Tag

, , , , , ,

img_4584a

2 minggu lagi genaplah 1 tahun usia mobilku, mobil kami. Syukurlah, dengan segala kehati-hatian kulit mobil tersebut masih mulus belum pernah dicolek oleh sebangsa motor, sesama mobil, ataupun trotoar dan semacamnya. Satu-satunya organ cangkokan yang menghuni mobil itu adalah cover spion kiri karena pas istri parkir di rumah ada tiang yang nggak mau minggir🙂

Pagi tadi, tamatlah riwayat kemulusan dan keperawanan innovaku. Mobil yang sudah mengantar keluarga kami liburan ke Hongkong –> Dieng Negeri di Atas Awan ; Juara Lomba Blog.

Di lampu merah pertigaan SD Santa Maria di kawasan Jatinegara, pagi tadi saya lagi asik mengikuti ocehan Panji & Steny di Good Morning Hard Rock FM sambil menunggu lampu hijau. Eh baru mau jalan, dari samping kiri ada motor motong ke kanan… sepersekian detik dia meluncur mulus, hingga satu ketika entah knalpot atau apanya kena bumper depan mobil saya. Dari kabin nggak terlalu terasa sih, saya pikir paling baret halus yang dengan mudah hilang dengan polesan compound.

Sesampai di parkiran kantor, cek body… walah!!! #@*&!!! Dalam juga baretnya… Hilanglah kemulusan itu. Entahlah seberapa jauh polesan compound bisa menutupi bopeng pertamamu ini… Manakala itu tak mampu, maka kepada asuransi yang terhormatlah kita mengadu. Karena mengadu pada polisipun tak mungkin, sementara sang motor dengan tampang tak bersalah terus melaju dengan pasti.

Mengadu pada Tuhan untuk membalaskan dendam, supaya sang pengemudi motor itu diberi “pelajaran”… kok sepertinya kurang elegan ya. Nanti malah sama Tuhan ditegur, bukannya bersyukur sudah punya mobil… masih mau nyumpahin orang yang punyanya motor.  Tapi kan Tuhan… itu demi pembelajaran pribadi… demi pendisiplinan masyarakat… demi negeri yang lebih baik… demi bla bla bla…

Ah sudahlah, terlalu muluk-muluk mengharapkan semua itu.

Jadi ingat tadi pagi, di lampu merah pertigaan Cipinang. Lampu jelas-jelas menyala warna merah, dan pintu kereta api tidak sedang tertutup (ketika pintu kereta tertutup maka aturan lampu merah di-over ride). Berhentilah saya di sebelum lampu merah. Nggak tahu memang saya yang terlalu naif, terlalu sok benar, atau memang yang lain itu begitu diburu kepentingan yang sangat besar… kok sepertinya cuma saya yang berhenti di lampu merah itu ya? Tentu saja mobil belakang saya berhenti juga, semoga karena memang sadar bahwa dia harus berhenti dan bukannya nyumpah-nyumpahin saya kenapa bego banget nggak terabas aja itu lampu merah.

  • Ketika pengemudi-pengemudi di jalan raya kita begitu cerdas hingga menciptakan aturan-aturan sendiri yang dalam kerangka berpikirnya memberikan solusi optimal bagi dirinya…
  • Ketika pengemudi-pengemudi itu merasa bahwa yang BISA dilakukan berarti BOLEH dilakukan…
  • Ketika pengemudi mobil merasa lingkungan di luar mobilnya adalah bukan tanggungjawabnya, hingga dengan penuh ketulusan hati mereka dengan santai membuang segala sesuatu keluar jendela mobilnya demi menjaga kebersihan mobilnya…
  • Ketika pengemudi motor dengan santai meliuk-liuk setelah menyerempet mobil, sementara ketika mereka terserempet mobil langsunglah menyerbu macam mau perang Bharatayuda…
  • Ketika aturan tinggallah aturan, tidak ada yang tahu atau mau tahu atas dasar apa aturan itu diberlakukan…

Entah harus belajar berapa lama lagi bangsa kita sebagai sebuah peradaban manusia yang hidup bersama menghuni alam yang ada di sekitar kita ini. In the meantime, saya bakal terus jadi orang bodoh yang masih mau mentaati aturan ketika orang-orang pintar lainnya begitu cerdas mengambil keputusan-keputusan brilian yang lebih jitu dibandingkan aturan-aturan itu…

Salam damai.