Tag

, , , , , , , , , , ,

Bali… never ending beauty…


Barong Bali

Dalam rangka (waduh, kayak tulisan pemerintahan aja pakai awalan “dalam rangka”) Seminar Diknas antar perguruan tinggi di Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara, kemarin saya berkesempatan menjadi pembicara di acara tersebut di Jimbaran – Bali, tepatnya di Politeknik Negeri Bali.

Acaranya sendiri diadakan hari Jumat minggu lalu, nah Sabtunya saya sengaja ambil penerbangan yang sore supaya sempat menikmati Bali sepanjang pagi hingga sore hari. Masa iya sudah jauh-jauh sampai sana terus hanya dapat seminarnya saja…

Hal pertama yang dilakukan pagi itu: jalan-jalan di sepanjang pantai Kuta.

Wah, sudah cukup ramai padahal baru jam 7 pagi. Dengan kostum celana pendek dan kaos singlet, duduk santai di pinggir pantai sambil sekali-sekali jepret ini dan itu yang terlihat menarik. Tak lupa, pagi itu diakhiri dengan adegan bertato ria sebagai kenangan buat dipamerin ke anak saya.

Wuri Tato bali

Keren atau enggak itu urusan nanti, yang penting gaya dulu. He he he… jaman narsis begini saya kok jadi sedikit ketularan virus narsis ya? Tapi nggak papalah, hitung-hitung supaya terus update, dinamis, nggak ketinggalan jaman dan nggak cepet tua.

Pagi menjelang siang, tatopun selesai. Dengan ditemani motornya Agnes Monica (Vario), sayapun berencana ke Garuda Wisnu Kencana dan Dreamland / Pecatu.

Garuda Wisnu Kencana (GWK) selama ini saya berkali-kali ke Bali hanya saya lewati saja, karena biasanya langsung ke Uluwatu, Dreamland, atau Padang-Padang. Kali ini saya sempatkan ke sana. Wah, dalamnya luas juga. Sepertinya banyak jadual pementasan tari yang cukup bagus, sayangnya informasinya kurang lengkap dan waktu saya berkunjung terlalu singkat.

Garuda Wisnu Kencana GWKPatung Wisnu setengah badan.

Rencananya yang namanya patung Garuda Wisnu Kencana itu adalah Wisnu yang naik burung Garuda. Wisnunya saja sudah sebesar ini, lha terus kalau benar jadi patung GWK itu bakal sebesar apa ya? Bakal spektakuler pastinya… andai krisis moneter tidak mengganjal ya…

Saya duga kompleks ini bisa menghadirkan nuansa yang sangat megah kalau bisa dihiasi dengan pencahayaan yang bagus. Bisa buat event-event besar. Saya berharap banyak event-event besar yang berskala internasional bisa dihadirkan di tempat ini. Di saat di mana krisis mulai agak menunjukkan sisi terang, sementara Indonesia dinilai mulai stabil keamanannya dibandingkan negara tujuan wisata lain seperti Thailand misalnya.

Wah, jadi makin asik aja perjalanan ini. Walaupun bermodalkan motor Agnes Monica yang apa adanya, kepanasan, tapi asik…

Harley Davidson

Pria bertato dan motor Agnes Monica…

Wah, jadi makin asik aja perjalanan ini. Walaupun bermodalkan motor Agnes Monica yang apa adanya, kepanasan, tapi asik… biarin deh nggak nyambung antara tato dan vario, daripada nyewa Harley tapi kantong terkuras. He he he…

Kalau hanya untuk keliling radius < 20 km atau sejam perjalanan saja sih mendingan naik motor di Bali, sekarang sudah mulai macet di sekitaran Kuta. Jauh lebih cepat naik motor. Yah ada risiko sih, jadi tebal muka alias debu pada nempel di muka. Ditambah kulit rada-rada gosong, tapi gak papalah biar malah tambah macho.

Selepas dari GWK, langsung meluncur ke Dreamland yang memang sudah tidak jauh lagi dari situ. Masuk kompleks perumahan, terus meluncur ke bawah sampai ke portal masuk bayar buat parkir motor.

Wah, dibandingkan terakhir kali ke sini 2 tahun lalu sudah cukup banyak berubah rupanya Dreamland ini. Sudah terbangun semacam kios-kios permanen, lengkap dengan WC Umum dengan tarif toilet 3000 perak, dan mandi 10.000 perak. Wow…

Turis yang datang masih sebagian besar dari mancanegara, tapi sudah banyak pedagang ini dan itu yang sedikit mengusik ketenangan. Intinya, Dreamland atau Pecatu sudah tidak lagi senyaman dahulu. Tapi nggak papa, se-nggak nyaman-nggak nyamannya, masih tetap mantap. Pasirnya… Ombaknya… Tebingnya… Tuhan memang Maha Kuasa…

Berikut ini Dreamland yang sempat terekam lewat lensa saya. Agak sulit juga mencari sudut Dreamland yang tidak ada orangnya. Musti mojok-mojok. He he he…

Enjoy…

Dreamland 02

Deburan ombak di Dreamland…

Dreamland 01

Sudut Dreamland yang cukup sepi…

Saya sendiri masih berharap, semoga bangsa kita bisa mulai merintis usaha menuju keseimbangan antara menikmati dan melestarikan alam. Entah kenapa yang saya lihat sampai saat ini, menikmati selalu berekses (baik karena ketidaktahuan ataukah ketidakpedulian) kepada menurunnya kelestarian alam. Setiap kali ditemukan spot yang indah, tak lama kemudian manusia berduyun-duyun datang… dan habis itu menjadi tidak indah lagi.

Kalau dahulu peradaban manusia sempat pada masa “food gathering” di mana mereka hanya mengambil dari alam dan nomaden, sekarang kita sudah mampu pada tahap membudidaya. Semoga kitapun sekarang tidak terus menerus pada tahap yang hanya menikmati alam tanpa melestarikannya.

Bagaimana caranya? Mari kita cari bersama-sama… saya bukan ahli, siapalah saya.

Salam damai…