Tag

, , , ,

Tanggal 24 Desember 2008 pagi, saya sedang menuju tempat cuci mobil. Maklum, mau liburan 5 hari sehingga lebih nyaman kalau mobil ditinggal dalam keadaan bersih dan ditutup. Jam 7:30 waktu itu, dapat telepon dari saudara yang mengabarkan Eyang Putri (Yangti) baru saja meninggal dunia di Surabaya. Deg….

Nggak jadi ke tempat cuci mobil, tapi langsung pulang dan diskusi sama Ibu yang saat itu sedang berada di rumah karena mau ikut liburan besok harinya. Berhubung waktu sudah sangat mepet dan sedang peak season, diputuskan untuk langsung “go show” ke bandara saya berdua dengan ibu. Adik dan kakak menyusul masing-masing.

Jam 8:30 dari rumah, jam 9:30 sampai bandara. Cek ke Batavia, habis. Cek ke sebelahnya, Sriwijaya… eh dapat pesawat jam 10:00. Langsung ibu saya ajak setengah lari cek in dan boarding dalam waktu mepet itu. Fuihh… lega banget rasanya pas begitu duduk di pesawat.

Tinggal tugas yang harus segera dilakukan pada saat landing di Surabaya adalah beli tiket pulang malam itu juga, karena besok pagi-pagi sekali sudah harus berangkat lagi ke Hongkong.

Syukurlah, walaupun penuh dengan ketergesaan karena waktu yang sangat sempit namun semua acara bisa dihadiri dengan baik. Ibu masih bisa melihat Yangti untuk terakhir kalinya, hingga sampai pemakaman yang dilaksanakan di Malang. Tepat pukul 2 pagi saya dan Ibu sampai kembali ke rumah, untuk kembali berangkat jam 4:30 menuju bandara. Capek banget tapi lega…

Saya lihat Ibu tidak terlalu merasa berat melepaskan kepergian Yangti pada usianya yang ke 96 tahun, karena memang selama 4 tahun terakhir Yangti sudah terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya sehingga hampir semua sudah merelakan kepergian Yangti dari segala penderitaan sakitnya.

Sampai sekarang, saya masih berusaha mencerna betapa dalam waktu 1 hari saya bisa menemani Ibu mendapatkan tiket kurang 1 jam menjelang take off di peak season – dari Surabaya pp ke Malang untuk pemakaman – hingga sampai di Jakarta lagi malam itu. Sepertinya segala sesuatunya dilapangkan bagi kami. Semoga ini menjadi pertanda bagi Yangti yang dilapangkan jalannya menuju sorga.

Hal kedua yang menjadi perenungan saya adalah sharing dari Om yang ikut turun ke liang 1×2 meter tempat peristirahatan terakhir raga Yangti. Betapa dari bawah sana terasa betapa kecil dan lemahnya manusia. Biarpun seorang direktur atau presiden sekalianpun, tetap saja begitu tiba saatnya akan menghadapNya dalam kondisi yang sama: lemah, tak berdaya, dan selalu butuh bantuan orang lain.

Dari situ saya kembali diingatkan untuk selalu rendah hati. Sehebat apapun jabatan kita, toh kita tetap butuh bantuan orang lain. Alangkah hebatnya seorang karyawan rendahan yang pemakamannya tidak disertai rangkaian bunga yang melimpah, tapi dilepas oleh sahabat-sahabat terbaiknya dengan doa dan air mata… Karena bukanlah harta dan kekuasaan yang menyertai kita menghadapNya, tetapi doa dari sahabat-sahabat serta amal kitalah yang akan memperindah keselamatan kekal kita di surga…

Selamat jalan Yangti, berbahagialah selamanya di surga…

Salam damai.