Tag

, , , , , , ,

Make a wish...

Make a wish...

.

Tanggal 7 Oktober 2009 lalu, genap 1 tahun anak bungsu saya: ANASTASIA LINTANG PRADARATRI.

Dirayakan kecil-kecilan di rumah, pesta mungil itu dihiasi dengan sebentuk kue tart – tumpeng nasi kuning lengkap dengan mie panjang umur – dan beberapa kado untuk si kecil Lintang. Tampak jelas diwajahnya, betapa acara kecil itu sangatlah membahagiakan hatinya. Apalagi setelah kado-kado itu terbuka, dan sepertinya anak usia 1 tahunpun sudah paham bahwa pesta dan kado-kado tersebut didedikasikan hanya untuk dirinya.

Masih belum puas rasanya saya melihat roman muka yang begitu ceria diwajahnya, manakala dia mendapati dirinya di antara kue, tumpeng dan kado-kado untuknya walaupun dalam jumlah yang tidak seberapa.

.

I'm happy!!!!

I'm happy!!!!

.

Senyum itu begitu lebar… senyum itu begitu lepas… melepaskan segala kepenatan di badan dan jiwa saya malam itu. Saya tidak tahu persis, apakah senyum itu sebagai tanda kesenangan akan hadiah dan kue ulang tahun ataukah lebih ditujukan kepada besarnya perhatian dan kasih sayang yang malam itu 100% ditujukan kepadanya.

Melihatnya tersenyum begitu ceria, kembali mengingatkan saya akan KEAJAIBAN CINTA.

Getaran cinta itu muncul bukan hanya setiap kali melihat atau menyentuhnya, tetapi juga setiap kali mengingatnya. Gejala-gejala yang timbul akibat rasa cinta ini, sungguh ajaib, begitu berbeda satu sama lain.

Rasa cinta yang saya rasakan kali ini sangat berbeda dengan yang dirasakan anak muda. Di mana di antara ratusan teman wanitanya di sekolah tetapi entah kenapa hatinya hanya tertambat kepada seorang gadis saja. Apakah itu karena kecantikannya, kepintarannya, kelembahlembutannya, ataukah apa… Tapi yang pasti segala gerak-gerik sang gadis akan menstimulasi gejolak di hatinya. Bayangan akan menemui sang gadis esok hari di sekolah selalu menggelayuti angannya setiap malam. Bukan, bukanlah reaksi kimia seperti “butterfly in the stomach” dan bunga-bunga romantisme yang saya rasakan kali ini…

Rasa cinta yang saya rasakan kali ini sangat berbeda dengan yang dirasakan seorang calon pengantin. Di mana tiba-tiba terbentang dihadapannya sebuah masa depan yang barangkali tidak pernah dia bayangkan atau pikirkan sebelumnya. Bahwa dari berbagai pilihan hidup, akhirnya dia memutuskan untuk memilih jalan hidup yang satu itu untuk sepanjang sisa hidupnya. Memandang pendamping hidupnya yang juga telah bersiap mengarungi kehidupan bersama di dunia ini, sungguh merupakan perasaan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Akan tetapi, bukanlah perasaan cinta seperti itu yang saya rasakan kali ini…

Rasa cinta ini, tanpa mengesampingkan perasaan cinta yang lain, ibarat rasa cinta yang lahir dari dalam diri kita sendiri. Membayangkan, mengingat, memikirkan, memandang, menyentuh, sebentuk mahluk yang ada di dunia ini sebagai hasil dari keberadaan kita… sungguh bukanlah perasaan yang ringan.

Dia (mereka) ada karena saya…

Lebih daripada itu, dia adalah saya dan saya adalah dia…

Mereka adalah saya dan saya adalah mereka…

Apakah di dunia ini yang tidak sanggup saya korbankan demi kebaikan dia (mereka)…

Yang lebih ajaib lagi, perasaan cinta itu datang dengan bentuk yang sangat unik dan beraneka ragam. Perasaan yang saya rasakan anak yang satu, akan berbeda dengan kepada anak satunya. Keduanya merupakan perasaan cinta yang sama dasar dan konsepnya, tetapi entah bagaimana keduanya sanggup mengukir hati saya dengan cara yang berlainan. Dan kedua cara tersebut sama-sama indahnya…

Barangkali, itulah sekelumit kecil dari megahnya Keajaiban Cinta.

Salam damai…