Tag

, , , ,

ciuman

Baru-baru ini, saya merasakan sebuah ciuman yang cukup membuat jiwa ini terharu. Rasa haru itu bukan karena “siapa” yang menciumnya, tetapi lebih dari pada itu… Begini ceritanya…

Sekitar 3 minggu lalu (seingat saya), virus radang tenggorokan dengan semangat juangnya yang tinggi berhasil mengalahkan daya tahan tubuh saya. Walaupun saya dijuluki “The Sporty” di Divisi tempat saya bekerja, tetap saja saya adalah manusia yang punya kelemahan. Barangkali kondisi fisik yang lelah dikombinasikan dengan makanan dingin dan merangsang tenggorokan, bersinergi menghasilkan turunnya daya tahan tubuh menghadapi ancaman laten virus.

Kira-kira hingga seminggu lamanya radang itu bertengger dengan damainya di tenggorokan saya. Nah dalam masa 1 minggu itulah, saya dengan sangat terpaksa dan berat hati menjaga jarak dari anak-anak saya yang sedang lucu-lucunya. Yang kecil (usia 11 bulan) sangat menggemaskan untuk dicium, sementara yang besar (menjelang 7 tahun) sedang aktif-aktifnya bergerak dan selalu mengajak beradu dan kontak fisik.

Suatu pagi, saya akan berangkat kerja. Kebiasaan cipika cipiki terpaksa dihentikan dulu sejak terdeteksinya radang tenggorokan tersebut.

Tiba-tiba Sekarlangit (anak saya yang besar) berseru, “Cium dulu…“.

Lalu jawab saya, “Jangan dulu, Bapak belum sembuh betul… Nanti nular.”.

Entah ada dorongan apa dalam hatinya tiba-tiba dengan penuh semangat dia merengkuh badan saya sambil berkata, “Ah biarin!!!“.

Lalu terjadilah ciuman yang begitu mengharukan hati saya tersebut. Ceprot!!! Pipi kanan. Ceprot!!! Pipi kiri…

Hati saya serasa melambung tinggi, kemudian jatuh di awan yang selembut kapas dan seperti tiada dasar… Ha ha ha, sok puitis nggak papalah wong mumpung lagi bombong kalau orang jawa bilang (bombong itu apa ya? coba anda google sendiri deh, susah jelasinnya).

Mungkin umumnya cipika cipiki dengan anak itu lumrah, tapi kali ini ada yang membuat berbeda bagi saya.

  1. MAAF. Belum lama sebelum peristiwa ciuman yang mengharukan itu, saya sempat bersitegang dengan Sekarlangit anak saya. Tapi pada saat itu, sudah larut entah ke mana segala amarah dan kekesalannya kepada saya yang barangkali dianggap sering mengekang jiwa ingin tahu dan ingin bebasnya itu… Barangkali MAAF seperti itulah yang dimaksudkan dengan maaf yang sebenar-benarnya. Plas!!! hilang tanpa bekas…
  2. PENGORBANAN. Bahwasanya dengan pengetahuan yang dimiliki anak saya bahwa ciuman itu berisiko menularkan penyakit, dia menihilkan bahaya itu demi sebuah cipika cipiki sebelum saya berangkat kerja dan dia berangkat sekolah. Cinta memang butuh pengorbanan, begitu kata orang dalam roman-roman itu…

CINTA memang butuh MAAF dan PENGORBANAN.

Dan pagi itu saya berangkat bekerja dengan bekal yang sangat indah, yaitu rasa cinta… dan rasa dicintai.

SALAM DAMAI…