Tag

, , , , , , ,

Ada 2 kejadian tentang warung-perwarungan yang saya alami dalam 1 minggu terakhir ini.

  1. Kejadiannya weekend minggu lalu di Puncak, kami sekeluarga menginap di salah satu villa di sana. Jam 11:45 kami meluncur keluar villa mau cari makan ke arah turun, apa daya arus sedang dibuat satu arah ke arah atas. 5 menit berlalu, belum juga dibuka arah turun… 10 menit… 15 menit berlalu sudah. Karena kami sedang diburu waktu, akhirnya mata tertambat ke sebuah rumah makan padang 25 meter di depan mobil kami. Setelah berunding, jadilah mobil kami parkir dan kamipun berjalan ke rumah makan padang tersebut. Wes ewes ewes… 10 menit beres sudah perjamuan makan siang itu, 120 ribu untuk 6 orang.
  2. Ada teman kantor mau pergi ke Jatiluhur, sampai di sana dia makan di sebuah warung pepes yang cukup mak nyus rasanya. Baca facebook statusnya: siapa yang mau nitip pepes ibu ani?…. langsung saja saya pesan sama dia beberapa pepes yang memang sudah terbukti rasanya mak nyusss. Besoknya, pepes pun sudah di tangan siap untuk dinikmati. Hmmm…

Sekarang coba kita berandai-andai:

Andai waktu itu pas jalurnya turun dibuka…

Andai waktu itu kami ngotot nunggu jalur turun…

Andai waktu itu kami tidak dalam keadaan terburu-buru…

–> itu warung Padang bakal lost opportunity 120 ribu.

Andai waktu itu teman kantorku nggak update status Facebooknya…

Andai tidak ada Facebook…

Andai handphone teman saya bukan tipe yang bisa browsing internet…

Andai tidak ada jadwal dinas ke Jatiluhur…

Andai bosnya teman saya mengatakan tidak perlu ke Jatiluhur, cukup dengan video conference…

–> itu warung pepes bakal lost opportunity lumayan juga.

Wah, terasa ya betapa dunia ini terlalu luas dan besar untuk masuk dalam cakupan kausalitas segala tindakan-tindakan kita. Mungkin agak sedikit berbeda dengan konsep yang ditawarkan dalam “The Secret”, justru di sini saya merasakan betapa alam raya ini bagaikan memiliki invisible hand yang dapat semau-maunya memainkan jalan hidup kita dengan tingkat randomitas tinggi.

Kita bisa saja berupaya jungkir balik sedemikian rupa, tetap saja hal tersebut tidak dapat menihilkan besarnya dampak dari tindakan-tindakan sekian miliar orang lain di dunia ini. Belum lagi faktor alam itu sendiri (bencana alam, iklim, dan lain-lain). Akan terlalu banyak “andai” dan “andai” yang dapat mementahkan kerja keras seseorang untuk menjadi sebuah kesuksesan. Sepertinya aksi dan gaya yang kita berikan ke alam ini terlalu kecil dampaknya di tengah rumitnya kausalitas yang ada di alam semesta ini. Kok jadi mengarah ke aliran pro takdir ya…

Nah kalau sudah begini, masih beranikah kita menepuk dada kita di depan segala kesuksesan yang telah kita raih dalam hidup ini?

Salam damai.