Tag

, , , , , ,

Cerita punya cerita, putri sulung saya Sekarlangit sudah menginjak kelas 2 SD. Apa arti menjadi siswa kelas 2 baginya? Banyak hal baru tentunya, tapi yang menarik perhatian saya adalah komentarnya dengan nada sebal, “Itu anak kelas 1 ngapain sih mondar-mandir terus di depan kelas?”.

Dari 1 kalimat singkat tersebut, saya mensinyalir ada beberapa hal di benaknya:

  1. Merasa lebih superior.
  2. Merasa terganggu dengan ulah junior.
  3. Sedikit lupa bagaimana dulu waktu dia masih junior.

Dahsyat juga ya, baru kelas 2 sudah tumbuh benih-benih senioritas… musti hati-hati nih, handle with care!!!

Kemudian saya jadi ingat jaman kuliah dulu, di mana kebetulan kampus saya termasuk yang Opspeknya lumayan sangar. Dari tahun ke tahun, turun temurun, tradisi kekerasan sudah melegenda. Pada angkatan saya, setelah mengalami kekerasan itu muncul 2 pilihan yang membuat kami (tepatnya saya) harus memilih:

  1. Meneruskan tradisi itu, saya sudah “dibegitukan” maka saya harus “membegitukan”…
  2. Menghentikan / mengganti tradisi itu, saya sudah merasakan “dibegitukan” maka jangan sampai orang lain “dibegitukan” juga…

Saya rasa, kasus di SD maupun kampus seperti yang saya ceritakan ini berlaku juga di kehidupan sehari-hari baik itu di rumah, lingkungan, maupun kantor. Namanya manusia, punya berbagai motif dan latar belakang… kadang memaksa dia untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang lain (kita). Demi ketenangan hati, baiknya kita pikir saja bahwa dia itu terpaksa melakukan hal yang tidak enak itu. Sekarang pilihannya bagi kita adalah, akan membalas tindakan itu atau tidak.

Pilihan tersebut mengingatkan saya kepada sebuah nasihat singkat dari mendiang Mahatma Gandhi:

An eye for an eye makes the whole world blind.

an eye for an eye makes the whole world blind

an eye for an eye makes the whole world blind

Ketika kita melakukan hal yang rendah kepada orang yang telah merendahkan kita, maka dengan sadar dan sukarela kita telah merendahkan diri kita sejajar dengan dia. Marilah kita sama-sama mencoba untuk tidak membenci “musuh” kita, bukanlah orangnya yang harus kita benci… tetapi perilakunya.

Susah ya… MEMANG SUSAH!!! Saya juga tidak akan mengaku-aku sudah bisa melakukan hal itu, bahkan masih sangat jauuuuuhhhh dari situ. Jadi mohon maaf ya, barangkali kalau Anda menyakiti saya maka saya masih akan dengan spontan kembali menyakiti Anda. Peace….🙂

Karena hanya orang kuat yang bisa memaafkan…

Salam damai…