Tag

, , , , , , , ,

Hari Minggu sore, kebetulan ada yang harus dibeli di supermarket terdekat. Meluncurlah kami berempat (sekeluarga) sore itu menjelang senja. Dalam mobil, entah dapat ilham atau ide dari mana tahu-tahu Sekarlangit anak saya yang sulung bertanya dengan nada mengafirmasi, “Pak, orang sabar kan disayang Tuhan ya?”. Dengan tanpa ragu-ragu langsung saya jawab, “Ya iya dong…”.

Sambil terus nyetir, pikiran iseng saya mau lanjut tanya ke dia, “Emang kalau orang nggak sabar nggak disayang Tuhan?”. Tapi daripada berkelanjutan nggak jelas untuk dia yang masih kelas 1 SD pertanyaan itu saya simpan saja dalam hati.

Habis itu saya jadi kepikiran sendiri…

… kalau orang sabar disayang Tuhan, orang nggak sabar nggak disayang Tuhan? …

… lha katanya Tuhan Maha Penyayang, kok bisa nggak sayang? …

… Tuhan Maha Pengampun, kok bikin neraka? …

… Tuhan itu menguasai jagad raya, tapi kok ada istilah kaumKu? Berarti ada yang bukan kaumNya?…

… Tuhan tidak mau diduakan, katanya. Padahal orang yang dicap “menduakan” itu bukannya sedang menyembah apa yang dia percayai sebagai Tuhan juga? …

Syukurlah saya hidup di era 2000-an, di mana tidak ada lagi bidah-bidahan yang berujung ke hukum mati dengan dibakar atau dirajam. Paling-paling kalau ada yang tidak sependapat, ya saya bakal dikritik, apes-apesnya dicacimaki atau dicap murtad.

Tapi maksud saya sama sekali bukan itu, justru saya mempertanyakan lebih jauh… yang selama ini meng-humanisasi (entah benar apa tidak istilahnya) Tuhan itu siapa.

Sifat-sifat mengutamakan salah satu kaum, memberikan pembalasan atas kejahatan, dan hanya menerima satu cara untuk memuliakan namaNya, itu semua memang benar dari Sang Tuhan sendiri ataukah rekayasa dari orang-orang yang memposisikan diri sebagai wakilNya ya???

Kalau benar hanya AGAMA / SALAH SATU AGAMA yang bisa membawa manusia kepada Tuhannya, apa yang terjadi dengan jutaan / miliaran umat manusia yang hidup sebelum jaman agama itu hadir dunia?

Saya lebih merasa “adil” untuk tidak memprofilkan Tuhan sebagaimana kita manusia yang dilengkapi dengan rasa benci, cemburu, ingin balas dendam, dan lain sebagainya.

Maka dari itu, saya juga mulai berusaha untuk tidak menekankan ke anak saya bahwa orang sabar disayang Tuhan dan orang jahat dibenci Tuhan.

TUHAN MENCINTAI KITA SEMUA UMAT MANUSIA!!!

Salam damai.