Tag

, , , , , ,

Mungkin Anda bingung dengan judul tulisan saya ini, lha masa depan anak kok dijadikan perjudian. Kalau kata iklan – BUAT ANAK KOK COBA-COBA…

Paling tidak itulah yang saya rasakan saat ini, di mana anak saya tumbuh makin besar. Yang paling besar sudah menginjak kelas 1 SD, dan sedang menjalani UTS – Ujian Tengah Semester 2. Wah, wong masih kelas 1 SD aja kok ya pakai UTS-UTS segala lho.

Saya lihat ada 3 hal utama tentang masa depan anak saya yang saya taruh di atas meja judi kehidupannya kelak, yaitu terkait mental, spiritual, dan ekonomi.

Pertaruhan akan kehidupan mentalnya, contoh:

    • Ketika mereka (anak-anak) menangis minta mainan, apakah akan dibelikan atau ditolak.
    • Ketika mereka main-main sama anak-anak tetangga yang latar belakang sosial-ekonomi-budayanya sangat beragam apakah akan kita batasi atau biarkan saja.
    • Ketika mereka main sampai sore menjelang malam, apa tindakan kita… sementara ada anak lain yang dibiarkan main sampai larut malam, ada juga anak lain yang dipupuk dengan les ini dan itu sepanjang siang hingga sore hari.
    • Ketika mereka berontak akan aturan-aturan kita, akankah kita biarkan mereka menangis dan berteriak ataukah kita bentak dengan tegas.

    Pertaruhan akan kemapanan ekonominya, contoh:

      • Ke sekolah mana mereka kita sekolahkan, apakah ke sekolah negeri – swasta – national plus – international – agama?
      • Kursus apa saja yang akan kita berikan ke anak kita, kursus musik – tari – matematika – bahasa – dan berbagai macam tawaran lainnya yang tersedia.
      • Ketika anak kita masih kecil (ambil contoh < 7 tahun), akankah kita biarkan mereka main-main sepanjang hari ataukah mulai kita siapkan mereka dengan playgroup, TK, kursus, dll.

      Pertaruhan akan keimanan dan spiritualitasnya, contoh:

        • Sudah mulaikah kita ajarkan anak kita ikut berdoa, ke tempat ibadah, merayakan hari raya agama.
        • Ketika mereka mulai bertanya-tanya tentang dosa dan neraka, bagaimanakah kita menjelaskan betapa maha pengampun dan maha pengasihnya Tuhan.
        • Ketika mereka mulai mempertanyakan kebenaran agama ini dan itu, bagaimanakah jawaban kita.

        Begitu panjang jalan yang terbentang di depan anak-anak kita nanti. Saya sendiri kalau mengingat kembali masa kanak-kanak saya, barangkali saya tidak terpikir akan jadi seperti sekarang ini.

        Di masa depan, di mana begitu banyak anak-anak yang pintar matematika, komputer, dan bahasa asing, entah di mana lagi anak saya nanti akan mencari posisinya yang membedakan dia dari anak yang lain.

        Memang sulit ya, marilah kita masing-masing berjudi dengan masa depan anak kita. Pada dasarnya langkah yang kita ambil saat ini lebih mirip judi, karena outputnya sama tidak jelasnya. Susah ya…

        Salam damai.