Tag

, , , , , , , , ,

Lobster

Saya mau menceritakan 2 set cerita, di mana masing-masing ada cerita (1) dan (2). Jadi total ada 2 x 2 = 4 cerita, lho kok jadi belajar matematika gini… he he he…

1. Dekade 90-an, cerita 2 mahasiswa…

  1. Tersebutlah seorang mahasiswa dari jawa menuntut ilmu di kota besar. Dengan berbekal uang bulanan yang menurut bapak ibunya cukup, hiduplah dia di kota Bandung di mana ternyata harga makanan tidak seperti yang dibayangkannya sebelumnya. Uang yang kalau dibelanjakan di kampungnya bisa untuk makan sampai kekenyangan hanya laku untuk beli semangkok bubur saja di kota. Tidak jarang akhir bulan dihabiskannya dengan makan 1-2 kali sehari.
  2. Di sebuah kota di Jawa Tengah hiduplah seorang mahasiswa asal Jakarta. Sangat kontras dengan mahasiswa di cerita 2.a. tadi, mahasiswa asal Jakarta yang satu ini bisa dikatakan hidup sangat berkecukupan dengan kiriman uang standar Jakarta dari orangtuanya. Pagi hari dia bisa memilih mau makan apa dan dimana, brunch-pun bisa dinikmatinya sebelum makan siang betulan sekitar jam 1-2 siang. Makan malam tinggal pilih, hingga makan menjelang tengah malam atau supper pun seringkali dinikmatinya.

2. Dekade 2000-an, cerita 2 keluarga…

  1. Malam itu, sebuah keluarga (bapak, ibu, dua anak) berada di dalam mobil dari rumah sakit dalam rangka imunisasi anaknya yang terkecil. Setelah diskusi beberapa lama menentukan tempat makan, meluncurlah mobil mereka ke sebuah restoran negeri Jiran di kawasan Kebon Sirih. Pesan ini pesan itu, bersantaplah dengan nikmat. Dibuka dengan roti canai dan kuah kari, berlanjut ke hidangan utama berisikan udang galah dan ayam bumbu mangga khas Thailand, ditutup dengan sejuknya jus kedondong yang segar. Ahhh… nikmatnya…. Cukup menghabiskan beberapa ratus ribu saja, bukan masalah yang terlalu berat sepertinya buat mereka.
  2. Sebuah pagi yang cerah, tersebutlah sebuah warteg di kawasan dekat sebuah stasiun di Jakarta Timur. Warteg itu cukup ramai, terbukti dari banyaknya orang baik itu yang jalan kaki atau naik motor makan di warung itu. Pagi itu ada sebuah keluarga kecil (bapak, ibu, satu anak) makan dengan santai di bangku depan warteg menghadap ke jalanan. Bapak itu sedang libur, mengajak anak istrinya makan di luar pagi hari. Dibandingkan menu keseharian yang tidak jauh dari tempe goreng, tempe oseng, tempe kering, dan tempe keripik… maka hidangan dengan lauk ayam goreng dan telur bumbu pedas yang baru diangkat dari wajan tentulah sangat membangkitkan selera. Ah betapa nikmatnya, cukup membayar kurang dari dua puluh ribu rupiah kemudian merekapun pulang naik motor dengan perut kenyang dan hati riang.

Kontras ya?

Adakah tersirat ketidakadilan dunia dari keempat cerita tersebut di atas?

Saya tidak berani bilang bahwa udang galah seharga ratusan ribu yang dirasakan keluarga 2.1. terasa lebih nikmat dibandingkan apa yang dirasakan keluarga 2.2. ketika menyantap nasi + ayam goreng seharga 8 ribu rupiah. Mungkin kalau saya seorang Bondan Winarno, akan lebih mudah untuk menentukan rasa mana yang lebih mak nyuss, atau masuk kategori top markotop, atau sekedar enak untuk menghibur hati sang pemilik rumah makan.

Pun demikian pula sebaliknya, saya tidak berani bilang bahwa mahasiswa pada cerita 1.1. pasti lebih sengsara dibandingkan mahasiswa pada cerita 1.2.

Manusia pada dasarnya mahluk yang sangat dekat dengan apa yang kita namakan RELATIVITAS. Semakin naik tingkat kehidupan manusia, semakin naik pula ekspektasinya terhadap segala hal yang dijumpainya. Saya jadi ingat diskusi dengan beberapa kawan lama semasa kuliah dulu, bahwasanya ada 3 parameter yang ada hubungan semi-kausal:

  1. Kerja keras vs santai
  2. Banyak uang vs tidak banyak uang
  3. Bahagia vs sengsara

Adakah hubungan yang jelas bahwa: KERJA KERAS –> BANYAK UANG, dan BANYAK UANG –> BAHAGIA? Saya yakin sebagian besar dari kita menjawab BELUM TENTU.

Tetapi memang demi hati yang lebih tenang dalam menghadapi dunia, akan lebih mudah bagi kita untuk menganut paham bahwa ada kausalitas antara ketiga parameter tersebut di atas, ceteris paribus “all other things being equal”.

Tidak perlu membandingkan bahwa kita yang kerja kantoran 8-5 mobilnya “hanya” mobil jepang sejuta umat, sementara tetangga sebelah yang sekolah tidak setinggi kita tapi bisa jadi petinggi di kantornya sekarang berkat koneksi bapaknya.

Tidak perlu juga rasanya kita menunda kebahagiaan kita hingga kita bisa punya rumah seluas lapangan bola atau mobil yang bisa meluncur di atas 250 km / jam.

Akan lebih nikmat dan mudah kalau kita cari pembanding yang dari parameter fisik di bawah kita. Tapi kok rasanya kurang etis dan manusiawi untuk “memakai”saudara-saudara yang tidak seberuntung kita sebagai pemuas rasa bersyukur kita.

Ada satu joke yang cukup bagus dari teman saya (inisialnya: STMS):

“ORANG KAYA BELUM TENTU BAHAGIA… TAPI KITA HARUS KAYA DULU UNTUK MEMAHAMI HAL ITU”

Ha ha ha… brilliant thinking, my friend.

Salam damai.