Tag

, , , , , , , , ,

Melanjutkan posting sebelumnya, masih dari Jogjakarta dan sekitarnya. Kali ini saya sharing rekaman lensa saya dalam frame warna supaya kita bisa menikmati indahnya warna-warna yang menghiasi Jogjakarta tercinta.

Sedikit membahas foto hitam putih dan warna nih. Kenapa sih orang ada yang menampilkan foto hitam putih, ada yang warna. Kalau jaman dulu, alasannya cukup jelas: belum ada teknologi foto berwarna. Tapi ketika sudah ada foto berwarna, untuk apa orang masih mau membuat foto hitam putih? Barangkali itu tergantung pada apa yang akan disajikan oleh si fotografer, apakah ingin menampilkan sebuah kesederhanaan, sisi kejiwaan, keceriaan, dinamika, keindahan alam, atau apa. Dalam masing-masing tujuan tersebut, biasanya akan merujuk ke satu modus tertentu yang lebih berhasil menonjolkan sisi tersebut. Apakah itu dengan hitam putih, ataukah dengan warna.

Masih tanpa narasi yang terlalu panjang dan berbelit-belit (emang biasanya berbelit-belit ya? He he he…), monggo silakan dinikmati saja langsung. Enaknya dilihat (browsingnya) sambil santai di rumah, ditemani secangkir kopi dan gorengan secukupnya. Lebih enak lagi sambil pakai sarung dan diiringi kicauan burung. Ahh… nikmatnya.

Enjoy… silakan… monggo…

Ternyata Prambanan cukup indah dinikmati dari kejauhan di antara kabut pagi hari….

Keterlaluan deh kalau ngaku jadi orang Indonesia, sudah pernah ke Singapura, Malaysia, dan negara lain yang berlomba-lomba mengemis Rupiah dari wisatawan Indonesia, tapi belum pernah ke sini… Berbeda dengan Borobudur yang megah, maka Prambanan saya kategorikan sebagai candi yang cantik. Tidak salah kalau legendanyapun mengacu ke seorang putri yang cantik, Roro Jonggrang.

Pelataran Candi Boko, sekitar 5 km ke arah selatan dari Candi Prambanan. Lebih dari seribu tahun lalu, leluhur kita sudah mampu membangun candi yang indah ini. Bertingkat-tingkat dari bawah menuju ke atas, rupanya bangsa ini sudah terbiasa dengan birokrasi sejak jaman dulu ya.

Sekelompok anak-anak Jogja bermain bola di pagi hari, di pelataran Candi Boko.

Jadi ingat lagunya Indra Lesmana: biarkan aku kembali, bermain bernyanyi berputar menari… biarkan aku kembali…

Ah betapa nikmatnya masa kecil, tidak ada yang dirisaukan, hanya menikmati dunia ini.

Reruntuhan candi Boko yang belum tersusun rapi, setelah didera cuaca selama seribu tahun lebih dan terakhir diguncang gempa Jogjakarta beberapa tahun lalu. Tetap saja, keindahan itu masih terbayang jelas.

Selanjutnya, KEMBALI KE KOTA JOGJA…..

Masih dari perempatan benteng Vredeburg, di antara kawanan pengemudi becak yang menunggu pengguna jasanya baik itu untuk sekedar keliling jalan-jalan, atau apapun.

Gedung Bank Indonesia di senja hari, ketika begitu banyak kendaraan berseliweran di depannya menandakan roda ekonomi yang terus berkembang pesat. Salah satu pertanda keberhasilan orang-orang di dalam gedung itu dalam memberikan stimulus-stimulus ekonomi dan fiskal demi perkembangan roda ekonomi di kawasan Jogjakarta dan sekitarnya. (wah, dibayar berapa nih saya sama BI buat nulis seperti ini…)

Ini bukan rumah sakit, bukan juga sekolah jaman Belanda. Ini adalah sebuah selasar bangunan di dalam kompleks Benteng Vredeburg. Saya menerawang, di sini sekitar lebih dari 70 tahun yang lalu begitu banyak para inspektur VOC lalu lalang dengan baju rapi, sementara di luar sana rakyat Indonesia masih bertelanjang dada dan bersimbah peluh…

Nah, yang terakhir kali sebelum mengakhiri cerita indah dari Jogjakarta kita sudah sepantasnya pamit dan mohon ijin dulu sama yang punya dunia ini. Inilah sejoli yang sedang berbisik, “Dunia milik kita berdua sayang…”. Kita-kita ini hanya ngontrak, jadi musti ijin dulu… ha ha ha…

Indahnya menikmati Jogja, dalam pelukan sang terkasih, di antara reruntuhan Tamansari.

Hidup memang indah…

Life is beautiful…

Salam damai…