Tag

, , , , , , , ,

orator_t520

Pagi-pagi dengerin iklan politik entah dari partai apa di radio, isinya:

  1. Susah ya hidup miskin terus
  2. Mana janji politikus yang mau menurunkan angka kemiskinan? Sudah turun sih, tapi sedikit…
  3. Jangan pilih lagi pemimpin yang nggak bisa menghilangkan kemiskinan.

Waduh, berat juga ya jadi pemimpin di Indonesia. Harus mengentaskan puluhan juta rakyat miskin dalam waktu singkat. Nabi saja belum tentu bisa itu…🙂

Kali ini saya bukan mau membahas tentang sulitnya memimpin bangsa ini, tapi coba kita lihat lagi iklan politik tadi. Kira-kira siapa target utama dari iklan tersebut? RAKYAT MISKIN atau RAKYAT YANG MERASA MISKIN. Sepertinya hasil survey statistik parpol tersebut mengindikasikan bahwa segmen tersebut merupakan segmen “gemuk” yang jadi konsentrasi pemilih cukup besar sehingga harus dielus-elus terus.

Saya jadi tersenyum sendiri melihat betapa dengan gencarnya para politikus saat ini merayu-rayu dan meninabobokan para rakyat miskin. Barangkali trend ini akan terus berlanjut hingga Pemilu nanti. Di sisi lain, ingatan belum hilang dari beberapa fakta yang selama ini terus berlangsung… penggusuran, penertiban, dan banyak tindakan-tindakan represif lain atas nama keindahan, kemajuan bersama, yang seringkali semakin memarginalkan kaum marginal.

Kemiskinan secara ekonomi di jaman ini barangkali bisa disetarakan dengan orang sakit kusta pada jaman kitab-kitab suci dahulu diturunkan di negeri Arab sana. Ada 3 (tiga) kesamaan antara orang miskin dan orang kusta:

  1. Sama-sama dianggap atau dicap sebagai “sampah masyarakat”
  2. Sama-sama berusaha dijauhkan, diasingkan, dihilangkan dari pandangan kaum yang merasa lebih bermartabat
  3. Sama-sama belum diketahui solusi pemunahnya pada jaman masing-masing

Di luar 3 kesamaan tadi, ada 1 hal yang menjadi pembeda rakyat miskin di Indonesia dengan orang sakit kusta pada masa lalu: RAKYAT MISKIN PUNYA HAK PILIH.

1 hal tentang hak pilih itulah yang sangat membedakan perlakuan bagi 2 kaum marginal di lain jaman tersebut. Dalam beberapa bulan ke depan, dipastikan kaum marginal jaman demokrasi ini akan dimanjakan dengan berbagai propaganda mulai dari program, janji, hingga kaos gratis dan “serangan fajar”. Mari sama-sama belajar untuk mencerna baik-baik pendapat atau pernyataan dari siapapun yang berbau politis.

Semoga kita semua diberikan pencerahan jiwa untuk memahami semua hal tersebut. Kalau orang Yunani bilang “Vox populi vox Dei”, terus terang saya masih kurang setuju apabila suara Tuhan direpresentasikan oleh pendapat rakyat yang berstatus preman, pengemis, copet, dan kaum oportunis. Wah… gelap juga nih ceritanya kalau begitu yang berlaku ya… He he he…

Salam damai.