Tag

Pagi tadi, agak tergesa saya keluar rumah berangkat menuju kantor. Biasanya kalau mau naik kereta saya sudah harus keluar rumah pukul 06:45 untuk mengejar kereta pukul 07:5 (hebat banget ya, kereta kok dikejar :)). Sementara itu kalau lagi mau naik mobil bisa agak santai, jam 7 lewat-lewat sedikit masih bisalah…

Di satu tikungan jalan menuju ke tempat nunggu angkot, ada satu kerumunan kecil di depan sebuah rumah. Ada seorang engkong, seorang bapak, seorang ibu, beberapa anak, berkumpul di depan rumah mereka dengan satu kegiatan utama : re-pointing antena TV. Bersatu teguh mereka mencari arah yang terbaik demi mencapai kualitas yang optimal.

Kenapa saya pakai kata optimal, bukannya kualitas sinyal yang maksimal?

Kita tahu sendiri kan, jumlah channel TV di Jakarta ini ada belasan. Ada yang pemancarnya di Jakarta barat, ada yang di Jakarta Selatan, tidak seragam. Sementara itu, masing-masing stasiun TV menawarkan berbagai program dengan positioningnya masing-masing. Ada yang membidik para pria, ada yang membidik ibu-ibu, ada yang membidik anak-anak. Untuk mengakomodasi beragamnya kebutuhan tersebut, harus dicari satu solusi yang optimal: bagaimana supaya TV-TV yang most wanted dari berbagai arah pemancar bisa diterima dengan gambar dan suara yang baik. Tidak cuma politisi yang butuh kompromi juga rupanya ya…

Sebuah usaha bersama-sama di pagi hari dari semua anggota keluarga demi solusi optimal TV keluarga membuka mata saya akan betapa pentingnya TV bagi sebuah keluarga di Indonesia.

Well… bisa saja Anda berkelit, tidak untuk keluarga saya. Keluarga saya mulai mengurangi TV. Keluarga saya anti sinetron. Keluarga saya mending baca buku. Bla bla bla… Itu semua tidak menihilkan realita di luar sana bahwa masih sangat besar rakyat Indonesia yang menggantungkan keceriaan keluarganya pada sebuah kotak televisi di ruang keluarga merangkap ruang tamu merangkap ruang makan dan kadang sekalian menjadi ruang tidur mereka.

Silakan saja Anda (dan mungkin juga saya) yang barangkali masuk ke golongan menengah dan atas mulai bisa mengurangi ketergantungan pada TV di keluarga kita masing-masing. Ada yang bisa beralih ke buku, ke internet, ke TV berbayar dengan content yang lebih edukatif. Tapi harus pula kita sadari bahwa masih ada ratusan juta mata di luar rumah kita yang masih mencari kegembiraan melalui TV lokal. Memang itulah mungkin satu di antara sedikit pilihan bagi mereka untuk menjadi teman keseharian mereka. Kita bisa memulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan mulai dari sekarang juga di keluarga terdekat kita. Tapi tidak bisa kita pungkiri kedahsyatan televisi dalam menanamkan pola pikir ke masyarakat.

Tawa lepas bocah-bocah dusun Ciapus Bogor (pinjem foto jepretan istri... )

Tawa lepas bocah-bocah dusun Ciapus Bogor (pinjem foto jepretan istri... )

Dan akhirnya, pada insan pertelevisian Indonesialah kita menggantungkan sebagian besar masa depan bangsa ini. Akankah anak-anak penerus bangsa ini dituntun untuk menjadi insan yang suka melotot, berkata kasar pada orang tua, menunjuk-nunjuk muka orang yang diajak bicara, penuh iri dengki dan dendam kesumat… ataukah akan dituntun untuk kembali ke image yang didoktrinkan kepada kita beberapa dasawarsa yang lalu bahwa orang Indonesia itu murah senyum, suka gotong royong, ramah, dan suka bekerja keras.

Salam damai.