Tag

, , , , , , , , , , ,

thing-called-love

Sebentar lagi Valentine…

Jujur, saya sendiri seumur-umur belum pernah tuh yang namanya merayakan valentine secara khusus dengan pasangan saya. Yang romantic dinnerlah, kasih hadiah valentinelah, belum pernah sama sekali. Tapi dengan bertambahnya umur, kok saya jadi melihat hari Valentine ini dari sisi yang selama ini saya tidak pernah lihat sebelumnya.

Valentine Day, menurut Mbah Wikipedia itu begini ceritanya:

Valentine’s Day or Saint Valentine’s Day is a holiday celebrated on February 14 by many people throughout the world. In the West, it is the traditional day on which lovers express their love for each other by sending Valentine’s cards, presenting flowers, or offering confectionery.

http://en.wikipedia.org/wiki/Valentine%27s_Day

Sementara itu menurut Catholic Encyclopedia dipaparkan sejarah kenapa hari kasih sayang itu dinamai Valentine Day:

Saint Valentine’s Day

The popular customs associated with Saint Valentine’s Day undoubtedly had their origin in a conventional belief generally received in England and France during the Middle Ages, that on 14 February, i.e. half way through the second month of the year, the birds began to pair. Thus in Chaucer’s Parliament of Foules we read:

For this was sent on Seynt Valentyne’s day
Whan every foul cometh ther to choose his mate.

For this reason the day was looked upon as specially consecrated to lovers and as a proper occasion for writing love letters and sending lovers’ tokens.

http://www.newadvent.org/cathen/15254a.htm

Maaf, sengaja cuplikan teksnya saya biarkan tetap pada bahasa aslinya (Inggris). Daripada saya terjemahkan malah nanti beda interpretasinya. Jadi rupanya nggak ada hubungan antara hari kasih sayang dengan Santo Valentine itu sendiri, tidak ada hubungan antara hari kasih sayang dengan agama Katolik (bener nggak ya kesimpulannya begitu? tolong dikoreksi kalau salah…). Hari Valentine dirayakan pada musim burung-burung mulai berpasang-pasangan.

Masih ada lagi beberapa versi sejarah hari Valentine, seperti hari berpasangan dari orang-orang jaman Romawi. Dan lain sebagainya. Namanya juga peradaban manusia > 1000 tahun yang lalu, sudah pasti sangat sulit traceback-nya. Boro-boro hari valentine, peristiwa G 30 S PKI yang “baru” 40 tahun lalu saja sampai sekarang banyak banget versinya🙂

Apapun sejarah hari Valentine, saya sendiri nggak terlalu pedulikan. Sama seperti sejarah hari Natal yang menurut beberapa sumber disebutkan pada awalnya adalah hari perayaan agama pagan di Eropa abad-abad awal dahulu. Pemilihan hari itu lebih dalam rangka akulturisasi, bukan pada moral dari perayaan itu sendiri.

Sebagai seorang lelaki, saya lebih senang melihat sebuah perayaan dari sisi spiritnya dan masa depan – bukan masa lalunya. Seperti kata pepatah “seorang lelaki dipilih karena masa depannya, seorang wanita diperistri karena masa lalunya“. Nggak nyambung ya? Biarin deh… he he he…

Bagi yang memiliki pandangan “kasih sayang itu harus kita laksanakan setiap hari setiap saat, bukan hanya tanggal 14 Februari saja”: Itu benar sekali, sampai beberapa tahun lalupun saya masih berpandangan demikian. Tapi kita sebagai manusia perlu momen-momen tertentu untuk terus membuat kita pada jalur yang benar. Kalau paham seperti itu yang dianut, kita nggak perlu rasanya merayakan 17 Agustus sebagai hari Kemerdekaan. Toh setiap hari kita memang sudah merdeka kok. Tidak perlu kita belajar menahan hawa nafsu dengan berpuasa atau berpantang, kan memang setiap saat kita harus menahan hawa nafsu toh?

Pesan dari hari Valentine yang penuh kasih sayang itu sekarang banyak diperluas menjadi kasih sayang universal, bukan hanya pasangan lelaki dan perempuan. Bagus sekali gagasan dan inisiatif itu menurut saya. Di kala ada peristiwa yang tidak berperikemanusiaan di Medan, sampai Ketua DPRD Medan meninggal akibat demo tersebut (may he rest in peace…) maka pesan kasih sayang ini sangat menyejukkan rasanya.

Saya membayangkan kalau kita bisa memberikan pesan hari Valentine yang universal pada anak-anak kita, maka akan bangkit sebuah generasi kasih sayang antar sesama setelah era kita nanti. Barangkali “rezim” kasih ini akan merontokkan rezim komunisme, kapitalisme, monarki, hingga “demokrasi” yang saat ini sedang kita nikmati di negeri ini.

Mudah-mudah pesan moral “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” bisa cukup universal dan diterima semua pihak. Semoga di hari Valentine mendatang ini kita bisa lebih saling belajar untuk mengasihi sesama kita manusia di antara kungkungan perbedaan-perbedaan yang dibuat manusia, apapun bentuknya…

Salam damai.