Tag

, , , , ,

Hari libur Nyepi, saya juga “nyepi” saja di rumah. Lari pagi sama anak, dilanjutkan dengan nonton DVD “GIE” yang baru sempat ditonton siang kemarin.

Sehabis nonton GIE, browsing channel TV sana sini dan sempat tertambat di Metro TV yang acaranya sedang wawancara dengan Kepala BKKBN. Sekedar menyegarkan ingatan, BKKBN itu adalah Badan yang mengurusi masalah KB (Keluarga Berencana). Sudah cukup lama juga ya kita tidak mendengar tentang KB, sementara kita masih ingat tahun 80-an begitu gencarnya program KB dilakukan.

Ada satu fakta yang diungkapkan dalam talk show itu yang cukup membuat saya melongo:

“Rata-rata jumlah anak keluarga miskin = 3,2 sementara rata-rata jumlah anak keluarga kaya = 2”.

Gawat nih kalau begini caranya… kalau pendidikan dipercaya sebagai salah satu cara untuk menaikkan harkat hidup rakyat, sementara biaya pendidikan semakin mahal dan hanya kaum kaya yang mampu membiayai ke jenjang tinggi. Kalau seperti ini kondisinya, kecuali terjadi mukjizat maka yang akan terjadi adalah jumlah kaum miskin makin bertambah porsinya dibandingkan orang kaya. Artinya secara rata-rata, bangsa ini menuju jurang kemiskinan yang lebih dalam.

Sekarang pertanyaannya, kenapa orang miskin memiliki jumlah anak rata-rata lebih tinggi? Bisa jadi banyak sebab:

  1. Pemahaman banyak anak banyak rejeki
  2. Tidak punya ekspektasi dan pengetahuan akan besarnya biaya membesarkan anak
  3. Hidup sudah susah, nggak ada hiburan, ya sudah bikin anak banyak-banyak sajalah…

Saya sendiri memandang punya anak lebih sebagai BEBAN, atau lebih enaknya dibilang sebagai KEPERCAYAAN atau AMANAH. Ketika istri mulai mengandung, mulailah terpikir kita harus memberinya makanan yang bergizi, pakaian yang layak, pendidikan yang baik, lingkungan yang mendukung, mainan yang membangun, di mana semua itu pada zaman ini perlu biaya yang tidak sedikit. Segala hal yang saya sebut ini bukan berarti saya tidak mensyukuri kehadiran seorang anak lho ya, sama sekali berbeda cara pandangnya. Tolong jangan diartikan ke arah sana.

Semoga tulisan saya ini tidak diinterpretasikan sebagai olok-olok buat rakyat yang oleh statistik dimasukkan ke dalam kategori “miskin”. Tapi coba mari kita pikirkan, semenjak era reformasi ini program KB sudah seperti kita masukkan ke dalam peti sebagai bagian dari sejarah Orde Baru yang kelam.

Seperti pepatah orang tua, “Ambil yang baik-baik… buang jauh-jauh yang buruk-buruk”. Apapun adanya Orde Baru dengan segala kontradiksinya, mbok ya yang namanya Program Keluarga Berencana terus kita pelihara. Apa nggak pada merasa kalau bumi ini makin sesak tho? Alangkah baiknya kalau 2 orang (sepasang) manusia meninggalkan pengganti 2 saja supaya bumi ini bisa bernapas lega. Dengan demikian mudah-mudahan bumi ini menjadi tempat yang lebih indah bagi anak cucu kita nanti.

Salam damai.