Tag

, , , , , , , ,

.

... 250 tahun Guinness ...

... 250 tahun Guinness (1759 - 2009) ...

.

.

Sebelum baca tulisan ini, mohon dipastikan Anda sudah cukup umur. Responsible drinking…

Bulan ini, produk yang saya kelola selesai masa promonya. Lumayan, dengan kemasan promo yang dibundle dengan handphone yang sedang menggila saat ini berhasil didapatkan cukup banyak pelanggan baru. Jumlah pastinya masih sedang dihitung, tapi 2 miliar saja sih lewatlah untuk tahun ini. Thank God…

Siang tadi, sambil istirahat sejenak dari hiruk pikuk promo saya sempatkan ke basement sebentar cari seteguk minuman yang menyegarkan. Saya ambil sekaleng Guinness Beer, biar agak plong dulu nih pusing di kepala.

Sambil duduk santai, saya baca di kaleng bir tadi: EST 1759 (Established 1759). Well, 250 tahun !!!

Kalau diambil rata-rata jeda antar generasi itu 30 tahun, maka si Guinness ini sudah melampaui lebih dari 8 generasi sepanjang perjalanannya di dunia ini. Dimulai dari produksi skala kecil di Irlandia, hingga merambat ke segala tempat di penjuru dunia. Dari seorang Arthur Guinness di sebuah sudut kota Dublin, hingga diteruskan oleh anaknya, kemudian cucunya… hingga kini telah dinikmati di 150 negara, dengan sekitar 10 juta gelas bir per hari dikonsumsi di seluruh dunia.

Untuk bisa menjalani rentang waktu sepanjang itu, tentunya ada JIWA yang mewarnai korporasi tersebut. Kalau orang marketing mendewakan BRAND sebagai inti dari sebuah produk, maka para strategist dan ahli organisasi sangat mendambakan adanya sebuah ROH atau JIWA yang mewarnai hati masing-masing stakeholder dari sebuah korporasi. Pada level ini, sudah susah untuk dibedakan apakah “itu” sebuah perusahaan, sebuah produk barang/jasa, sebuah komunitas, hobi, dan lain-lain. Batasan-batasan antara produsen dan konsumen sudah sangat samar. Ketika sang konsumen dengan bangga menyatakan kepuasannya terhadap sebuah produk kepada orang lain, maka sang konsumen tersebut sudah bukan lagi 100% konsumen.

.

Segelas kenikmatan...

Segelas kenikmatan...

.

Kembali ke masalah jiwa atau roh dari sebuah korporasi, Guinness bisa disejajarkan dengan nama-nama besar seperti Harley Davidson, Levi’s, atau Marlboro. 3 nama besar yang saya sebut terakhir, bersama-sama dengan Guinness telah cukup menancap di sanubari (terutama) para lelaki. Jiwa maskulin hingga macho mengalir begitu saja setiap kali keempat merk tersebut menghampiri kita. Mengendarai Harley Davidson, mengenakan celana Levi’s, dengan sekotak Marlboro di kantung, dan berhenti sejenak melepas dahaga dengan segelas draught Guinness.

Begitu indahnya imajinasi tentang maskulinitas membayang di benak kita, dan hal itu tidak bisa diciptakan dalam waktu sekejap. Butuh rentang waktu yang sangat panjang, dan konsistensi dari korporasi itu sendiri. Mari coba kita bayangkan, selama 250 tahun spirit atau jiwa Guinness telah menginspirasi seluruh karyawan dan konsumen dari bir tersebut. Dari Dublin Irlandia, hingga ke seluruh pelosok dunia. Bisa dibayangkan berapa besar armada yang dibutuhkan untuk distribusinya.

Dengan meneguk Guinness, seolah-olah kita menyatu dengan mereka, menyatu dengan pribadi-pribadi terkenal yang juga meminum Guinness pada masa mereka… ah indahnya…

Meneguk segelas Guinness, bukan hanya sekedar segelas bir saja yang kita nikmati… tapi juga kenikmatan akan imaji yang terbentuk dari Guinness itu sendiri yang tidak bisa diterangkan secara gamblang, dan hanya bisa dirasakan. Sama halnya menjelaskan bagaimana nikmatnya menyelam di Bunaken kepada orang yang bahkan belum pernah melihat pantai. Sejuta kata tidak akan menjelaskan lebih baik daripada sesaat pengalaman langsung.

.

Responsible Drinking

Responsible Drinking

detil note di bawah iklan Responsible Drinking:guinness_stop_signs1

.

Sekarang bagaimana dengan etika dan tanggung jawab moral? Dalam hal ini memang produsen bir atau rokok pasti sedikit banyak musti hati-hati mengingat ini isu sensitif.

Dengan berbagai aksi Corporate Social Responsibility dan slogan Responsible Drinking, Guinness telah menempatkan batas yang jelas bagi siapa yang berhak merasakan kenikmatan segelas Guinness. Kenikmatan yang bertanggungjawab tentunya… Sudah jelas dan nyata, siapa yang boleh mengkonsumsi dan sampai sebatas mana konsumsi yang disarankan. Yang dicari tentunya adalah kenikmatan, bukannya yang lain…

Sekali lagi salut untuk Guinness, yang telah sukses mengarungi kurun waktu 250 tahun di dunia ini. Selama 250 tahun Guinness telah bertransformasi, atau lebih tepatnya berevolusi dari sebuah produk bir menjadi sebuah spirit yang melegenda.

250 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjaga sebuah reputasi kelas dunia.

250 tahun bukanlah waktu yang lama untuk menumbuhkan roh yang menjiwai dunia ini.

250 tahun sudah Guinness tumbuh menjadi sebuah jiwa yang melegenda.

250 tahun adalah sebuah sejarah panjang, sebuah spirit yang bisa kita nikmati melalui segelas Guinness.

Mari kita rasakan kenikmatan yang bertanggungjawab…

Sebuah wisata jiwa, menikmati spirit dalam segelas bir…

Salam damai…

.

(tulisan ini didedikasikan untuk lomba blog 250 tahun Guinness, hadiahnya lumayan… tolong disupport & didoakan ya…)

.