Tag

, , , , , , ,

Minggu-minggu ini media massa lagi ramai membahas kekerasan mahasiswa, antara UKI – YAI, dan Universitas Nurtanio Bandung.

Tawuran massal antara mahasiswa UKI dan YAI sudah melegenda. Saking melegendanya, orang sudah menjadi terbiasa dengan hal tersebut. Hebatnya, legenda jelek kok ya dibiarkan terus lho… Sementara itu, baru-baru ini ada lagi kasus Universitas Nurtanio. Melalui rekaman video, terlihat perpeloncoan semacam STPDN menghangat lagi.

Selama 1 minggu terakhir, sebuah stasiun televisi yang selama ini saya nilai paling aman untuk ditonton di ruang keluarga berulang kali mengulas masalah kekerasan di kalangan mahasiswa. Tapi lama kelamaan saya jadi bingung, kok cuplikan video yang penuh adegan kekerasan malah diulang-ulang terus menerus pada prime time.

Saya tidak menuduh atau menduga-duga, tapi saya rasakan kok stasiun televisi yang mengedepankan berita itu malah jadi menjual kekerasan untuk menarik perhatian penonton. Memang sih pertama kedua kali saya tertarik untuk nonton, tapi kok jadi diulang-ulang terus apa nggak malah bikin anak saya kebal rasa kalau dijejali tontonan seperti itu.

Sebelum lanjut, saya mohon doa Anda yang membaca tulisan ini supaya tulisan ini tidak dikategorikan pencemaran nama baik melalui media elektronik yang bisa dijerat dengan macam-macam pidana. Dan semoga stasiun TV yang saya maksud, yang sudah baik namanya sebagai stasiun TV berita tidak merasa disudutkan justru merasa diberikan kritik membangun dari penonton setianya.

Sekarang mari kita lanjutkan…

Untuk anak yang masih mencari bentuk mentalnya, segala input yang masuk ke dalam jiwanya akan diolah sedemikian rupa sehingga memberikan warna pada kepribadiannya. Pengalaman-pengalaman akan membekali dia dalam menghadapi berbagai hal dalam hidupnya.

Mari kita bayangkan apabila seorang anak dalam kesehariannya di ruang keluarga melihat hal-hal sebagai berikut di televisi (saya sebutkan 5 saja deh, silakan kalau mau ditambahkan).

  1. Majikan yang selalu menganggap rendah sang pembantu (yang ini ada di banyak acara sinetron, tidak perlu penjelasan panjang lebar)
  2. Anak-anak yang kurang menghargai orang tua (kalau pas browsing-browsing channel, hampir pasti ketemu adegan anak-anak lagi menunjuk-nunjuk muka orang yang lebih tua… apapun latarbelakang kejadiannya)
  3. Aksi-aksi yang over reaktif, over ekspresif, dan mendramatisir suasana (fiuh…. Jadi lebih sering melihat ekspresi meledak-ledak khas western atau melodrama ala India / oriental ketimbang melihat wajah-wajah adem ayem macam Adi Kurdi di layar kaca sekarang ini…)
  4. BANCI!!! (stok artis spesialis bencong makin over supply, makin nggak jelas fenomena bencong ini sesuatu yang normal apa nggak sih?)
  5. Perkelahian massal dan kekerasan mahasiswa dan pelajar (yang sangat saya sesalkan adalah penayangan yang berulang-ulang pada jam anak-anak menonton di stasiun TV yang selama ini saya kagumi)

Saya nggak berusaha (lagi) untuk menambah panjang tulisan tentang ANTI SINETRON, ANTI TV, dan lain-lain (untuk kasus no. 1 – 4). Tapi saya hanya mau mengungkapkan kekagetan saya, kok stasiun TV berita kesayangan saya agak keterusan dalam mempertontonkan tonjok-tonjokan di televisi (kasus 5).

Mungkin maksudnya untuk menyuguhkan fakta, tapi barangkali kita musti merenung lebih dalam lagi… sampai sebatas mana fakta-fakta yang kurang baik bisa ditayangkan di media massa tanpa membuat masyarakat menjadi terbiasa dan menganggap fakta tersebut merupakan kenyataan yang sudah apa adanya dan lumrah.

Untuk stasiun TV berita yang saya kagumi, bertahanlah pada idealisme sejati Anda. Jangan terpancing dengan rating yang menjerumuskan pada pembodohan masyarakat.

Salam damai…