Tag

, , , , , , , , , ,

Ada 2 mobil bagus nih… silakan dilihat-lihat, dinikmati, dimimpi-mimpikan…

Mobil 1

Mobil 1

Mobil 2

2

Cleguk… 2-2nya sangat futuristik, berotot, dan menjanjikan performa yang dahsyat. Kalau ada duit yang tidak berseri, barangkali sudah diangkut keduanya ke garasi. Tapi kalau duitnya cuma cukup untuk beli 1, yang manakah yang menurut Anda lebih cool? Manakah yang akan Anda beli? Manakah yang Anda rela untuk membelinya dengan harga yang lebih mahal?

Memang agak sulit untuk menentukan mana yang lebih prestisius di antara Mobil1 dan Mobil 2.

Sekarang fotonya saya tampilkan lagi, mudah-mudahan bisa membantu Anda mempersepsikan lebih baik antara kedua mobil tersebut.

Mobil 1 (revealed)

3

Mobil 2 (revealed)

4

“Sebelumnya, saya bukan bermaksud mendiskreditkan salah satu merk mobil tertentu. Saya hanya ingin meninjau dari sisi marketing dan brand image.”

Sekarang, ketika muncul 2 buah emblem di grill kedua mobil tersebut bagaimanakah persepsi Anda terhadap kedua mobil tersebut? Dalam benak saya, langsung terbentuk persepsi berupa kecenderungan untuk memposisikan Mobil 2 di atas Mobil 1 dalam hal performansi, dan tentunya harga. Artinya, andaikan keduanya memiliki spesifikasi di atas kertas sama 100% – saya tetap RELA mengeluarkan uang lebih banyak untuk membawa pulang Mobil2 dibandingkan Mobil 1.

THE POWER OF MARKETING… itulah salah satu buktinya…

Sekarang saya mau share lagi sekelumit fakta yang saya dapat dari sumber lain: Blog Suami Gila di mana didalamnya ada komentar dari Pandji Pragiwaksono sebagai berikut (saya copy di bawah).

bangsa Indonesia itu ga usah di debat kekayaannya.
Kita punya bahan mentahnya.
Tapi utk menang dalam berbisnis, bukan hanya butuh bahan dasar/mentahnya.
Ada ilmu marketing.
Ada desain.

Orang suka bilang: Beli dong produk Indonesia, orang Nike aja made in Indonesia!

Padahal, bukan itu masalahnya!
Cth: Taukah elo pabrik dan pekerja yang bikin Nike “made in Indonesia” sama dengan yang bikin LEAGUE.
Sebuah merk sepatu olahraga Indonesia.

TEMEN GUE DESAINER PRODUK yang kerja disitu.

Apakah elo beli?
Kenapa?
Wong yang bikin sama kok.

ELo ga beli, karena kekuatan marketing LEAGUE tidak sebesar NIKE.

Kembali nyata sekali, bagaimana MARKETING membius kita para konsumen. Dalam marketing, dicari upaya untuk menembus batas kesadaran konsumen supaya membeli barang/produk yang dipasarkan. Apalagi di era digital ini, para ahli marketing sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Digital Marketing dan Community Marketing. Sekarang bukan lagi eranya produsen mengiklankan barang, tapi lebih mengandalkan testimoni, sharing, dan komunitas.

Community Marketing ini ternyata sudah cukup lama diprediksi oleh JOGER (Pabrik Kata-Kata dari Kuta Bali). Saya masih punya kaos Joger yang saya beli tahun 2001 lalu yang tulisannya berintikan Community Marketing –> “Marketing gaya Joger adalah bagaimana caranya menipu konsumen secara baik-baik, legal, dan menyenangkan. Di mana konsumen pada akhirnya secara sukarela dan bertanggungjawab ikut mempromosikan penipuan-penipuan itu…”.

Dikemas dengan gaya yang kocak, tapi pada dasarnya itulah intisari dari Community Marketing.

Kembali ke masalah bius-membius… saya sendiri sebagai orang Marketing berusaha sekuat mungkin menghadapi pembiusan-pembiusan yang dilakukan oleh rekan-rekan Marketing dari pelbagai penjuru dunia. Tapi saya juga manusia, punya spot-spot tertentu yang mudah “dimakan” oleh para ahli marketing. Saya masih ingin punya mobil V12 – 6000 CC yang minumnya harus Pertamax Plus dengan konsumsi 1 liter untuk 4 km. Saya masih ingin membuka lahan seluas 10 hektar di kawasan Puncak untuk membangun vila dan tempat berlari untuk anak-anak saya. Saya masih selalu ingin mengkonsumsi buah-buahan impor, yang membutuhkan bahan bakar tidak sedikit untuk mengangkut dari negara asalnya.

Di tulisan sebelumnya, saya pernah sharing tentang Over Consumption. Ketika para pakar marketing dengan suksesnya meleverage tingkat konsumsi publik, walaupun dengan background indah tentang berputar kencangnya roda ekonomi… pada akhirnya seluruh putaran itu mengorbankan satu pihak yaitu BUMI. Ketika kita sadar bahwa bumi ini bukanlah milik kita saja, tetapi juga milik anak cucu kita… maka itulah saatnya untuk sadar bahwa sudah saatnya untuk mengurangi konsumsi kita.

Wejangan Mahatma Gandhi berbunyi, “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed”.

Mudah-mudahan kita selalu diingatkan akan apa yang kita butuhkan, dan tidak menyuburkan keinginan-keinginan yang pada skala global menyeret kita semua ke dalam kehancuran bersama.

Marilah belajar untuk tidak jadi KORBAN MARKETING…🙂

Salam damai…