Tag

, , , ,

Sore menjelang malam, angkot yang saya tumpangi berbelok di tikungan Buaran Jakarta Timur. Setelah menurunkan beberapa penumpang di Carrefour / Buaran Plaza, naiklah seorang ibu muda dengan bayi kecil di gendongannya.

Perkiraan saya ibu itu tidak akan lebih tua dari saya, mungkin jauh lebih muda malah. Sementara tangan kanannya menenteng plastik belanjaan, tangan kirinya sibuk menggendong bayinya yang sangat jelas merasa tidak nyaman. Jelas saja tidak nyaman, lha bagaimana mau nyaman… kondisi dalam angkot pada jam segitu adalah merupakan kombinasi antara asap knalpot kendaraan, debu, hawa hangat sore hari yang belum hilang, ditambah dengan tarikan gas dari pengemudi angkot yang matanya hampir tak pernah memandang ke depan (sibuk mencari prospek penumpang).

Kebetulan ibu itu duduk persis di depan saya, dan bayinya persis menghadap muka saya. Saya bukan ahli psikologi anak, mungkin pengamatan saya ini salah… saya lihat anak itu cukup mengerti kesusahan yang dialami ibunya, bahwa ibunya harus belanja – naik angkot – sambil terus menggendong dia. Berkali-kali bayi itu hendak menangis, tapi seolah-olah mengerti bisikan ibunya maka diapun menunda tangisnya itu.

Sekilas melintas di benak, kondisi anak saya di rumah. Ah barangkali pada saat itu anak saya sedang enak-enaknya tiduran di ruang keluarga yang jelas jauh lebih nyaman dibandingkan kondisi di angkot yang saya tumpangi. Wah, kok ya enak sekali ya nampaknya nasib seorang bayi yang terlahir menjadi anak saya… begitu saya pikir. Bukannya sombong, tapi kalau mau membandingkan dengan yang “lebih” tentu tidak ada puasnya tho…

Saya lalu berpikir, ketika kadang saya mengeluh tentang betapa tidak nyamannya naik angkot… barangkali saya harus malu pada bayi di depan saya ini. Ah betapa besar pengertian seorang bayi akan kondisi yang harus dihadapinya. Dalam bayangan saya, bayi ini akan jadi orang yang tangguh ditempa kerasnya kehidupan. Wah, lalu… apakah berarti terus anak saya bakal jadi kurang tangguh karena selalu dininabobokan oleh kenyamanan???? Walah…

Seseorang pernah berkata (saya lupa siapa), “Seseorang yang tidak pernah mengalami masalah dalam hidupnya, perlu dipertanyakan kedewasaannya”.

Di sisi lain benak saya muncul suara lain, “Seseorang yang besar dengan caci maki akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri – seseorang yang besar dengan kasih dan pujian akan tumbuh menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan empati”.

Bagaimana ini? Dua paradigma yang berseberangan… Posisi mana yang harus saya ambil ini, sementara anak saya semakin beranjak besar.

Kalau sudah begini, paling enak njawabnya dengan pernyataan moderat yang aman: ya tidak perlu seekstrim keduanya, anak tetap harus ditempa supaya tangguh, tapi juga tetap dengan kasih sayang.

NGOMONG MEMANG PALING GAMPANG… 🙂

Salam damai.