Tag

, ,

Siang tadi, selepas makan siang dan ketika berjalan kaki memasuki halaman kantor saya sempat berhenti sebentar di sebelah palang pintu untuk kendaraan bermotor. Apakah yang membuat saya berhenti? Ceritanya begini…

Di depan penjaga pintu, ada 1 buah mobil dan 2 buah motor. Dalam rangka pengamanan ekstra ketat setelah kejadian yang menyedihkan lalu yaitu Bom di Mega Kuningan, maka dilakukanlah pemeriksaan terhadap 1 mobil dan 2 motor tersebut. Sang mobil tentunya memakan waktu lebih lama untuk diperiksa. Jadilah 2 pengendara motor lebih cepat selesai diperiksa, dan mobil masih diperiksa dengan seksama.

Apa yang terjadi kemudianlah yang membuat saya mengernyitkan dahi. Sang penjaga pintu masih memberhentikan 2 motor tersebut dan belum mau membuka palang pintu, karena masih menunggu mobil selesai diperiksa. Sementara kedua motor tersebut sudah siap untuk meluncur memasuki pelataran parkir. Kenapa juga 2 motor tersebut harus menunggu mobil selesai diperiksa? Apa urusannya? Teman bukan keluarga bukan… Aneh betul…

Saya jadi teringat masa-masa ketika saya masih suka naik motor ke kantor, memang ada sedikit diskriminasi yang dirasakan. Paling tidak ketika saya naik mobil, para petugas pintu lebih sopan dibandingkan ketika menghadapi saya di balik helm.

Mungkin hal-hal inilah yang membuat ada pepatah, “YOU ARE WHAT YOU DRIVE”.

YOU ARE WHAT YOU DRIVE

YOU ARE WHAT YOU DRIVE

Semoga saya bisa selalu ingat untuk tidak melihat orang dari asesorisnya, tapi tetap memandang setara semua manusia.

Mudah-mudahan hati saya bisa tetap memandang sama antara pembantu saya dan direktur saya, penjual kaki lima yang naik sepeda dan pengemudi mercedes benz S series, sang pendosa dan sang ulama…

Salam damai…