Tag

, , , , ,

Hari Sabtu minggu lalu ada perayaan Natal di kantor, kali ini giliran Pastur / Romo yang memimpin ibadat. Seperti biasa, saya jadi tukang foto alias fotografer amatir. Selain bisa buat belajar motret, enaknya jadi tukang foto pas acara gini adalah bisa bebas kesana kemari tanpa harus duduk diam pasrah diri…🙂

Romo Simon Tjahjadi

Romo Simon Tjahjadi

Romo yang memimpin kali itu adalah Romo Simon Petrus Tjahjadi, dari Sekolah Tinggi Filsafat di Jakarta. Sambil duduk di barisan bangku nomor dua dari depan, saya ambil beberapa jepretan pas Romo tersebut berbicara di mimbar. Dalam salah satu bagian khotbahnya, beliau curhat nih ceritanya. Begini kira-kira cuplikan bebasnya sejauh yang saya ingat.

JADI ROMO / PASTUR ITU SUSAH!!!

  • Kalau saya banyak melakukan perenungan rohani dan studi alkitabiah, dibilang romo nggak gaul dengan umat. Kalau saya banyak melakukan kunjungan, dibilang kelayaban melulu…
  • Kalau saya bergaul dengan bapak-bapak, ibu-ibu bilang mentang-mentang saya selibat terus kurang empati terhadap wanita.  Kalau saya bergaul dengan ibu-ibu, bisa lebih gawat komentarnya…
  • Kalau saya bergaul dengan cewek-cewek, diomongin “romo kok gaulnya sama yang pakai tank top terus…”. Kalau saya bergaul dengan cowok-cowok dibilang homoseksual.

Wah berat juga ya memang jadi public figure, di bidang rohani pula…

Saya sendiri punya sepupu yang sepermainan dari kecil, satu kelas terus dari SD sampai dengan SMP, yang sekarang sudah menjadi pendeta di salah satu gereja di kota kecil di Jawa Tengah. Sempat kami bertemu di rumahnya, ngobrol-ngobrol sebentar.

Tahu tidak apa yang terlintas di benak saya? Kalau saya misalnya, di kantor saya menjadi seorang karyawan. Di lingkungan tetangga, saya menjadi seorang warga biasa penghuni rumah no. 36 di jalan Melati. Di gereja saya jadi umat pasif. Di tempat nongkrong atau tempat biliar misalnya, saya jadi salah satu pengunjung di antara ratusan orang lainnya. Tapi saudara saya itu? Dimanapun dan kapanpun dia akan selalu menjadi seorang Bapak Pendeta!!! Wow…

Saudara saya itupun membenarkan semua hal yang muncul di pikiran saya tersebut. Bahkan dia bilang, di awal-awal masa baktinya dia sering merasa canggung dipanggil Bapak Pendeta oleh orang yang jauh lebih tua dari dia… kayaknya kok rohani amat ya…🙂

Saya rasa untuk yang beragama lainpun akan mengalami beban yang sama ya… contoh aja, kalau teman kita yang sudah pulang dari ibadah haji pasti ekspektasi orang kepadanya akan menjadi lain. Sholatnya terlambat sedikit aja bakal ada yang komentar “ah santai dulu deh, pak haji aja belum sholat…”

Kadang double standard ini yang membuat orang agak resisten untuk menjadi lebih baik dari sisi rohani. Takut nanti dicap sebagai “rohaniwan”, terus jadi mengurangi kebebasan gerak-geriknya. Nggak usahlah jadi romo, pendeta, atau pak haji. Baru jadi pengurus rohani di kantor / kampus / sekolah saja langsung jadi nggak boleh aneh-aneh sedikit aja. Padahal sebelumnya mau aneh-aneh banyak juga orang oke-oke saja.

Pastur juga manusia…

Pendeta juga manusia…

Haji juga manusia…

Jangan menambah berat hidup orang-orang hebat itu dengan ekspektasi-ekspektasi berlebihan deh ya…

Salam damai.