Tag

, , , ,

IMG_0163a

Baru saja saya membaca berita di Kompas.com –> SMA Santa Ursula Peringkat 1 DKI.

Hebat… Selamat buat SMA Santa Ursula

Sebagai orang tua, pastinya saya ingin nantinya anak-anak saya (Sekar & Lintang) bisa sekolah di sana. Turut serta dalam pembelajaran, pendisiplinan, dan pendewasaan di sekolah tersebut. Pertanyaannya adalah: BISA NGGAK??? (alias diterima apa tidak…).

Ketika anak kita masih bayi atau balita, maka yang ada di benak kita adalah bagaimana semaksimal mungkin memberi asupan gizi dan stimulus intelektual. Paling tidak itulah yang ada di benak saya. Intinya, anak saya harus mendapatkan apa yang tidak/kurang saya dapatkan semasa balita dahulu.

Nah sekarang, ketika anak sudah menganjak usia sekolah. Ketika anak sudah mulai bisa melakukan respons atas input yang saya berikan kepada mereka. Ketika secara cukup dewasa mereka mulai memberikan pendapatnya tentang bagaimana dia akan menjalani hidupnya. Ketika mereka mulai bisa mengatakan “Tidak” pada saya. Wah, mulai pusing juga nih… Celakanya lagi, kadangkala kalau dipikir apa yang mereka ungkapkan dan utarakan itu benar adanya.

Salah satu problematika klasik yang jadi seni tersendiri adalah: Main vs Belajar.

Anak, dengan segala kreativitasnya pastilah berusaha memaksimalkan waktu bermain. Entah itu dengan mengorbankan waktu belajar, atau dengan cara lain. Dari mulai mengendap-endap lari ke rumah teman, kucing-kucingan kalau dipanggil pulang, dan berbagai kreativitas lainnya. Kacau… bagaimana mau masuk Santa Ursula kalau begini caranya…😦

Pusing… bingung…

Saya jadi berpikir, kalau untuk masa balita prinsipnya adalah perbaikan generasi – anak saya harus mendapatkan apa yang tidak/kurang saya dapatkan semasa balita dahulu… barangkali untuk usia anak yang sudah lebih besar prinsip dan pola pandangnya harus sedikit berubah:

  • Bagaimana caranya anak saya mendapatkan apa yang saya rasakan dahulu?


  • Bagaimana mengingat kembali perasaan seorang anak menghadapi dunia ini?

Saya coba pikir-pikir lagi, tentang perbandingan kondisi saya dulu dan dia sekarang… Begitu banyak pertanyaan lalu lalang di benak saya.

  • Kalau saya dulu menghabiskan sore-sore saya bermain dan berlari-lari di antara rel kereta dan lapangan bola, kenapa pula anak saya tidak boleh menghabiskan sore harinya dengan bermain di sepetak kuburan adat bersama teman-teman seusianya di kampung?

  • Kalau saya dulu merasakan pergaulan dengan teman dari berbagai lapisan sosial – dari mulai yang alim hingga yang bandit anak, kenapa pula anak saya harus fokus pada teman-temannya yang memiliki status sosial dan pendidikan setara?

  • Kalau saya dulu merasakan pengalaman harap-harap cemas mencuri mangga, kenapa pula tidak saya “beri kesempatan” anak saya mencicipi sensasi perasaan tersebut di jiwa kanak-kanaknya?

  • Kalau saya dulu merasakan bagaimana “ngiler”nya melihat es krim yang barangkali tidak sebulan sekali saya rasakan, apakah saya harus hilangkan keindahan rasa itu dengan membebaskan anak saya membeli es krim setiap hari?

  • Ketika saya ingat betapa dahulu saya sangat merasa bosan berada dalam misa di gereja dan mendengarkan khotbah yang tidak dimengerti otak saya dulu, lalu kenapa pula saya harus bersikeras meminta anak saya duduk 1,5 jam di misa bersama saya mendengarkan khotbah yang saya yakin belum dia pahami sepenuhnya?

  • Kalau saya dulu bisa dikatakan tidak pernah belajar hingga kelas 6 SD ketika akan ujian kelulusan, haruskah saya mulai memaksa anak saya belajar 2-3 jam sehari dari kelas 2 SD? Belum lagi dengan tambahan les ini dan itu yang menyita waktu luangnya di siang/sore hari ketika seharusnya dia tidur untuk memberi kesempatan bertumbuh bagi otaknya?

  • Kalau saya dulu merasa betapa susahnya menjadi seorang anak di antara begitu banyak aturan, norma kesopanan, dan tuntutan… maka sejauh manakah yang namanya aturan, norma kesopanan, dan tuntutan harus saya berikan kepada anak saya sekarang? Pernah ketika masa anak-anak, saya sampai berpikir, “Ah, barangkali kalau jadi orang dewasa itu nggak pernah salah atau dosa ya…”.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas seringkali datang dan pergi ke benak saya…

Ketika saya sedang merenung kebijakan apa yang akan saya terapkan, muncullah di hadapan mata saya 2 wajah lucu tak berdosa yang selalu mengajak saya bermain dan tertawa…

6780_1169291759918_1456695237_455751_6135630_n

Menjadi orang tua memang bukan hal yang mudah… tapi saya juga selalu ingat bahwa menjadi anak juga bukan hal yang mudah.

Bahwa anak kita juga seorang manusia, punya hati jiwa dan pikiran. Mereka bukanlah kertas putih yang bebas kita tulis semau kita.

Saya sendiri lebih senang memperlakukan mereka sebagai sesama manusia. Mau diterima di Santa Ursula atau tidak itu adalah hasil, tapi yang penting adalah proses menuju ke sana. Dan proses itu dijalani sebagai kerjasama sesama manusia.

Salam damai…