Tag

, , , , , , , , ,

Sudah cukup lama kamera beristirahat di lemari, kalaupun keluar lemari barangkali hanya sekedar untuk dokumentasi semata. Sudah saatnya kembali pada slogan “My Lens, My Eye”. Lensaku, mataku… gaya sedikit boleh dong.

Setelah rembugan dengan kawan-kawan kantor yang sama-sama hobi motret, akhirnya pada sepakat untuk ke Jogjakarta. Yuhu…. Kota yang tidak pernah membuat saya bosan dan selalu ingin saya datangi lagi, dan lagi, dan lagi.

Setiap kali ke Jogja, entah kenapa jiwa saya seperti mundur beberapa langkah menuju titik nol. Dan hal itu sangatlah menenangkan jiwa. Dari setiap sudut, lekuk, dan detil kota itu selalu ada saja yang membuat pikiran saya menerawang.

Kali ini saya tidak akan terlalu banyak bermain dengan kata-kata, tapi saya bagikan saja apa yang saya lihat melalui lensa kamera saya dan mari kita nikmati bersama-sama sekelumit yang terekam dari kota Jogja tercinta. Cerita di balik setiap foto biarlah kita terawang masing-masing, supaya kita bisa mengalami kenikmatan jiwa sesuai selera masing-masing. Asik kan? He he he… (bilang aja malas nulis)

Edisi kali ini yang hitam putih, supaya lebih bernuansa historis katanya.

Enjoy… Silakan… Monggo…

Dalam perjalanan dari Tamansari menuju ke Pasar Ngasem, pandangan mata nyangkut ke sebuah motor tua di sebuah rumah di belakang pasar. Milik seorang fotografer juga rupanya. Pak Marwan kalau nggak salah namanya. Di dalam rumah kamipun diceritakan pengalamannya memotret, dan motor yang dipajang itu adalah salah satu kenangan masa lalunya…

Skuter Bajaj, yang sepertinya lebih tua usianya dibandingkan mahasiswa-mahasiswa sekarang. Tapi lihatlah betapa body-nya masih sangat kokoh terlihat. Saya memiliki dugaan kuat, sang pemilik tentunya memiliki ikatan batin tertentu dengan sang tunggangannya ini. Terparkir di pojok Malioboro, menemani sang pemilik berbelanja. Ah betapa setianya…

Siapa bilang Jogja isinya hanya motor antik dan motor Jepang saja? Coba lihat yang satu ini. Harley coy… Weleh… mantep tenan. Cleguk….

Di sudut Pasar Ngasem, berderet 4 penjual burung. Setelah saya perhatikan (bahasa jawanya: di mat-matke…), itu ternyata 4 kendaraan parkirnya ngurut lho berdasarkan timeline penerbitannya. Coba lihat dari kanan ke kiri: sepeda onthel… lalu yamaha 70-an… lalu semacam Astrea 80-90an… dan terakhir yang paling kiri Yamaha tahun 2000-an. 4 generasi kendaraan roda dua, lengkap terpampang seperti museum hidup saja. Jangan salah, kalau kita terawang 5 tahun ke depan bisa jadi kendaraan yang di kanan justru masih lebih bertahan dibanding yang di sisi kiri. Itulah hebatnya kemunduran teknologi otomotif, he he he…

Sebuah persimpangan di dekat Terminal Malioboro. Yang satu menuju ke pusat transaksi barang-barang, dan yang satu (KATANYA) menuju ke pusat transaksi “jasa”. Malioboro sih sudah nggak perlu dijelaskan lagi. Nah yang satunya lagi, Pasar Kembang atau SarKem itu (KATANYA lagi) menjadi tempat transaksi jasa atau bahasa jawanya lokalisasi. Saya sendiri belum pernah tahu detilnya jadi nggak bisa cerita lebih banyak. Kalaupun saya tahu, saya nggak akan mengaku tahu. He he he…

Ini dia kantornya yang punya duit di negara ini, dari mulai dulu sampai sekarang. Berdiri dengan megah di ujung selatan Malioboro. Bangunannya yang indah dan bergaya kolonial jadi tempat yang cukup sering jadi tempat foto nih…

Nah kalau ini perempatan yang dari Malioboro mau ke arah keraton. Ramai banget, banyak yang berseliweran. Mulai dari mobil, motor, sepeda, becak, delman, hingga orang jalan kaki baik itu yang mau malam mingguan sampai yang mau jualan di Malioboro. Semuanya berjalan dalam irama Jogjakarta yang begitu tenang, damai, dan nyaman.

Jogjakarta memang berhati nyaman.

Salam damai…