Tag

, , , , , ,

shop1

Waktu sedang berbaring santai di kamar anak saya, sambil rebahan di kasur… terbentanglah di depan mata tumpukan buku – majalah – boneka – mainan – dan berbagai aneka pernik anak kecil. Saya jadi mikir, kapan saya beli barang sebanyak ini ya? Berapa banyak duit yang sudah saya keluarkan demi barang sebanyak dan seberantakan ini ya???

Well, usut punya usut… selidik sana-sini, mulai terungkaplah bahwa betapa jarang saya / istri saya membelikan dia mainan / boneka, tapi seringnya buku / majalah. Nah, lalu boneka dan mainan sebanyak itu? Wah ternyata anak saya itu menganut filosofi multi sourcing, dan memang keadaan sangat mendukung dia untuk ke arah sana. Sebagai cucu pertama, dia mendapat banyak pasokan dari Eyangnya, Om dan Tantenya. Belum lagi hadiah ulang tahun dari teman-temannya, sampai kasurnya tinggal 1/2 ruang yang tersisa karena ditempati penghuni tetapnya yaitu boneka-boneka.

Keluar kamar menuju ke ruang TV merangkap ruang keluarga sekaligus ruang makan. Mau makan, masih kenyang… mau nggak makan, tapi ada makanan nanti malah kebuang kalau nggak dimakan. Ada ayam, tahu/tempe, ikan, sama daging. Ini semua siapa yang mau makan… supaya bisa habis, per orang minimal makan 2 potong masing-masing item. Jadi ingat jaman kecil dulu, sepiring nasi cukup ditemani 1 sayur dan 1 lauk. Kadang ditambah sambal untuk memaksimalkan kenikmatannya… Lain dulu lain sekarang ya? Nggak heran kalau hasil general check up terakhir mengarah ke 2 hal: OVERWEIGHT & KOLESTEROL mendekati ambang batas normal. Huaaa… seraaammm….

Kedua kondisi rumah di atas mengarahkan saya ke kesimpulan sementara bahwa saya ini mulai menuju ke kondisi “OVER CONSUMPTION“!!!

Sekarang saya mencoba menengok ke scope yang lebih luas:

  1. Timbunan sampah rumah tangga yang menggunung
  2. Ramainya tempat-tempat perbelanjaan
  3. Makin gendutnya rata-rata anak sekarang
  4. Kegembiraan orang-orang berbelanja ini dan itu untuk ditumpuk di rumah mereka
  5. Makin banyak orang kena kolesterol, asam urat, kegemukan
  6. Mobil dan motor makin banyak
  7. Asap makin padat di perkotaan
  8. Makin sulit menemukan sebidang tanah kosong dan hijau
  9. Banjir di mana-mana
  10. … (silakan diisi sendiri seterusnya)

Sampai sebatas manakah bumi ini bisa mengakomodasi segala kebutuhan dan keinginan manusia yang hidup diatasnya?

Di sisi lain, tumbuhnya kreativitas manusia untuk memunculkan inovasi-inovasi baru merupakan hal yang mulia. Tidak henti-hentinya orang berinovasi ini dan itu, memunculkan “kebutuhan-kebutuhan” baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.  Tetapi kadang inovasi-inovasi itulah yang justru makin memacu tingkat konsumsi manusia. Berikut petikan dari 2 sumber:

We want and desire more and more because advertising and corporations tell us it is what we need to be fulfilled. As that happens, the waste we produce starts to pile up, as broken objects, out of fashion items and packaging” http://www.uwlax.edu/murphy/environment/overconsumption/overview1.html

Over-consumption is a theory related to overpopulation, referring to situations where per capita consumption is so high that even in spite of a moderate population density, sustainability is not achieved. The theory was coined to augment the discussion of overpopulation, which reflects issues of carrying capacity without taking into account per capita consumption, by which developing nations are evaluated to consume more than their land can support. Green parties and the ecology movement often argue that consumption per person, or ecological footprint, is typically lower in poor than in rich nations. However their claims are often unsupported.” http://en.wikipedia.org/wiki/Overconsumption

Ah, betapa jejak ekologi manusia sangat-sangat mengotori bumi ini kalau kita lihat ya…

Dengan fakta yang begitu jelas dan gamblangnyapun, masih ada segelintir orang yang menyanggah isu Global Warming. Ada yang berargumen bahwa efek pencairan es di kutub tidak signifikan terhadap tingginya permukaan laut di bumi. Kalaupun itu benar, hal tersebut tidak serta merta membenarkan kita untuk terus mengumpulkan asap CO2 di muka bumi yang jelas-jelas mengotori paru-paru dan membuat gerah kota-kota yang tadinya begitu dingin dan nikmat seperti Bandung misalnya.

co2_per_capita_per_countryCO2 per capita per country

Ada yang berargumen politis & ekonomis bahwa isu global warming adalah tidak adil bagi negara dunia ketiga yang baru ingin mengeksploitasi sumber daya alamnya secara maksimal (baca: kalap). Alasannya: silakan lihat gambar di atas. Jadi mentang-mentang masih ada di area putih (CO2 per capita rendah), terus merasa tidak bersalah untuk ikut-ikut ke area merah. Wah, so childish I think…  “Cause we are live under the same sun, we are live under the same moon…” ada lagunya lho padahal…

Ada pula yang berargumen bahwa bumi akan terus mencari ekuilibrium baru dan manusia terus berevolusi. Kalau kita terus pada laju percepatan konsumsi saat ini di mana sustainability alam ini terus tergerus –> maukah kita menuju ke satu ekuilibrium baru melalui banjir bandang macam jaman Nabi Nuh dulu???

Salam damai…