Tag

, , ,

Barangkali ini tulisan ke sekian ratus yang Anda baca terkait fenomena dukun cilik PONARI.

Saya bukan mau membahas benar tidaknya penyembuhan oleh Ponari, bukan pula hendak mengasihani rakyat jelata yang antri hingga rela minum air selokan dari kamar mandi Ponari (bukan berarti saya nggak kasihan lho ya…). Seperti biasa, saya nggak terlalu senang untuk langsung berreaksi atas suatu klausa… tapi saya lebih terpancing untuk melihat bagaimana orang-orang (termasuk saya tentunya) menanggapi klausa tersebut. Istilahnya, saya ini senang nonton sandiwara panggung dunia🙂

Ada beberapa kecenderungan dari kita dalam menerima dan berreaksi terhadap fenomena Ponari ini, berikut beberapa diantaranya:

  1. Ada yang menyalahkan dan/atau mengasihani para orang-orang yang rela antri berhari-hari dengan air yang siap dicelupin oleh Ponari, sampai habis akal hingga air selokan dari kamar mandi Ponari ditampung.
  2. Ada yang menyalahkan pemerintah, yang kurang membangun fasilitas pengobatan murahlah, yang tidak mengatur pengobatan oleh Ponari-lah, dan segala kekurangan pemerintah ditambah bumbu-bumbu dan sedikit bubuk mesiu dari para oposan yang saat ini lagi sibuk-sibuknya menjatuhkan karakter status quo.
  3. Ada pula yang sibuk meninjau fenomena ini dari sisi agama. Bagaimana kepercayaan pada Ponari merupakan penyelewengan dari ajaran agama.

Memang, dalam setiap peristiwa masing-masing orang akan memiliki interpretasi sendiri-sendiri yang bisa saja satu sama lain berselisih atau bertentangan. Kalau saya boleh sharing mengenai apa yang saya pikirkan tatkala melihat pemberitaan Ponari di media massa, dan kalau Anda mau baca, silakan…

  1. Penyembuhan supra natural. Saya tidak berani bilang pengobatan Ponari itu hocus pocus. Saya pernah baca buku MATA KETIGA, walaupun banyak pro dan kontra tentang buku itu tapi ada satu petikan yang saya suka dari buku itu. Saya lupa kata persisnya, tapi kira-kira begini: orang barat begitu picik, mereka menolak suatu kenyataan hanya karena mereka tidak bisa membuktikan dengan teori mereka. Begitu pendapat ahli pengobatan timur tentang orang barat sebelum keilmuan bisa mengungkap pengobatan timur sehingga dapat dijelaskan secara ilmiah.
  2. Tiap kali ada isu rakyat, langsung menyalahkan pemerintah. Sedikit-sedikit pemerintah, sedikit-sedikit pemerintah. “JANGAN TANYA APA YANG SUDAH DIBERIKAN NEGARA KEPADAMU, TAPI TANYAKAN APA YANG SUDAH ENGKAU BERIKAN KE NEGARA”. Nggak usah repot-repot deh ngomong tentang program anti banjir kalau kita masih seenaknya buang sampah keluar jendela mobil (salam buat pengemudi Nissan Terrano hitam yang pada hari Sabtu 21/02/2009 pagi melintas di parkiran McDonald’s Duren Sawit, buang tisunya enak banget dari jendela). Yuk mari kita mulai dari kita masing-masing sebelum mulai nunjuk ke orang/pihak lain. Memang paling gampang nyalahin pemerintah, pengangguran yang setiap pagi nongkrong di warung kopi juga bisa beranalisa nyalahin pemerintah. Tapi saya pikir bukan itu tujuan kita menaikkan tingkat pendidikan rata-rata warga Indonesia, bukan untuk sedikit-sedikit menyalahkan pemerintah.
  3. Sebelum nulis poin ketiga ini, saya berdoa dulu semoga tulisan ini nggak disebut bidah oleh agama apapun terutama oleh agama saya🙂 Saya kok punya pikiran liar begini ya: andaikata benar Ponari itu mujarab… itu semua kan terjadi atas kehendak Yang Di Atas tho? kalau demikian adanya, alangkah lancangnya kalau saya mencela pengobatan Ponari itu.
  4. Nah poin 4 ini benar-benar pikiran terliar saya… mohon dimaafkan sebelumnya. Itu kan Ponari mengobati orang, lha dulu Yesus juga berawal dari mengobati orang. lalu… lalu… Wah, sudah ah… nggak berani nerusin. Gusti… nyuwun gunging pangapunten…

Salam damai…