Tag

, , , , , , ,

gettyimages

gettyimages


“Rog, sorry for today… I really know how you feel right now. Remember that you are a great champion and you are one of the best in history and you will beat Pete Sampras’ 14 titles for sure.” Nadal berusaha menghibur kawan sekaligus rivalnya setelah partai 4 jam 23 menit yang melelahkan di Rod Laver Arena hari minggu 1 Februari 2009 kemarin.

Roger Federer tak kuasa menahan air matanya. Dan menangislah sang Maestro, The Federer Express di hadapan jutaan mata yang memandangnya di seluruh dunia. Tidak ada lagi seorang Federer yang dingin tanpa emosi, yang ada hanyalah seorang anak manusia yang merasa tak berdaya dan menangis pada Bapanya… “God, it’s killing me…”.

Pertarungan Nadal vs Federer selalu menjadi partai yang paling ditunggu-tunggu semua pecinta tenis dalam 3 tahun terakhir ini. Menonton mereka bertanding membuat saya tidak bisa beranjak dari tempat duduk, dan seringkali berteriak setiap kali ada pukulan-pukulan yang mencengangkan. Celakanya, pukulan mereka itu seringkali mencengangkan… jadinya bakal banyak terdengar teriakan dari rumah saya setiap kali ada pertandingan antara mereka berdua…🙂

Federer, kita tahu betapa dia bisa dikatakan maestro tenis saat ini. Tekniknya SEMPURNA, emosinya stabil, posturnya ideal, perilakunya pun santun di dalam dan luar lapangan. Dia merajai dunia tenis hingga muncul seorang Nadal… Nadal pada awalnya menggunakan kelebihannya pada kelincahan dan determinasinya mengejar bola ke setiap sudut lapangan dengan kecepatan yang menakjubkan. Semakin lama teknik pukulannya semakin sempurna, dan terus berkembang dari tahun ke tahun. Puncaknya terjadi di Wimbledon 2008 ketika Nadal menaklukkan Federer di lapangan rumput yang menjadi “singgasana” Federer. Sejak itu Nadal menduduki peringkat 1 dunia menggantikan Federer.

Federer barangkali merasa dia seharusnya bisa meraih gelar Australia Terbuka ini, dan menggenapi 14 koleksi Grand Slamnya.

“You can’t go through your whole life as a tennis player taking every victory that’s out there. You’ve got to live with those, you know. But they hurt even more so if you’re that close, like at Wimbledon or like here at the Australian Open. So that’s what’s tough about it.”

Tapi itulah hidup, tidak semuanya berjalan mulus dan sesuai rencana kita manusia.

Menangislah Federer, air matamu menghapus luka hari ini demi hari esok yang kembali cerah dan menantang.

Teruslah berkembang Nadal, hiasilah setiap ajang dengan energimu yang menyala-nyala.

Semoga kita masih bisa menyaksikan pertarungan 2 grand master tenis ini dalam 2-3 tahun mendatang…

Salam damai.