Tag

, , , , , , , , , ,

.

Pulau Sepa 06.

Setelah lama direncanakan, akhirnya jadi juga outbound ke Pulau Seribu. Supaya maksimal, maka kami satu Divisi perginya ke pulau yang cukup jauh yaitu PULAU SEPA. Kalau masih terlalu dekat katanya banyak ketemu sampah.

Naik boat berkapasitas sekitar 40 orang, laut pagi itu sangat tenang nyaris tanpa ombak. Kami bisa leluasa jalan kesana kemari dalam kapal. Ada sih yang mabok laut, tapi hanya satu orang. Secara umum perjalanan ke sana sangatlah tenang dan damai. Perjalanan sekitar 1,5 jam dari Marina Ancol berlalu tanpa kendala yang berarti, kamipun sampai di Pulau Sepa dalam kondisi siap tempur.

Di pulau Sepa ini acara kami sebenarnya adalah outbound dan team building di Divisi kami. Tapi tahu sendiri, kalau sudah ketemu pantai maka pastinya lebih banyak acara hepi-hepi dibandingkan seriusnya. Dari mulai main bola, snorkeling, main air, main pasir, snorkeling lagi, banana boat, karaoke, snorkeling lagi, dan lagi… dan lagi…

Buat Anda yang sudah pernah menyelam, barangkali snorkeling bukanlah sesuatu yang istimewa. Tapi buat saya, pengalaman baru itu benar-benar mencengangkan. Berenang-renang bersama ikan di antara beberapa karang, di antara pasir putih dan laut yang biru… ah nikmatnya.

Supaya lebih mudah Anda bayangkan, begini saja saya jelaskan. Saya ini hobi banget motret, buktinya saya berangkat ke Pulau Sepa lengkap dengan peralatan kamera, wide zoom lens, fix lens wide apperture, telezoom lense, flash, dan tripod. Peralatan kamera memenuhi 2/3 tas sementara baju hanya 1/3 tas. Tapi apa yang terjadi? Selama hari pertama saya di sana, sama sekali tidak ada mood ataupun keinginan untuk motret. Yang ingin saya lakukan hanyalah bergaul dengan pasir, air, ikan, dan karang. Itu saja cukup!!!

.

Pulau Sepa 15Beningnya pantai di Pulau Sepa

.

Ya begitulah kira-kira beningnya air di pantai Pulau Sepa, wajar dong kalau saya jadi lupa sama kamera dan tiba-tiba lebih memilih untuk menyelam lagi… dan lagi… he he he.

Beberapa jam menyelam, setelah itu duduk santai di pantai sambil menikmati semilir angin segar (nggak segar-segar amat sih, angin lembab pantai lebih tepatnya). Sambil diiringi deburan ombak-ombak kecil, ditemani kelapa hijau yang segar. Mantaaaappp!!!

Istirahat sebentar saja sudah bisa mengembalikan tenaga untuk lanjut ke permainan berikutnya, BANANA BOAT!!!

.

Banana boat 04Masa kecil kurang bahagia sepertinya, he he he…

.

Esok harinya, barulah mood memotret sedikit mengintip di pojok jiwa saya. Coba jalan-jalan ke dermaga, bertemu beberapa orang yang memancing dan saling memotret sebagai kenang-kenangan dari Pulau Sepa. Secara umum saya lihat tidak banyak aktivitas mengambil ikan di sini, mungkin karena pulaunya kecil dan lebih merupakan pulau resort bukannya pulau nelayan. Sepertinya dermaga ini memang buat orang memancing saja akhir-akhir ini.

.

Pulau Sepa 10Burung yang menemani hunting saya di pagi itu…

(kelihatan nggak burungnya?)

.

Pulau Sepa 12Mengucap janji di ujung dermaga…

.

Setelah semua euforia itu mulai mereda, barulah muncul pertanyaan di benak saya “KOK KARANGNYA BANYAK YANG MATI YA???”.

Di salah satu atol sekitar 10 menit dari pantai pulau Sepa, masih saya jumpai karang-karang hidup dan ikan-ikan yang lebih besar jumlah dan ukurannya. Kondisinya agak berbeda dengan di pantai, di mana hanya sekitar 25% karang yang masih hidup. Kebanyakan sudah berupa karang yang mengering.

Apakah yang menyebabkan kematian karang-karang itu?

Apakah kedatangan saya ke pulau Sepa turut ambil bagian sebagai penyebab kematian karang-karang tersebut?

Bagaimana caranya ya supaya karang-karang yang indah itu tetap hidup? Kata orang-orang pintar kan sebagian besar oksigen yang kita hisap berasal dari tumbuhan laut.  Hal ini mengingatkan saya ke tulisan saya sebelumnya tentang mulai berkurangnya keindahan pantai Dreamland Bali (Bali never ending beauty… ).

Keseimbangan atau ekuilibrium manusia dan lingkungan, betapa sebuah kondisi yang sepertinya sulit sekali terwujud. Ada terlalu banyak kepentingan di sana, di mana alam selalu menjadi yang pasif. Begitu datang saatnya sang alam aktif bereaksi, barulah kita manusia kalang kabut.

Mudah-mudahan kita semua makin arif dalam mengeksplorasi alam yang dikaruniakan Tuhan kepada kita.

.

Pulau Sepa 16Diiringi renungan dari pinggir pantai…

.

.

Salam damai…