Tag

, , , , ,

Tumpukan sampah di salah satu sudut pasar di Petak Sembilan

Tumpukan sampah di salah satu sudut pasar di Petak Sembilan

Setiap pagi kita (atau asisten rumah tangga kita) menyapu lantai rumah kita, lalu dikemanakan sampahnya?

Bisa diagregasi di tempat sampah, bisa dialirkan ke selokan (yang berbentuk fluida), bisa diarahkan ke jalanan (yang bentuknya minor semacam debu atau pasir).

Sekarang coba kita tengok kanan kiri rumah kita, lihatlah saluran pembuangan air dari rumah mereka masing-masing. Semua menuju selokan, nanti dari selokan menuju ke agregator yang lebih besar, hingga nanti ujung-ujungnya (entah kapan sampainya) menuju ke laut. Disanalah berkumpul seluruh hasil sekresi dari tubuh kita dan barang-barang di sekitar kehidupan kita. Entah berapa banyak jumlahnya… silakan kalikan sendiri, berapa yang anda buang dikalikan 12 juta penduduk Jakarta. Atau kalau lebih besar lagi silakan kalikan berapa miliar penduduk dunia.

Kalau dipikir-pikir, betapa banyaknya kita NYAMPAH di bumi ini ya… belum lagi kalau dikaitkan dengan kebiasaan kita yang over konsumtif selama ini. Coba saya ingat-ingat dan tulis yang terlintas di pikiran saya ya…

  1. Sampah dari makanan – kulit buah, batang sayuran, kulit udang, dan berbagai asesoris atau bagian makanan yang SENGAJA kita buang karena tidak kita makan.
  2. Sampah dari kemasan – kemasan makanan, plastik belanja, kemasan barang-barang apparel dan fashion.
  3. Sampah elektronik – TV bekas, HP bekas, baterai bekas, kalkulator bekas, dll.
  4. Sampah otomotif – asap kendaraan, oli bekas, kemasan oli, air sabun bekas cuci mobil yang mengalir ke selokan, ban bekas.
  5. Sampah nggak penting lainnya yang seringkali kita beli di pusat perbelanjaan, yang begitu sampai rumah atau dipakai sekali dua kali terus nganggur di pojok ruangan.
  6. Silakan Anda teruskan lagi list-nya…

Begitu mudah kita menyingkirkan benda-benda sampah tersebut KELUAR RUMAH KITA. Ketika rumah kita bersih dari semua itu, maka nyamanlah hati kita. Selesai, Aman….

Sementara itu, begitu panjang perjalanan benda-benda yang kita singkirkan dari rumah kita itu. Berkumpul dengan teman-temannya dari segala penjuru RT, RW, kelurahan, kecamatan. Mereka berkompetisi satu sama lain memperebutkan saluran pembuangan yang tidak seberapa itu demi mencapai lautan luas. Ketika sampah-sampah yang militan dan berkualitas unggul itu berhasil mengalahkan teman-temannya dan akhirnya mencapai laut, maka mereka meneruskan aksi militannya dengan merusak kehidupan di laut.

Begitulah perjalanan benda-benda yang kita perlakukan sebagai NIMBY (NOT IN MY BACKYARD).

Definisi baku dari NIMBY itu sebenarnya adalah: hal yang dianggap perlu, tapi asal jangan ditaruh di dekat rumah saya. Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. Tapi saya ambil istilah NIMBY itu untuk menggambarkan karakter kita dalam melihat bumi ini.

Barangkali kita harus belajar untuk memahami bagaimana dampak setiap perbuatan kecil kita kepada alam ini. Seperti halnya orang yang sangat nyaman untuk membuang sampah sembarangan, ada beberapa kemungkinan nalar yang ada di benaknya:

  1. Memang dari kecil dididik dengan doktrin NIMBY seperti yang saya bahas di atas. Yang penting rumah saya bersih, mobil saya bersih.
  2. Berniat baik memberikan lapangan kerja bagi para penyapu jalanan.
  3. Tidak tahu bahwa sampah itu bikin banjir (padahal seingat saya di SD hal ini diajarkan ya…)
  4. Mereka-mereka itu adalah agen dari Yang Di Atas untuk menguji kita. Kadang kita ini seperti dalam keseimbangan yang indiferen. Ada aksi sedikit saja terus memicu kita untuk berganti sikap. Lihat saja kerumunan motor di lampu merah, yang tadinya pada disiplin begitu ada satu yang nyelonong lampu merah… langsung deh yang lainnya berlomba-lomba menyusul.

Mari kita berharap dari generasi selanjutnya semoga bisa lebih baik. Tidak terbayangkan seperti apa alam yang akan mereka rasakan pada saat mereka dewasa nanti, sementara kondisi alam saat ini kita rasakan sangat berbeda dengan ketika kita kecil dahulu. Akankah generasi mendatang harus ber-evolusi menyesuaikan dengan kondisi yang akan terjadi?

Bisa jadi mereka berevolusi menjadi lebih kulit lebih tebal, tahan panas, kebal debu, bulu hidung lebih lebat, kelenjar keringat berkurang sehingga tidak perlu mandi 2 kali sehari, dll.

Atau bisa juga mereka berevolusi menjadi manusia yang lebih baik dari kita sekarang dari sisi nalar, perilaku ramah lingkungan, pemahaman hidup bersama, dan lebih mencintai satu sama lain. Semoga saja…

Salam damai.