triliunan rupiah per tahunnya. Itu baru kompleks Disneyland-nya, belum lagi economic multiplier lainnya dari mulai pesawat, hotel, bus, MTR, dll. Wow…

Sekarang saya ajak anda melihat salah satu iklan di salah satu underpass di kawasan Shenzhen.

img_6648

Saya tidak bisa bahasa atau baca huruf Cina, tapi dengan cukup melihat ada tersisip “Cup D”, saya langsung paham makna dari iklan ini🙂

Mungkin iklan ini sangat sederhana dan frontal, tapi dari situ saya menjadi tahun bahwa itulah “local value” yang menjadi dambaan setiap wanita di sana. Tidak ada iklan-iklan pemutih seperti yang banyak sekali dijual di Indonesia, atau iklan perontok rambut/bulu halus seperti di India. Rupanya masing-masing negara mempunyai “dambaan-dambaan” tersendiri yang berbeda-beda bergantung pada kondisi natural mereka.

Dari semua tadi, saya mencoba memahami bagaimana pebisnis bisa mengeruk laba dengan menjual apa yang disebut mimpi, dambaan, perbedaan, dengan menyentuh perasaan konsumen. Konsumen dibuai dengan sesuatu kondisi yang di luar keseharian mereka. Jauh-jauh ke HK buat nonton kartun. Orang yang sudah cantik dengan kesawomatangannya yang unik ingin menjadi putih sementara begitu banyak wisman kulit putih berjemur atau tanning untuk menggelapkan kulitnya. Orang yang sudah cantik dengan bulu-bulu halus yang menambah eksotis ingin menjadi mulus. Orang yang sudah cantik dan memiliki postur yang slim ingin menambah ukuran “cup”nya. Pokoknya menjadi berbeda dari yang sekarang deh…

Memang sate kambing itu enak. Tapi kalau setiap hari lihat dan makannya sate kambing, pengen juga dong makan tahu goreng…

Menjadi lebih baik memang perlu, tapi mungkin perlu kita lihat lagi dari paradigma yang lebih besar apa sih definisi BAIK itu… kulit putihkah, sawo matangkah, langsingkah, montokkah, berkumis tipiskah, berkumis tebalkah, tanpa kumiskah, bla bla bla…

Sementara kita belum terbebas dari segala keinginan untuk menjadi lebih BAIK itu, mari dengan sukarela kita bekerja keras mencari uang untuk segera kita serahkan kepada para pebisnis yang dengan sukses menjual mimpinya dengan menyentuh perasaan kita yang paling dalam…

Salam damai.