Tag

, , , , , ,

Pulang dari menyelami indahnya laut Pulau Sepa, ternyata tidak hanya meninggalkan bekas yang mendalam di hati… tapi juga meninggalkan bekas luka yang cukup dalam di tangan. Auw, perih rasanya…

Demi menjaga selama masa pemulihan luka, terpaksalah untuk sementara waktu berpisah dulu dengan KRL tercinta dan lebih intim dengan mobil untuk sementara waktu. Daripada kesenggol-senggol di kereta nanti malah auw-auw sendiri, nggak lucu banget sepertinya.

Pagi-pagi jadi turut serta dalam program bersama memacetkan Jakarta, bersama ribuan mobil dan puluhan ribu motor menjejali jalanan Jakarta. Bawa mobil yang ukurannya cukup besar harus ekstra hati-hati di antara banyaknya motor yang berseliweran, mengasumsikan mobil-mobil sebagai benda statis yang harus dilewati. Kalau kurang hati-hati dan sabar, bisa macam begini kejadiannya (jadi ingat waktu saya ke India beberapa tahun lalu).

.

Delhi 12 smallKeributan kecil di pinggiran Delhi, dari dalam mobil yang saya naiki.

.

Nah… kalau sudah begitu kejadiannya, paling nggak jauh dari ribut-ribut. Kebetulan di India kondisi jalanannya mirip di Jakarta, semrawut. Kalau orang Jakarta senang klakson, nah orang India ini sekitar 2-3 kali lebih senang mengklakson dibanding orang Jakarta. Rame deh di jalanan.

Saya pernah baca (lupa di mana), bahwa untuk menilai budaya suatu bangsa maka lihatlah jalan rayanya. Sedikit banyak saya melihat kebenaran dalam generalisasi dalam kalimat tersebut. Memang ketika orang berada di jalan, nampaklah bagaimana dia memandang jalanan. Apakah jalanan dianggap sebagai media dan mobil/motor lain sebagai halangan, ataukah ada budaya yang lebih tinggi dari itu yaitu bagaimana etika pemanfaatan bersama dari sebuah jalan raya.

Ada satu kejadian lucu yang saya ingat ketika saya melewati jalanan sekitar Cipinang. Di antara deretan mobil yang mengantri memasuki terowongan bawah By Pass, dari arah kiri meluncur dengan cepat sebuah metromini arah Kampung Melayu dan memotong dengan cepat di mulut terowongan. Wuzz… mantap….

Di kaca belakang metromini tersebut tertulis “Love is patient, Cor 13:4”. Walah!!!!

Sebuah wejangan yang sangat adiluhung tertempel dengan jelas di sebuah metromini yang supirnya sangat bertolak belakang dengan wejangan tersebut. Sama sekali tidak ada kesabaran dalam kelakuannya di jalan raya.

Yah, mungkin dia betul-betul diburu setoran… kalau nggak masuk setoran bisa nggak makan nanti anak istrinya. Atau mungkin dia lagi kebelet. Atau belum sarapan. Dan berbagai “atau” lainnya, demi mencoba untuk tetap berpikiran positif dari sebuah kelakuan negatif yang dipertontonkannya.

Metromini tersebut, dengan segala kontroversinya telah mengingatkan saya kembali bahwa Kasih itu Sabar… bawa mobil itu harus sabar. Dan juga mengingatkan untuk selalu mencoba berpikiran positif kepada orang lain, supaya jiwa kita tetap segar sepanjang hari.

Kasih itu sabar…

Salam damai.