Tag

, , , , , ,

Saya teringat kejadian kira-kira 2 minggu lalu, pagi-pagi ketika saya melakukan ritual pagi hari –> BAB alias ke toilet🙂. Wah, sepertinya ritual kali ini sedikit seret nih nampaknya. Memang beberapa hari terakhir banyak makan daging berlemak, dan kurang makan buah / sayuran.

5 menit pertama rasanya tidak tergambarkan, mulas luar biasa. Barangkali inilah yang dirasakan para ibu yang mau melahirkan, tinggal ditambah kadar sakitnya. Walah, ampun… kadang pada saat-saat mulas memuncak saya sampai minta ampun sama Yang Membuat Mulas.

Setelah puncak mulas terlewati dengan meluncurnya beban yang ada di perut, wah terasa benar indahnya dunia ini. Itulah salah satu saat paling melegakan dalam hidup, pada saat beban hidup keluar dari kita.

Saya jadi kembali teringat ujar-ujar jawa yang bertutur bahwa hidup ini ibarat kita menumpang minum – “urip iku paribasane mung mampir ngombe” (https://wisatajiwa.wordpress.com/about/). Kita hanya menjadi saluran dari segala macam yang melewati kita, dari mulai udara, makanan, minuman, ilmu pengetahuan, juga harta. Sebagaimana layaknya sebuah aliran, akan menjadi indah tatkala input dan output berada dalam tataran yang sesuai dan serasi. Bisa dibayangkan sebuah sungai yang inputnya berlebih dibandingkan outputnya bisa membanjiri lingkungan sekitarnya, sementara yang kekurangan input akan menjadi kekeringan.

Demikian juga dalam hidup kita, kita makan seenak apapun pasti akan dibuang juga dari badan kita. Kadang kita terlalu memfokuskan segala usaha kita untuk menjamin input yang masuk ke kita, dari mulai mencari nafkah, makan, minum, dan belajar ini itu. Kadang saya sendiri lupa ada satu sisi lagi yang musti saya atur dengan baik, yaitu penyaluran keluar dari semua yang masuk ke raga saya ini.

Kembali ke saat-saat 5 menit pertama di toilet tadi, terasa betul ringkihnya kehidupan kita ini. Ibarat meniti di atas rambut dibelah tujuh. Baru dimampetin BAB-nya saja sudah ampun-ampunan rasanya. Wah… jadi ingat salah satu iklan asuransi di TV di mana digambarkan seluruh manusia hidup di atas bola. Tergambar di iklan itu betapa “vulnerable” hidup kita sebagai manusia.

Kalau sudah begini, kembali saya diingatkan untuk menjaga pula output kita di dunia ini pada level debit yang sesuai dengan input yang kita dapatkan. Berbagi ilmu pengetahuan dengan orang lain… berbagi amal harta kepada yang lebih membutuhkan…

Gampang ngomongnya, SUSSAAAAHHHH banget menjalaninya. He he he, kata siapa hidup jadi manusia itu gampang ya…

Salam damai.